The Swordless Samurai, Intisari Kepemimpinan Hideyoshi, Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVII

Hideyoshi adalah pemimpin paling hebat dan legendaris dalam sejarah Jepang.

Lahir dari keluarga papa di Nagoya tahun 1536 yang sama sekali tidak mendukung karirnya sebagai orang terkemuka.

Posturnya pun pendek, tidak atletis, tidak berpendidikan dan bahkan berwajah buruk. Pokoknya, semua kejelekan fisik ada pada dirinya.

Daun telinga besar, mata dalam, tubuhnya kecil, wajahnya merah dan keriput membuatnya tampak seperti kera. Julukan "monyet" yang diberikan orang melekat seumur hidupnya.

Tingginya yang hanya 150 senti dan berbobot 50 kilogram serta bungkuk membuat peluangnya tertutup untuk berkarir di militer.

Meski begitu, ia mampu meniti tangga menuju puncak kekuasaan bak meteor. Ia berhasil menyatukan negeri yang sudah tercabik-cabik perang saudara selama lebih dari seratus tahun.

Kok bisa?

Berbekal kemauan sekeras baja, otak yang setajam silet, semangat yang tak kunjung padam, serta wawasan yang mendalam tentang manusia membuat Hideyoshi mampu "membuat orang-orang yang meragukannnya menjadi pengikut setia, pesaing menjadi kawan dan lawan jadi kawan."

Tidak memiliki kemampuan bela diri, sang "samurai tanpa pedang" ini berhasil mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru dan menjadi penguasa seluruh Jepang.

Sudah tak terhitung kisah hidupnya diabadikan dalam sejumlah biografi, novel, drama, film, bahkan video game.

Sebagai bangsa yang "katanya" sedang krisis kepemimpinan, kita nampaknya perlu belajar intisari kepemimpinan dari warisan luhur bangsa Asia ini.

Berikut ini adalah intisari kepemimpinannya yang bisa diterapkan dalam segala aspek kehidupan kita, termasuk sebagai pemimpin bisnis.

- Keberuntungan memihak kepada mereka yang berani. Pemimpin mesti berani membuat keputusan. Bertindaklah berani pada saat-saat kritis.
- Praktekkan pandangan ke depan. Pilihlah pemimpin yang memiliki visi.
- Pemimpin harus memiliki aspirasi dan dedikasi. Lakukan segalanya demi tugas yang sedang dikerjakan.
- Jika kau memiliki aspirasi untuk memimpin, cobalah berusaha untuk menonjol. Buatlah dirimu berbeda dari yang lain dengan menggali kemampuan alamiahmu.
- Ingatlah rahasia dalam melayani. Kesampingkan kepentinganmu sendiri demi kepentingan pemimpinmu.
- Hadapi setiap tugas dengan tekad yang mantap.
- Ingin punya pengikut yang loyal? Jadilah pemimpin, bukan atasan.
- Peliharalah jaringan asetmu yang paling berharga, jaringan personal.
- Pemimpin yang bijaksana dan berstrategi mampu melakukan persiapan dengan matang dan bertindak berani.
- Pemimpin yang cerdas akan membalikkan situasi, mengubah kelemahan menjadi keunggulan.
- Laksanakan komitmen. Pertaruhkan semua untuk memenangkan semua.
- Bertindaklah lebih awal untuk selesai lebih awal.
- Ubahlah kesialan menjadi keberuntungan.
- Fokuskan pada tindakan memberi.
- Jadilah yang pertama dalam memaafkan.
- Untuk mendapatkan kepercayaan, beri kepercayaan.
- Gunakan informasi untuk mengasah persepsimu.

Masih banyak lagi intisari kepemimpinan yang bisa dipelajari dari buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit RedLine Publishing. Untuk lebih lengkapnya silakan dibaca sendiri. Hehe...

Dengan gaya bercerita, buku ini menjadi asyik untuk dibaca. Kita seperti larut ke dalam situasi dan masuk ke dalam cara berpikir pemimpin yang inspiratif ini.

Sebagai pemimpin bisnis, contoh-contoh kejadian nyata seperti ini sangat membantu saya di dalam keseharian mengelola bisnis dan mengambil keputusan.

Saya sendiri merasa mendapat kehormatan karena diminta untuk memberikan endorsement untuk buku ini bersama Prof. Dr. I Ketut Surajaya, MA, Arvan Pradiansyah, Andy F. Noya, Ary Ginanjar Agustian dan Yovie Widianto.

Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,

Roni
www.manetvision.com
www.twitter.com/roniyuzirman

Apakah Saya Cocok jadi Entrepreneur? Jawablah Pertanyaan Ini


Cukup jawab YA atau TIDAK saja


1. Saya berkemauan keras


2. Saya punya alasan yang sangat kuat


3. Saya suka tantangan


4. Saya lebih suka bertindak ketimbang berteori


5. Saya bertanggung jawab penuh terhadap diri dan keluarga


6. Saya tidak suka diperintah dan diawasi


7. Saya suka belajar dari kesalahan


8. Saya suka mengambil inisiatif


9. Saya berpikiran terbuka (open minded)


10. Saya mudah beradaptasi dan bekerja sama dengan orang lain


12. Saya punya ide-ide baru


13. Saya selalu melaksanakan keputusan yang telah dibuat


14. Saya selalu melihat masalah sebagai tantangan


15. Saya suka mempelajari hal-hal baru


16. Saya berani mengambil risiko


17. Saya suka mengikuti intuisi (kata hati)


18. Saya tidak peduli dengan pendapat negatif orang lain


19. Saya selalu ingin tahu


20. Saya ulet, gigih, tidak mudah menyerah


21. Saya dapat menguasai emosi


22. Saya percaya akan diri sendiri


23. Saya punya keyakinan yang kuat


24. Saya punya impian yang jelas


25. Saya bersedia menunda kenikmatan dan berkorban untuk mengejar impian


26. Saya punya model yang menjadi inspirasi


27. Saya suka bekerja keras


28. Saya mandiri, tidak suka bergantung kepada orang lain


29. Saya selalu berpikir positif


30. Saya percaya dengan takdir Tuhan bahwa saya dilahirkan untuk jadi pemenang


Nilai:


Jika anda menjawab YA sebanyak:


- 26 atau lebih, artinya punya peluang jadi entrepreneur sukses di atas rata-rata


- 21 sampai 25, anda berpeluang jadi entrepreneur sukses dan financially free


- 15 sampai 20, masih bisa jadi entrepreneur sedang-sedang saja


- Di bawah 15: wah, kayaknya anda nggak cocok jadi entrepreneur nih.



Sumber: Kompilasi dari berbagai sumber



Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,



Roni, www.manetvision.com, www.twitter.com/roniyuzirman


Pedagang Asongan Itu pun Datang dan Curhat di Kantor Saya


Ini cerita yang sudah saya simpan beberapa minggu, tapi sayang untuk tidak diceritakan.



Ceritanya berawal saat saya mengemudi mobil sore hari sepulang dari kantor Manet. Tiba-tiba kaca pintu di samping diketuk oleh seorang pedagang asongan yang di tangannya memegang gelas Aqua dan Pocari Sweat.



Saya hanya melirik dengan ujung mata kanan dan melambaikan tangan sebagai tanda tidak berminat. Tapi pedagang itu tidak menyerah dan terus mengetuk-ngetuk kaca sambil meneriakkan sesuatu. Saya pun kaget dan cemas. Apa maunya ini orang?



Tatapan mata saya masih fokus ke depan, karena jalan di depan Pasar Cipulir itu memang macet tersendat.



Istri saya yang duduk di belakang menyarankan saya untuk membuka kaca, karena si abang asongan itu seperti meneriakkan nama saya. Bingung, kok si abang kenal saya?



Akhirnya saya buka kaca dengan masih sedikit curiga dan cemas. Ia pun meneriakkan nama saya, "Ini Pak Roni Yuzirman kan? Yang di www.roniyuzirman.com?"



Masih dengan heran campur kaget, saya pun mengiyakan. Kok bisa abang asongan ini tahu nama saya dan alamat blog saya?



"Saya mau dagang supaya maju Pak. Gimana caranya?" tanyanya singkat dan bersemangat. Terlihat dari wajahnya ia begitu girang ketika saya menjawab pertanyaannya.



"Telepon aja saya", jawab saya terburu-buru karena kendaraan di depan sudah mulai menjauh. Saya yakin, kalau ia tahu alamat blog pasti bisa menemukan nomor telepon saya di sana.



Sisa perjalanan sampai di rumah akhirnya kami habiskan memperbincangkan "keanehan" ini. Kalau ada orang yang mengenal saya di ruang seminar atau di Facebook sih wajar, karena memang sehari-hari saya beraktivitas di online dan menghadiri seminar-seminar. Tapi kalau pedagang asongan pinggir jalan?



Beberapa hari kemudian ia mengirim SMS dan saya memberikan alamat. Kami pun akhirnya bertemu di kantor Manet.



Saya pun menembaknya dengan pertanyaan, "Kok bisa tahu saya? Dari mana?"



Rupanya ia seorang lulusan STM yang baru berdagang asongan 6 bulan ini. Sebelumnya ia berdagang krei keliling. Setiap melihat kendaraan lewat yang ada stiker di belakang kacanya selalu diingatnya dan dicarinya di warnet. Hampir setiap hari ia ke warnet.



Kebetulan di belakang kaca mobil saya tertera alamat www.tangandiatas.com, komunitas bisnis yang saya dirikan. Dari sanalah ia masuk ke blog saya.



Tulisan di blog saya ia kutip dengan lancar. "Kata bapak kalau kita mau hasil yang berbeda jangan menggunakan cara yang sama ya Pak?"



Hmmm, saya membatin. Ini kan kutipan dari Albert Einstein. Rupanya ia benar telah membacai isi blog saya.



Dengan fasih ia menyebutkan nama-nama member TDA yang ia bacai blognya seperti Pak Rosihan, Pak Nukman, Pak Hadi dan sebagainya.



Ia bercerita awalnya berjualan asongan dan kendala sehari-hari yang dihadapinya. Setiap hari berdagang tidak selalu lancar. Selau saja ada gangguan dari Satpol PP yang mengusir mereka.



Penghasilan pun tidak pasti. "Paling banter dua puluh ribu sehari. Kalau ramai di Sabtu Minggu bisa dapat lima puluh ribu".



"Kamu ada uang simpanan?", tanya saya.



"Nggak ada Pak", jawabnya. Menurutnya, ia tidak bisa menyimpan uang. Selalu saya habis untuk pengeluaran ini itu. Padahal ia masih bujangan.



"Nah di situlah masalahnya. Kamu tidak akan kaya kalau cara mengelola uang seperti itu. Sisakan sebagian untuk pengembangan usaha kamu. Memang berat. Harus irit. Kalau mau sukses harus menunda kenikmatan".



Saya mencontohkan kebiasaan pedagang keturunan Tionghoa dalam mengelola uang. Ketika masih merintis usaha, mereka berhemat. Makan pun sederhana sekali. Baju mereka pun itu itu saja.



Akhirnya terkumpullah uang yang cukup untuk membuka satu toko lagi. Setelah punya toko dua, gaya hidupnya tetap hemat, tidak berubah. Toko ketiga pun bisa dibuka dengan lebih cepat. Seperti itulah prosesnya. Sederhana sekali.



Kalau kamu tidak bisa menyimpan uang, nasib kamu tidak akan berubah, jalan di tempat. Mulai sekarang, bagi pendapatan kamu jadi 3, pertama untuk makan, kedua untuk pengembangan usaha, ketiga untuk bantu orang lain.



Saya bercerita ini bukan omong kosong. Orang tua saya sendiri adalah contohnya. Ketika datang ke Jakarta, almarhum ayah saya berjualan asongan, persis seperti kamu ini. Kemudian ada modal terkumpul akhirnya bisa berjualan di depan toko orang dengan meja ukuran 1 x 1 meter. Setelah itu naik peringkat jadi pedagang kaki lima mandiri di pinggir jalan. Karena bosan selalu diusir kamtib, akhirnya terpaksa naik peringkat lagi dengan menyewa toko.



Kendala tidak berhenti, lokasi toko itu dilirik pengelola jalan tol untuk dibebaskan. Keputusan pun dibulatkan untuk membeli toko sendiri dan alhamdulillah toko itu ramai sekali. Dalam setahun membuka toko, hasilnya dapat untuk membangun rumah yang cukup besar dan megah. Saya juga bisa kuliah di Trisakti yang cukup mahal ketika itu.



"Jangan lama-lama dagang asongan. Setelah ini kamu harus punya gerobak sendiri. Kemudian punya toko. Setelah itu jadi grosir".



Ia bersemangat menerima tantangan saya. Air mukanya menjadi cerah. Matanya berbinar menandakan semangat. Kata-kata saya rupanya telah menyentuh pikiran bawah sadarnya. Itu tujuan saya. Pikiran bawah sadar menguasai 80% tindakan kita dan tentu saja nasib kita kelak.



"Sekarang, saya kasih PR, kamu harus menabung. Kamu boleh kembali lagi menemui saya kalau sudah punya tabungan minimal 1 juta".



"Wah, kekecilan Pak!", sanggahnya.



"Berapa kamu beraninya?"



"Satu setengah juga Pak!", jawabnya.



"Oke, deal", kata saya.



Ia pun pulang. Saya tunggu kedatangannya dengan membawa PR itu. Saya ingin ia berhasil. Saya bisa melihat itu dari semangat, gairah dan keberaniannya. Tinggal dipoles sedikit dengan mindset bisnis, action yang tepat dan cara mengelola uang, ia akan berhasil.



Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,



Roni, www.manetvision.com, www.twitter.com/roniyuzirman


Sedih, Reader's Digest Bangkrut


Berita ini mengagetkan saya, meski pun sudah menduga sebelumnya. Bahwa di era internet yang serba mobile sekarang ini, tidak dibutuhkan lagi membaca media cetak. Satu per satu media cetak pun bertumbangan, termasuk katanya majalah Business Week yang juga sedang berjuang untuk bertahan hidup.



Berita kebangkrutan Reader's Digest membuat saya sedih dan prihatin. Majalah ini sudah jadi bagian dari hidup saya sejak masa kuliah dulu ketika masih edisi bahasa Inggris. Saya rutin membeli majalah ini dan mengoleksinya sampai sekarang. Isi Reader's Digest itu abadi dan tidak lekang oleh waktu seperti majalah news lainnya. Apalagi sekarang, setelah terbit edisi Indonesianya, kebiasaan saya ini pun menular kepada istri saya.



Kenapa Reader's Digest begitu berarti buat saya? Karena isinya, tentunya. Isinya itu khas tentang human interest yang ditulis dengan bahasa yang ringan dan ringkas.



Banyak cerita di majalah ini masih teringat sampai sekarang. Salah satunya adalah kisah tentang seorang mahasiswa Jepang yang kuliah di Amerika dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas.



Satu-satunya kalimat yang ia mengerti adalah saat bermain bola volley dan ragu ketika akan memukul bola. Salah seorang temannya berteriak, "You can do it!"



Kata-kata itulah yang terus tergiang di benaknya dan menjadi bekalnya untuk mengatasi segala rintangan belajar di negeri orang dan lulus dengan gemilang.



Ada lagi cerita seorang anak kecil yang menjadi antropolog sukses gara-gara tidak dibayar ongkosnya menjadi pemotong rumput tetangga.



Seperti biasa, saat libur tiba ia sering mengisinya dengan menawarkan jasa memotong rumput tetangga-tetangga di sekitar rumahnya.



Yang membuatnya heran campur marah adalah seorang tetangga lelaki yang tidak kunjung membayar hutang jasanya. Ketika ditagih ia selalu mengelak dan berdalih.



Akhirnya ia nekat menerobos masuk rumah tetangga itu untuk menagih. Ia mendapati si lelaki sedang membaca buku di ruang perpustakaannya. Perpustakaan pribadinya itu membuatnya tercengang dengan begitu banyaknya koleksi buku terjejer rapi di rak.



Singkat cerita, si lelaki itu mengatakan tidak akan membayar hutangnya dengan uang. Tapi si anak lelaki itu dipersilakan untuk mengambil satu buku apa saja sebagai gantinya.



Ia pun mengambil satu buku tentang antropologi dan membawa pulang. Di rumah buku itu dibacanya dan ia terpesona dengan isinya. Buku itulah yang akhirnya menginspirasinya untuk menjadi ahli antropologi kelak.



Menarik bukan?



Cerita-cerita seperti ini selalu tampil di setiap edisi Reader's Digest.



Itulah sebabnya saya begitu kepincut dengan majalah satu ini. Saya pun ketagihan membacanya. Setiap edisi tidak pernah saya lewatkan. Wawasan saya menjadi kaya dengan cerita-cerita yang menginspirasi dan memperkaya hidup.



Saya tidak tahu, paska pengajuan kebangkrutannya nanti, majalah ini akan dilanjutkan oleh investor lain atau tidak. Saya juga tidak tahu bagaimana nasib edisi bahasa Indonesianya.



Sungguh, jika Reader's Digest tidak terbit lagi, saya akan merasa sangat kehilangan.



Salam FUUUNtastic!
Wassalam,



Roni, www.manetvision.com, www.twitter.com/roniyuzirman


Marhaban ya Ramadhan, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Momen yang paling ditunggu-tunggu oleh ummat Muslim sedunia segera tiba. Ramadhan begitu dinanti dan dirindukan. Ia adalah bulan penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT.


Marhaban ya Ramadhan. Kusambut engkau dengan penuh rasa syukur dan khidmat. Selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan sahabat-sahabatku. Semoga Ramadhan ini mampu membawa kita menjadi manusia yang baru, manusia dengan cara pandang dan sikap baru yang membawa berkah bagi sekalian alam, dan menjadi khalifah terbaikNya di muka bumi ini.


Segala khilaf kata dan khilaf perbuatan saya mohonlah dibukakan pintu maaf dengan seikhlas-ikhlasnya.


Semoga Allah meridhoi segala amal ibadah kita di bulan suci ini. Dan kita kembali menjadi insan yang fitri. Amiin.


--
Sent from my mobile device


Wassalam,


Badroni Yuzirman,
To live, to love, to learn and to leave a legacy...


www.manetvision.com
www.roniyuzirman.com
www.twitter.com/roniyuzirman

Ayahku Seorang Pedagan Sendal Jepit dan Serbet

Mengenang 5 tahun kepergian ayah kami, Yuzirman Sutan Parmato yang ditulis dengan sangat indah oleh adik saya, Ihsanul Takwim

-----------
 
Ayahku memulai usaha berjualan sendal jepit  dan serbet lebih kurang 35 tahun lalu saat merantau ke jakarta.Begitu menurut penuturan ibunda saya tentang awal usaha mereka saat merantau ke jakarta. Pendidikan terakhir ayah saya STM (tidak lulus).Kabarnya ayah saya juga pernah mengadu nasib ke Aceh untuk bekerja diperusahaan minyak.Namun kenyataan mengharuskan ayah saya hengkang dari perusahaan tersebut.
 
Ternyata persoalan 'mental blocking' bukan hanya hinggap pada pengusaha saat ini, masalah ini juga dialami oleh ayah saya.Ceritanya pada saat jualan serbet disuatu pasar, ayah saya berjualan disuatu tempat tapi beliau berdiri dengan mengambil jarak agak jauh. Beliau masih asing untuk berjualan dan merasa grogi kalo ketauan jualan serbet oleh kawannya atau sanak family kami yang lain.Bahasa sekarang jaim kali yaaa...
 
Tapi itulah ayah saya, jualan apapun dilakoninya.Bagi kami keluarga yang berasal dari minang sepertinya tidak  ada pilihan hidup kecuali berjualan.Untuk menjadi PNS atau kerja lainnya harus memiliki skill dan Ijazah, nah inilah yang lagi-lagi tidak dimiliki oleh ayah saya. Jadi pilihan kebanyakan orang minang yang mengadu nasib hanyalah berjualan.
 
Alhamdulillah seiringnya waktu usaha kecil2an ayah saya mulai menampakkan hasil.Cerita ibu saya prestasi yang paling mengagumkan saat itu adalah terkumpulnya uang untuk membeli selembar kasur, maklum saat masih ngontrak hanya bisa merebahkan diri pada sehelai tikar saja. Ibu saya suka berkaca-kaca matanya bila bercerita tentang ini.
 
Begitulah cerita tentang hari-hari ayah saya yang berprofesi sebagai pedagang.Tidak jarang juga diusir kamtib bila 'melanggar' lokasi berjualan.Aneh memang ya, kok ada alasan yang dibuat-buat demi ketertiban pedagang kecil harus rela diusir kesana kemari padahal dengan menjadi pedagang ayah saya sudah mengurangi jumlah pengangguran saat itu.
 
Bisa dibilang ayah saya sama sekali tidak memiliki kelengkapan yang menjadikannya pedagang sukses. Tidak memiliki proposal bisnis, ga ngerti analisis keuangan apalagi kenal ama makhluk yang namanya BEP.Walhasil profesi sebagai pedagang dijalani sebagai alur hidup yang dimaknai dengan sebuah upaya untuk mempertahankan hidup dikota besar.
 
Ada satu hal yang saya pelajari dari ayah saya (plus ibunda tentunya), yaitu keberanian untuk mengambil keputusan.Pada saat tempat jualannya dipasar dekat kami tinggal harus 'dirapihkan' oleh pemda,orangtua saya langsung mengambil sikap untuk pindah ke tempat lain. Berat awalnya karena harus ada banyak penyesuaian serta strategi jualan di tempat yang baru.Tapi ternyata Allah menitipkan rizki yang lebih besar, dari tempat berjualan yang baru ayah saya akhirnya bisa membeli sebuah rumah yang lumayan besar dari tangan seorang yang beretnis cina.Padahal dilingkungan kami sudah sangat mafhum bahwa mereka yang bermata sipit memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada pribumi.Dan Alhamdulillah akhirnya ayah saya setidaknya sedikit mampu mengimbangi dominasi itu.
 
Apakah setelah memiliki rumah ayah saya berubah? Ternyata sama sekali tidak, ayah saya tetap sederhana dan gigih memungut setiap rizki yang bertebaran dimuka bumi dengan berjualan. Motor yang dimiliki ayah saya dari berjualan tahun 80an hingga beliau akhirnya menutup mata sama sekali tidak berubah, vespa tahun 80an adalah teman setia beliau mengais rezeki.Bila saat musim liburan saya selalu ingin menemani beliau berjualan. Saya berdiri didepan vespa bututnya sementara beliau mengemudi dan ibu saya dibelakang.Tidak jarang pula saya dan ayah kehujanan pada saat melintasi kawasan kota dan mangga dua.akhirnya sampai rumahpun kami basah-basahan.Ini pengalaman yang tidak pernah kami lupakan.
 
Tidak ada yang istimewa dari sisi penampilan dan gaya hidup ayah saya.Tapi bagi saya kesederhanaan dan kebaikan beliau itulah kelebihannya. Dalam bergaul beliau paling sulit untuk menolak barang-barang yang seharusnya tidak perlu ia beli.Umpamanya jam tangan, bukankah kita hanya cukup memiliki satu saja jam tangan? Tapi ayah saya bisa memiliki lebih dari 10! Tapi semuanya second alias sudah setengah pake alias jual butuh, dalam hal ini ayah saya pantang untuk menolak membeli walaupun harganya tidak terlalu murah juga.Prinsip beliau dengan membeli barang orang lain berarti telah membantu orang lain, walaupun tidak dibutuhkan sama sekali.
 
Dan akhirnya cerita tentang kesedehanaan dan kebaikan beliau berakhir seiring jalannya waktu pada saat kami harus berpisah untuk selamanya. Allah mentakdirkan untuk menjemputnya pada saat 19 Agustus 2004, tepat dua hari setelah perayaan kemerdekaan.Ayahku menyisakan berbagai kenangan hidup yang tidak mungkin kulupa. Ia telah mengukir sejarah hidupnya dengan berbagai prestasi gemilang dikeluarga kami.Aku bangga padanya.Buliran keringatnya yang menetes pastilah tidak sia-sia.Air matanya yang mungkin pernah tumpah ruah pada saat harus berusaha dan bertarung hidup membesarkan kami pastilah dibalas pahala yang berlimpah.Andaikan mulutku masih bisa diberikan kesempatan untuk membisikkan kata terbaik maka akan kuucapkan setulus hati bahwa : aku sangat mencintainya....
 
Ayahandaku sayang... walaupun jari jemari kita tidak lagi bertemu dengan jabatan hangatmu, tapi aku yakin bahwa kedua tanganmu telah dimuliakan oleh Allah yang telah mentakdirkan aku sebagai anakmu. Kedua tanganmu itulah yang telah bersusah payah membesarkan aku, mendidik aku, dan mencari rizki agar kami bisa hidup layak. Kedua tanganmu itulah yang pernah menggamit tangan kecilku pada saat berangkat kesekolah. Kedua tanganmu itulah yang telah banyak mengeluarkan peluh keringat menarik sepeda motor tuamu untuk mencari rizki yang halal untuk kami.Aku tahu ayah dibalik senyummu menyimpan duka karena kau harus rela diusir dalam mencari rizki.Aku tahu bahwa Allah sangat sayang padamu dengan menimpakan ujian agar dimataku engkau terlihat lebih tegar.
 
Ayah...aku sedih karena tidak lagi bisa mencium tanganmu yang sangat mulia.Aku sedih belum bisa membalas semuanya, aku sedih belum bisa membuatmu lebh banyak tersenyum, aku sedih kedua anakku belum bisa menatapmu dan belajar darimu tentang kehidupan. Tapi ayah, kedua anakku pastilah bangga memiliki kakek yang begitu perhatian, cinta pada keluarga.Pastilah semuanya akan kuceritakan ayah, semua kebaikanmu akan kuceritakan pada mereka...
 
Ayah kalau boleh aku meminta pada Sang Pencipta kita pastilah aku ingin bersamamu.Tapi Allah hendak melihat amal kebaikanku lebih banyak lagi agar kita diberi kesempatan lagi berjumpa di Surga...
 
Ayah akan aku simpan kenangan terbaik bersamamu...
 
 
Salam
 
 
Ihsan
http://www.kaosanaklucu.blogspot.com

--
Wassalam,

Badroni Yuzirman,
To live, to love, to learn and to leave a legacy...

www.manetvision.com
www.roniyuzirman.com
www.twitter.com/roniyuzirman

Dicari EO untuk Roni's Book and Learning Club (RBLC) yang akan Didukung oleh Gramedia Group

Beberapa waktu lalu saya mengupdate status di Twitter tentang
keinginan saya suatu saat nanti Roni's Book and Learning Club akan
menjadi seperti Oprah's Book Club yang sangat berpengaruh itu.

The law of attraction terjadi lagi.


Kemarin, saya bertemu dengan perwakilan dari Gramedia Group dalam
rangka penjajakan untuk penerbitan buku saya berikutnya.


Kepada mereka saya pun bercerita tentang passion saya dengan buku dan
Roni's Book and Learning Club yang sudah diadakan 3 kali di kediaman
saya.


Saya juga bercerita bahwa secara "suka rela" saya selalu mengulas
buku-buku yang saya baca di blog dan biasanya akan diikuti oleh
pembaca setia blog itu. Secara tidak langsung saya telah menjadi
"salesman" tanpa dibayar.


Akhirnya, pihak penerbit itu menawarkan agar RBLC dibuat lebih besar
dan lebih profesional. Mereka bersedia mendukung dengan menghadirkan
penulis-penulis dari grup penerbitan mereka.


Saya cukup surprise dan tentu saja senang mendapat tawaran ini.


Tinggal masalahnya adalah perlu adanya event organizer yang
profesional dalam mengelola kegiatan ini.


Bagi teman-teman yang berminat, silakan kontak saya untuk kita
diskusikan konsep dan tata laksananya.


Silakan hubungi saya melalui roni(at)manetvision.com atau HP. Kalau
ingin bertemu, insya Allah di atas jam 14 saya ada di sekitar Senayan.
Just call me.


Terima kasih atas perhatiannya. Saya bermimpi RBLC akan jadi sumber
rujukan bagi penulis dan pembaca buku yang berpengaruh di Indonesia.
Insya Allah.


--
Sent from my mobile device

Wassalam,

Badroni Yuzirman,
TDA JKT 0000001-0106
www.manetvision.com I www.roniyuzirman.com I email:
roni@manetvision.com I Y!M: roniyuzirman I Twitter:
http://twitter.com/roniyuzirman I HP 0812 100 8164

To live, to love, to learn and to leave a legacy...

Gerakan Nasional Ayo Mandiri, Ciptakan Satu Pengusaha dalam Satu Keluarga

Sampai di lokasi acara pun saya masih belum 'ngeh, apa gerangan maksud dan tujuan dari acara ini.

Saya hanya hadir karena telah diundang 2 bulan lalu oleh penggagas acara ini, Bang Valentino Dinsi. Pastilah ini acara penting. Saya diminta untuk berbicara dan menandatangani MoU mewakili Komunitas TDA bersama dengan 16 lembaga dan komunitas lainnya.


Ketika saya hadir kemarin, di atas panggung sedang berbicara Habibie Afsyah didampingi ibunya. Habibie Afsyah adalah seorang anak muda berusia 20 tahun pengidap multiple scelerosis yang hanya bisa duduk di kursi roda dan menggerakkan satu jarinya saja. Ia sedang bercerita mengenai keberhasilannya berbisnis online. Incomenya sudah ratusan juga, kabarnya.


Saat ini namanya sedang naik daun dan sering diundang berbicara di mana-mana. Apalagi setelah tampil di program Kick Andy. Ia dipilih sebagai icon dari Gerakan Nasional Ayo Mandiri ini.


Setelah Habibie, naik lagi ke panggung seorang bertubuh mini, berjas hitam dan berbicara dengan begitu bersemangat. Ia datang jauh dari Dumai, Riau. Rupanya ia adalah seorang leader yang sukses membangun bisnis MLM.


Naik lagi ke panggung seorang pengidap cacat dan berkursi roda. Ia berbisnis dari rumah sebagai agen teh rosella.


Di tengah kebingungan saya itu, akhirnya Valentino Dinsi yang dikenal sebagai penulis buku bestseller Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian ini pun naik ke panggung. Ia bernarasi dengan begitu menyentuh. Ia ceritakan pengalamannya sebagai pengusaha yang telah berhasil membantu anggota keluarganya yang lain. Kesuksesannya ternyata telah mampu membantu meringankan beban keluarga. Maka dari itu, ia berpikir bahwa perlu ada minimal satu orang di dalam satu keluarga untuk menjadi pengusaha.


Yup, serta merta saya menyetujui argumen ini. Pikiran saya pun melayang kepada keluarga-keluarga yang saya kenal yang kemudian nasibnya terangkat setelah ada satu dari anggota keluarga tersebut menjadi pengusaha.


Saya punya famili di Sumatera yang ditinggal wafat oleh ayahnya ketika masih kecil. Saat itu pun hidup mereka hanya bergantung kepada pencaharian sebagai penjual pisang goreng. Sang kakak sulung akhirnya menggantikan peran ayah dengan membuka toko buku kecil-kecilan. Dari situlah semuanya berawal. Sekarang 2 orang adiknya sudah lulus kuliah, ibunya sudah naik haji, dan punya banyak properti. Ia telah mengangkat perekonomian keluarga dengan menjadi pengusaha.


Setelah narasi itu kami yang mewakili 16 lembaga dan komunitas itu pun dipanggil ke atas panggung untuk menandatangani MoU. Di antara yang hadir adalah wakil-wakil dari Komunitas Entrepreneur College (Khairulsalim Ikhs), Oase Entrepreneur Academy (Sahmullah Rifqi), Yayasan Habibie Afsyah, Smart Entrepreneur Community (Ir. Budi Utoyo), Baitul Maal Muamalat, Gerai Dinar, Zahir Accounting, penulis dan trainer The 7 Awareness (Nanang Qosim Yusuf) dan lain-lain. Saya pun turut membubuhkan tanda tangan mewakili Komunitas TDA yang semestinya dilakukan oleh Pak Iim Rusyamsi selaku Presiden TDA. Tapi karena Pak Iim juga sedang berbicara di Sarasehan Bisnis Kreatif, maka kami pun berbagi tugas.


Dalam kesempatan ini saya pun mengatakan kepada hadirin bahwa menjadi pengusaha adalah fardhu kifayah di dalam keluarga. Harus ada minimal satu orang di dalam keluarga yang jadi pengusaha. Indonesia masih tertinggal di bandingkan Singapura yang sudah memiliki 7% pengusaha dan Amerika dengan 11% dari jumlah penduduknya sebagai pengusaha. Indonesia hanya memiliki 0,18% saja. Padahal suatu negara akan makmur dan sejahtera bisa minimal ada 2% saja penduduknya yang jadi pengusaha atau wirausaha.


Saya berharap pencanangan Gerakan Nasional Ayo Mandiri ini akan menggugah banyak pihak mengenai pentingnya kemandirian di dalam setiap keluarga. Gerakan ini akan melahirkan jutaan wirausaha baru nantinya. TDA dengan jaringan membernya yang telah mencapai 9.000 ini, tentu saja mendukung gerakan ini. Inilah yang selama ini telah dan akan terus dilakukan TDA.


Dugaan saya tepat. Status saya di Facebook pun langsung ditanggapi oleh member TDA di berbagai daerah. "Saya dukung gerakan ini Pak Roni", demikian salah satu komentarnya.


Insya Allah...


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA



NB: Beberapa orang yang saya temui di acara ini saya perkenalkan dengan TDA. Mereka begitu respek dan bersedia menjadi nara sumber di kegiatan TDA. Di antaranya adalah Pak Budi Utoyo (owner Spa Leha-Leha dan 14 perusahaan lainnya) dan Mas Nanang Qosim Yusuf (penulis dan trainer The 7 Awareness) yang lagi naik daun ini.

Tanah Abang, Ramai Pengunjung Tapi Sepi Pembeli?


Saya kaget membaca berita di Kompas.com pagi ini yang memberitakan bahwa pasar Tanah Abang begitu ramai pengunjung menjelang bulan puasa ini tapi penjualannya biasa-biasa saja menurut pedagang.


Wajar dong, saya kaget. Minggu lalu saya mengunjungi pasar regional ini untuk menghadiri undangan meeting dengan Pak Haji Ali (sesepuh dan penasehat TDA) yang akan mempertemukan saya dengan seseorang yang ingin memperkenalkan lembaga trainingnya kepada saya.


Dengan bersemangat saya berangkat ke sana bersama keluarga. Ya, bersama keluarga lengkap dengan Vito dan Vino yang masih kecil. Istri saya ingin ikut, sebab, bagaimana pun juga Tanah Abang adalah bagian dari memori kami ketika berdagang di sini tahun 2001 sampai 2004 lalu. Sekalian updating model-model yang lagi tren, katanya.


Saya sudah antisipasi, Tanah Abang pasti macet dan susah parkirnya. Kami pun sepakat untuk memarkir mobil di Sarinah dan naik bajaj menuju Blok A. Tapi, akhirnya saya membatalkan rencana itu. Saya mengendus sesuatu yang "tidak beres". Pasalnya, jarak sedekat itu, seluruh tukang Bajaj yang kami dekati kekeuh menawarkan harga sepuluh ribut, tidak boleh ditawar! Alasannya: macet.


Saya langsung menyimpulkan, kalau macet kendaraan harus antri cukup lama dan artinya Vito dan Vino akan menghisap asap knalpot yang menyesakkan. Saya langsung putuskan agar mereka tidak usah ikut dan menunggu saja di Mc Donald's. Biar saya sendiri yang ke sana naik ojek yang ternyata harganya pun tidak mau kurang dari sepuluh ribu.


Dan betul, macet luar biasa. Super duper macet. Kendaraan berhenti total. Hiruk pikuk. Asap knalpot mengepul dan menghembuskan udara panas yang menerpa muka saya. Untung tidak naik bajaj, batin saya. Abang ojek yang lihai bisa menyelundup di sela-sela mobil dan menelurusi trotoar.


Sesampai di Blok A, saya jadi teringat dengan suasana terminal Pulo Gadung menjelang hari raya seperti yang sering ditayangkan televisi itu. Manusia di mana-mana. Pengunjung kebanyakan datang bersama keluarga dan tidak tampak seperti profil pedagang. Padahal, Blok A adalah pusat grosir. Mereka rata-rata menenteng kantong plastik belanjaan yang isinya satu dua potong baju saja. Beda dengan pedagang yang belanjaannya dengan karung dan digotong oleh tukang panggul.


Mungkin ini yang dikeluhkan oleh para pedagang itu. Ramai tapi, tidak meningkatkan omset secara signifikan. Sibuk melayani tapi volumenya tidak seberapa. Mungkin inilah dikeluhkan oleh para pedagang. Saya pernah merasakan hal ini beberapa tahun lalu. Toko kami begitu ramai, isi toko bak kapal pecah, berantakan. Tapi omset penjualan tidak sebanding dengan kesibukan ini. Ini mah seperti dagang ritel, batin saya.


Beberapa hari lalu keluarga besar kami mengadakan hajatan pernikahan salah seorang sepupu saya. Berkumpullah keluarga besar yang sebagian besar adalah pedagang pakaian yang pastinya adalah pengunjung setia pasar Tanah Abang. Ternyata mereka semua hampir tidak pernah berbelanja di Blok A, melainkan di Metro. Metro itu murni grosir, sedangkan Blok A itu eceran, kata mereka.


Mungkin yang diwawancara Kompas adalah pedagang-pedagang di Blok A saja. Cobalah wawancara mereka yang di Metro. Pasti ceritanya akan lain.

Saya tetap yakin bahwa situasi bisnis menjelang bulan puasa tahun ini adalah lebih baik dibandingkan tahun lalu. Alhamdulillah, penjualan bisnis saya, Manet Busana Muslim melesat cukup tajam dan tidak terlalu terpengaruh dengan isu krisis moneter yang dikhawatirkan banyak pihak.


So, anda sebagai pengusaha, mau pilih pendapat yang mana? Bisnis sepi atau ramai, tergantung realitas yang anda ciptakan sendiri.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA


Hadiri, Seminar dan Workshop Cookingpreneur

Dear All,

Jangan ngaku gaul kalo hari gini gak bisa masak!!!
Jangan ngaku cookingpreneur kalo belum bisa jualan lewat internet!!!
Ini peluang bisnis yang terbukti sepanjang masa
Mau tau caranya???

FATMAH BAHALWAN COOKING SCHOOL (Natural Cooking Club) mempersembahkan seminar dan workshop singkat sehari, dengan tema

“Cookingpreneur”

Akan dikupas tuntas bagaimana cara mendatangkan uang dari dapur sendiri dan mengubah hobi memasak menjadi binis yang menjanjikan.

Insya Allah akan di selenggarakan pada :
Tempat : Balai Kartini
Hari/Tanggal : Sabtu 8 Agustus 2009
Waktu : 08.00 -16.00 WIB

Agenda Kegiatan :

1. SEMINAR

A. Seminar Sesi Pertama
Tema : Cookingpreneur
Pembicara : Ibu Fatmah Bahalwan (Founder NCC)
www.ncc-indonesia.com
Testimoni : Peni Respati dan Ika Kurnia (Praktisi bisnis kuliner)
Waktu : 08.30 s/d 10.30 WIB

B. Seminar Sesi Dua
Tema : Internet Enterpreneur
Pembicara : Ali Akbar (Pakar SEO, Marketing online)
www.aliakbarpakarseo.com
Badroni Yuzirman (Founder TDA Community)
www.roniyuzirman.com
Waktu : 10.30 s/d 12.00 WIB

2. DEMO MASAK
Resep : Cookies Hari Raya dan Cake Decoration
Oleh : Ibu Fatmah Bahalwan dan Tim NCC
Waktu : 13.00 s/d 15.00 WIB

3. SOFT LAUNCHING FATMAH BAHALWAN COOKING SCHOOL
- by Ibu Fatmah Bahalwan & DHA Management

4. INTERMEZO
- Pengumuman Pemenang Lomba “Cookies Hari Raya dan Cake Decoration”
- Pengundian Door Prize

Host : Shahnaz Haque

Peserta : Terbatas hanya untuk 500 orang

Investasi : Rp. 250.000, termasuk:
- Bonus discount senilai Rp. 500.000 from Fatmah Bahalwan Cooking School
- Seminar kit dan lunch

- Discount 50 % buku Ali Akbar ‘Peta Uang Internet’

Cara pendaftaran, transfer ke :

Bank Mandiri KCP Ahmad Yani Bekasi
Rekening No : 156 0000 717936
atas Nama Andriyadi,

Bank BCA KCP Cimanggis
Rekening No. 166 192 5391
Atas Nama Hartin Rozaline

Untuk memudahkan identifikasi, mohon menambah nilai transfer sebesar tiga digit akhir nomor handphone Anda. Misalkan nomor handphone Anda 0816.000.1234 maka tambahkan Rp 234 pada nilai transfer, sehingga nilai transfer menjadi Rp 250.234,-.

Setelah transfer dilakukan, kirim email ke : cookingpreneur@gmail.com atau sms ke 021 959 03 044/ 0815 14 310 383 dengan menyebutkan "Nama" "Email ", "No HP", “Tgl Transfer” dan "nilai transfer". Atau anda bisa mengakses web www.cookingpreneur.blogspot.com untuk melakukan konfirmasi, melihat info, dan penawaran terbaru dari seminar dan workshop Cookingpreneur ini. Hanya yang sudah mentransfer yang akan masuk ke daftar peserta.

Information Center Cookingpreneur Seminar & workshop :

Andriyadi, telpon : 021 959 03 044
Hartin Rozaline, telpon: 08151 431 0383

Seminar ini penting untuk Anda!!!
Trik berbisnis lewat internet pun akan dibahas detail dengan pakar marketing online “ALI AKBAR”. Diperkuat dengan pengalaman dari ”BADRONI YUZIRMAN” sebagai praktisi marketing online (founder TDA community)

So, Tunggu apalagi???
Mulailah menjadi Cookingpreneur dari seminar dan workshop ini. Kita buktikan bersama!

Have a FUNtastic Sukses Mulia Business and Life !!!

Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO