Blognya Pak Roni adalah Karya Sastra

How come? Bagaimana bisa?

Sebuah pernyataan 'menghina' atau 'memuji' nih, batin saya.


Awal bulan Juni lalu pernyataan itu keluar dari mulut seorang Kika Syafii, salah seorang hadirin di acara bulanan di kediaman saya, Roni's Book and Learning Club.


Saya merasa tersanjung, tentu saja, sekaligus kaget. Bagaimana mungkin tulisan-tulisan singkat dan 'to the point' di blog ini digelari sangat terhormat: sebuah karya sastra? Sebuah derajat terhormat dan posisi yang tinggi dalam dunia penulisan. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa sehari-hari, kadang campur aduk, masak dibilang karya sastra? Menghina nih, Mas Kika.


Mas Kika ini adalah teman yang baru beberapa bulan ini saya kenal di TDA. Tulisan-tulisan singkatnya di status Facebook begitu nyeleneh kadang menyentak. Ia berlatar belakang dunia pergerakan, orang lapangan. Orang miskin, mereka yang lapar, mereka yang terpinggirkan, adalah ranah yang dibelanya bersama teman-temannya. Di dunia kampus dulu, kami dengan mudah menggelarinya sebagai 'orang kiri'.


Saya tidak akan membahas soal itu. Yang menarik adalah, cara berpikir dan cara bergerak dari Mas Kika ini dipengaruhi oleh karya-karya sastra yang dibacanya, termasuk yang sangat meracuninya adalah karya-karya GM, Goenawan Mohamad. "Delapan puluh persen dari buku saya adalah karya sastra seperti novel dan puisi", ungkapnya. "Ketika sedih, ketika galau, saya menulis puisi."


Karya sastra menurut saya adalah sesuatu yang indah, luhur, penuh estetika, penuh metafor, dan tajam menusuk ulu hati. Maka, saya setuju jika sastrawan digelari 'mata hati bangsa'. Cobalah simak karya-karya Taufik Ismail. Ia adalah salah satu mata hati bangsa yang sangat tajam penglihatannya.


"Saya tidak melihat karya Pak Roni dari sisi estetika dan metafor", jelasnya. "Tulisan Pak Roni itu menggerakkan pembacanya", jelas Mas Kika. Salah satu kriteria karya sastra adalah menggerakkan.


Kalau kriteria itu yang dijadikan ukuran, saya setuju. Blog inilah yang mengawali semuanya. Maksud saya blog ini mengawali sebuah gerakan yang sekarang akrab di telinga kita dengan istilah TDA atau Tangan Di Atas. TDA adalah sebuah pergerakan dan itu diawali oleh sebuah blog sederhana ini.


Saya ingat sebuah tulisan di majalah sastra Horizon yang sering saya baca sejak SMA dulu (saya lupa judul dan penulisnya). Tulisan itu telah menginspirasi saya sampai sekarang. Tulisan itu membagi sebuah karya tulis ke dalam 3 bagian:


Pertama: tulisan yang informatif, memberi informasi kepada pembacanya, seperti koran, majalah, situs berita dan sebagainya. Fungsinya memberi informasi. Titik.


Kedua: tulisan yang inspiratif. Tulisan seperti ini membuat pembacanya terinspirasi. Ingin melakukan atau menjadi seperti yang dituliskan itu.


Ketiga: tulisan yang menggerakkan. Tulisan seperti ini adalah tulisan yang action oriented. Kadang singkat tapi mengena, bahkan berbahaya. Kata-kata "bakar" di tembok dinding bisa menggerakkan pembacanya saat terjadi pergolakan sosial. "Merdeka ataoe mati" adalah kata-kata yang menggerakkan para pejuang kita ketika merebut kemerdekaan. Vaclav Havel, Bung Hatta, Jose Rizal, Sayyid Qutb, Theodore Herzl adalah beberapa tokoh dunia yang menggerakkan orang banyak melalui tulisan-tulisan dan pemikirannya.


Terus terang, saya terinspirasi dari jenis tulisan yang ketiga itu. Tulisan yang menggerakkan, membuat pembacanya melakukan sesuatu, membuat perubahan bagi dirinya sendiri dan masyarakatnya. Kalau itu terjadi, artinya pesan yang saya saya maksud itu telah sampai.


Tentu, terlalu berlebihan kalau saya menyamakan diri dengan mereka semua. I'm nothing compared to them. Tapi paling tidak saya bisa menggerakkan orang untuk membaca buku, menyeduh kopi hangat, bermain bersama anak-anaknya, seperti tulisan-tulisan ringan almarhum Umar Kayam, Mangan Ora Mangan Kumpul yang bikin pembaca menitikkan air liur ketika ia menceritakan jajanan pasar atau kopi nasghitel.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Lebih Cepat Lebih Baik. Benarkah?

Slogan capres Jusuf Kalla dengan "Lebih Cepat Lebih Baik" memancing banyak komentar dan perdebatan. Benarkah dengan lebih cepat akan lebih baik? Atau sebaliknya, lebih cepat malah lebih hancur?

Saya sendiri lebih setuju dengan pendapat Drucker dan Covey. Menurut mereka yang lebih baik adalah yang lebih efektif.


Belakangan saya sering membaca buku dan tulisan bertemakan Slow Movement, gerakan hidup lambat yang sedang mewabah di Eropa sana. Ada yang namanya slow food, slow leadership, slow family, slow work, slow travel bahkan slow sex. Mereka semua sudah bosan dengan yang serba cepat dan instan. Saya yakin, slogan JK ini tidak akan laku di Eropa.


Oke, back to the topik soal cepat atau lambat. Saya punya cerita dalam skala domestik aja, cerita tentang pembantu di rumah.


Saya ada 2 pembantu, yang satu selalu bergerak cepat yang satu kebalikannya. Yang cepat sebut saja namanya Tuti. Tuti adalah mantan pembantu di Arab Saudi. Cara bekerja di sana memang keras dan dituntut serba cepat. Majikannya selalu memerintahnya dengan tidak sabaran. Kebiasaan itu terbawa sampai ke rumah kami.


Lawannya, sebut saja namanya Tina, lambat sekali kerjanya. Segala sesuatunya dikerjakan dengan pelan-pelan. Cara berbicaranya pun lembut dan nyaris tak terdengar.


Seminggu sekali ibu saya menginap di rumah kami. Salah satu tujuannya adalah untuk "transfer of knowledge dan experience" di bidang kuliner. Maksudnya mengajari istri saya dan pembantu resep masakan Minang klasik.


Si Tuti dengan cepat menangkap resep dan mempraktekkannya. Ketika masih dikawal oleh ibu saya, rasanya memang mantap. Tapi begitu mengulang dan tanpa pengawasan, rasanya mulai ngaco ke mana-mana. Meleset jauh. Lidah saya sangat peka dengan rasa. Meleset nol koma sekian derajat saja, ia sudah menjerit protes.


Masalahnya, si Tuti ini cara kerjanya serba cepat, ingin cepat selesai dan tanpa pikir panjang. Takaran bumbu yang sudah dihitung dengan cermat itu selalu diterjangnya secara membabi buta. Bawang, garam, cabe dan kawan-kawannya itu dicampurnya begitu saja tanpa takaran yang jelas. Bahkan ia tidak pernah mencicipi masakannya.Yang penting kerjaan selesai, mungkin itu alasannya.


Maka, ayam cabe hijau favorit saya itu warnanya kekuningan lantaran kebanyakan jahe. Dendeng goreng asam itu tak lagi garing dan renyah lantaran kurang lama menggoreng dan apinya terlalu besar. Udang goreng cabe merah warnanya jadi oranye dan berair lantaran tomatnya digiling bersama cabe. Mestinya tomat diiris saja dan dimasukkan belakangan. Masalah lain, Tuti ini termasuk orang yang ndableg alias keras kepala. Kalau diberitahu, ia sering membantah, merasa paling benar dan yakin dengan pendiriannya yang salah itu.


Akhirnya lidah saya pun hilang kesabarannya. Ia protes. Mogok makan. Kalau masih meleset begini juga, saya tidak mau makan, ancamnya. Ibu saya pun kemudian mentransfer ilmunya kepada Tina.


Ceritanya berbeda jauh dengan si Tina. Ia yang bekerja lambat itu ternyata bisa memasak dengan begitu lezat dan sempurna. Takaran bumbunya begitu pas. Cara memasaknya pun sesuai dengan SOP dari ibu saya. Setiap diajari, selalu dicatatnya di kertas. Bila tidak yakin atau lupa, ia selalu bertanya. Lidah saya pun girang gembira. Persis banget dengan masakan mama. Cuma, jangan harap ia bisa bekerja dengan cepat. Pasti akan kecewa. Kerjanya lambat sekali.


Dari cerita domestik tersebut saya semakin yakin dengan pendapat bahwa efektif lebih baik ketimbang lebih cepat atau lambat. Untuk pekerjaan tertentu, seperti menyapu, mencuci, menggosok baju, dibutuhkan kecepatan. Tapi jangan coba-coba dalam hal memasak. Memasak perlu kesabaran, ketelatenan dan passion yang tinggi. Ada kalanya diperlukan kecepatan, ada saatnya perlu lambat dan penuh pertimbangan. Kalau keduanya digabung, mungkin jadi kombinasi yang cantik. Sayang sekarang mereka - SBY dan JK - berpisah dan meninggalkan saya yang kebingungan menentukan pilihan.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Apakah Anda Berbakat Menjadi Orang yang Berani dan Sukses? Periksa Jari Manis Anda




"Pak, gimana caranya supaya berani memulai bisnis?", tanya seorang peserta seminar kewirausahaan yang diadakan oleh Seksi Kerohanian Islam Fakultas Hukum Universitas Trisakti beberapa waktu lalu.


Dipancing oleh pertanyaan itu, saya langsung teringat dengan "ilmu" yang baru saya dapatkan beberapa waktu lalu.


"Coba, adik-adik semua lihat jari tangan masing-masing", pinta saya. "Perhatikan, apakah jari manis anda lebih panjang atau lebih pendek daripada jari telunjuk. Kalau lebih panjang, anda bakal sukses. Jari manis yang lebih panjang menandakan keberanian pemiliknya untuk bertindak dan mengambil risiko."


Kontan pernyataan saya ini menimbulkan kehebohan di ruangan seminar, sampai-sampai 2 pembicara lain dan moderator juga ikut-ikutan.


"Bagi anda yang jari manisnya lebih pendek, jangan kecewa. Bertemanlah dengan yang jari manisnya lebih panjang", lanjut saya.


Pembicara di samping saya yang juga seorang ustadz menambahkan, "Buat yang akhwat (perempuan), kalau mau cari calon suami, periksa dulu jari manisnya."


Sebelumnya saya sempat dites yang sama oleh Pak Nukman. "Ini jari TDA (pengusaha)", katanya mengomentari jari manis saya dan juga Pak Iim dan Pak Agus. Ia tidak menjelaskan apa alasannya. Silakan buka blog ini untuk mengetahui penjelasannya. Blog itu menampilkan foto-foto orang sukses dari berbagai bidang seperti bisnis, politik, atlit, artis yang semuanya berjari manis lebih panjang daripada jari telunjuk.Namun bagi saya penjelasan itu masih membingungkan dan kurang ilmiah.


Tanpa sengaja saya menonton tayangan BBC Knowledge yang menjelaskan fenomena ini secara ilmiah. Ternyata, panjangnya jari manis dipengaruhi oleh hormon testosteron. Orang yang jari manisnya lebih panjang daripada jari telunjuk menandakan hormon testosteronnya berlimpah yang mengakibatkan ia lebih berenergi, lebih berani, lebih agresif. Jantung dan paru-paru mereka juga berfungsi lebih baik dan lebih efisien. Secara alami, laki-laki lebih banyak hormon testosteronnya daripada perempuan (artinya, laki-laki lebih banyak yang sukses dibandingkan perempuan?).


Di dalam film dokumenter itu, seorang peneliti mempertaruhkan teorinya dengan memilih pemenang lomba lari sebelum mereka bertanding. Ia hanya memilih calon pemenang dengan mengukur selisih panjang jari manis terhadap jari telunjuk. Ia memilih yang selisihnya paling besar. Dan benar, pilihannya tepat. Pelari yang dipilihnya menang. Menarik ya....


Dalam kesempatan lain, seorang perempuan tomboy yang juga atlit lari ingin menjadi laki-laki sepenuhnya. Ia meminta dokter menyuntikkan hormon testosteron ke dalam tubuhnya sampai 10 kali lipat yang dimilikinya saat itu. Akibatnya, perlahan tubuhnya semakin tegap, mulai tumbuh bulu-bulu dan kecepatan larinya pun meningkat drastis.


Aha, saya telah menemukan penjelasan ilmiah dari teori jari manis ini. Jadi, tidak ada hubungannya dengan klenik sama sekali.


Sekarang, kalau saya ditanya lagi bagaimana caranya supaya sukses, bagaimana caranya supaya berani, akan saya meminta penanya itu untuk mengecek jari manisnya. Tapi sekali lagi, kalau jari manis anda tidak panjang, carilah teman yang memiliki itu. Seorang penakut berkawan dengan orang berani akan ketularan beraninya. Tentunya, ada faktor lingkungan juga yang mempengaruhi, seperti kata Malcolm Gladwell di buku The Outliers. Kalau mau lebih berani lagi, ya suntikkan aja hormon testosteron banyak-banyak. Saya sendiri tidak tahu apakah hal ini diperbolehkan atau tidak oleh agama.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA


NB: Di kulkas saya ada stiker gambar Luna Maya (brand ambassador Toshiba). Jari manisnya juga panjang. Apakah ini pertanda dia orang yang berani mengambil risiko atau tomboy?

Makin Berat, Tantangan Blogger Sekarang

Saya setuju dengan tulisan ini. Sekarang "profesi" sebagai blogger makin ditinggalkan. Menjadi blogger semakin berat sekarang. Godaannya banyak sekali. Terutama situs-situs social networking seperti Facebook atau Twitter.

Para blogger ramai-ramai bedol desa ke sana. Sibuk mengupdate statusnya, mengirimkan link-link kesukaannya, "bercengkrama" singkat dengan para sejawat dan kawan lama yang bertemu di Facebook, meng-upload foto dan sebagainya. Berjam-jam waktu dihabiskan di situs yang sekarang diakses oleh ratusan juta orang di seluruh dunia.


Bagaimana dengan nasib ratusan ribu blog yang sempat menguasai ranah maya tiga tahun terakhir ini? Dari pengamatan singkat, saya mendapati blog-blog itu sekarang sudah jarang diperbaharui atau ditinggalkan oleh pemiliknya.


Ambil contoh, para blogger dari Komunitas TDA yang jumlahnya mencapai 500-an orang itu. Dulu ramai sekali. Saya sampai berlangganan Google Reader membacai postingan-postingan teman-teman yang begitu menarik dan menginspirasi. Sekarang, member yang rutin mengupdate blognya bisa dihitung dengan jari. Saya pun termasuk yang tertelan oleh arus perubahan ini. Untuk meng-update blog satu dua tulisan per minggu saja rasanya makin berat. Waktu saya pun banyak terkuras ber-Facebook-ria.


Menulis blog itu ibarat lari maraton, butuh daya tahan dan komitmen tinggi. Saya setuju dengan pendapat Mas Yodhia ini. Ia mencontohkan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang bertahan puluhan tahun sampai sekarang. Ya, kolom ini telah "mewarnai" Indonesia dengan caranya sendiri sejak lama. Saya pun sempat mengoleksi kumpulan kolom yang tak lekang oleh waktu ini.


Teringat dengan kata-kata Anthony Robbins: sesuatu itu pada awalnya adalah "nothing" sampai kita memberi arti kepadanya. Menulis blog itu adalah "nothing" kalau hanya ikut-ikutan tren. Tapi kalau kita memberinya arti, niscaya apa pun yang terjadi mereka tetap akan bertahan. Bisa saja menulis blog ini diartikan sebagai melepas katarsis, mengasah kemampuan menulis, berbagi, memberi inspirasi atau bahkan beribadah. Bukankah ilmu yang dibagikan itu menjadi berkah dan bernilai ibadah?


Saya sendiri sedang menghadapi ujian itu. Kalau alasannya sibuk sih enggak juga. Mungkin fokusnya lagi ke mana-mana. Saat ini saya sedang berpikir kembali, apa sih alasan saya menulis blog? Blog ini akan saya beri arti sebagai apa? Nah, pertanyaan-pertanyaan itulah yang insya Allah terus memanggil saya untuk kembali "pulang" ke rumah yang telah saya huni sejak November 2005 ini. Bukankah blog ini telah melahirkan banyak hal dalam kehidupan saya dan orang lain. Bukankah melalui blog ini saya bisa merasa lebih berarti bagi orang banyak....


Pembaca, kalau anda mendapati blog ini tidak terupdate cukup lama, saya tidak akan banyak beralasan sibuk dan sebagainya. Ketika saya vakum, ya vakum aja. No reason. Ada istilah "hiatus", vakum untuk beberapa waktu untuk merenung, mengkaji ulang atau mencari ide. Mungkin itu sedang terjadi kepada saya. Yang jelas, blog ini tidak akan saya tinggalkan. Blog ini adalah wujud dari keberadaan saya sebagaimana Goenawan Mohamad dengan Caping-nya. Insya Allah...


Selamat Berkarya di hari Senin yang cerah ini...


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA


NB: Hari ini, aktivitas utama saya di antaranya adalah menemani tim Manet untuk pemotretan halaman fashion khusus Manet di Edisi Khusus majalah Paras

Foto diambil dari sini

Undangan: TDA Forum Bersama Tonton Taufik, Eksportir yang Sukses dengan Internet Marketing

Assalamu'alaikum wr.wb...

Salam FUNtastic SuksesMulia !

Jangan lewatkan !

Forum Jumat TDA bulan ini,

Hari/tanggal : Jum'at 12 Juni 2009
Pukul : 18.30 - 21.00
Tempat : Wisata Makanan JaCC- Tn Abang Jakarta
Peserta : Anggota TDA dan Calon Anggota TDA
Biaya : Rp. 35.000,- (langsung bayar ditempat)

Semua orang diperkenankan hadir, baik member TDA maupun calon member, member lama maupun baru. Ajang silahturahim, sharing ilmu dan sinergi bulanan komunitas TDA.

Tema : " Tips Sukses Bisnis Online"
Oleh : Pak Tonton Taufik ( http://rattanland.com)

Contact Person:

Dwi Wahyono, telpon : 08161166005
Siska Tri Hapsari, telpon: 081318114437
Rery IK, telpon : 08128026943
Nur Alam, telpon : 08159804831

Catatan:
Kepada seluruh member yang ingin menjadi sponsor, donatur atau memberi doorprize pada acara Forum Jum'at TDA dipersilahkan menghubungi TDA EO di email, sehingga anda bisa sekaligus mem-promosikan usaha, produk dan jasa anda.

Have a FUNtastic SuksesMulia Business and Life !!!

Wassalam,
TDA EO


-----------------------


Siapa itu Tonton Taufik? Silakan baca kutipan yang saya ambil dari www.niriah.com


Sebagian besar, kalau tidak semua, kisah sukses para wirausahawan selalu dimulai dari kata "coba-coba". Bedanya, "coba-coba" yang ini dilandasi dengan intuisi yang bagus, kepekaan melihat peluang dan visi ke depan yang jauh. Dan, semua itu ada pada diri Tonton Taufik ketika memutuskan untuk berbisnis lewat internet. Terbilang nekad mengingat ia tak memiliki latar belakang pendidikan formal bidang IT, melainkan Teknik Sipil (Unpar, Bandung). Namun, setidaknya kenekatan itu masih didukung dengan gelar MBA yang diperolehnya dari ITB. Sedangkan inspirasinya datang dari CNN.



"Waktu itu lihat iklan di CNN yang mengatakan 85% buyer datang dari search engine," kenang Tonton ketika ditemui Niriah.com di sela kesibukannya menjadi pembicara seminar Internet Marketing yang diselenggarakan oleh Hewlett-Packard di Blitz, Grand Indonesia, Jakarta, 28-29 Nopember 2007.


Dengan modal awal kira-kira Rp 5 juta, di bawah bendera Rattandland Furniture, ia membeli domain, membuat website dan menawarkan produk meubel dari rotan untuk pasar luar negeri. Waktu itu menjelang penghujung 1999 dan, ia memulainya "...benar-benar mulai dari nol, sebelumnya saya nganggur dan susah nyari kerja," ujar pengusaha kelahiran Bandung (14 Agustus 1974) yang kini menetap dan menjalankan bisnisnya di Cirebon itu. Kendati demikian, usaha bisnis rotan bukanlah sesuatu yang sama sekali asing baginya; ia pernah menjadi perantara jasa finishing meubel rotan.


Dari website itulah, Tonton mendapatkan buyer satu demi satu, hingga sekarang telah berjumlah 72 perusahaan dari berbagai negara yang membeli produknya. Meskipun sukses itu tak serta-merta, namun boleh dibilang juga bahwa ia tak banyak mengeluarkan keringat untuk apa yang dicapainya sekarang. Semuanya dikerjakan oleh teknologi. Kuncinya, "Website dibikin dengan benar sedemikian rupa sehingga berada di peringkat atas dalam situs-situs search engine," ungkap suami dari seorang dokter gigi dan ayah dari dua orang putera masing-masing berusia 4 dan 2,5 tahun itu.


Tonton terus memperbaiki websitenya seiring dengan perkembangan perusahaannya yang sebelumnya berbentuk CV menjadi PT pada 2003 karena domain rattanland juga berubah menjadi dotcom. Kini Tonton telah memiliki sejumlah website lain untuk mewadahi bisnisnya yang terus tumbuh, yakni tradeworld.com, theteak.com dan woodfurniture.net. "Perkembangannya termasuk cepat dan saya tidak membayangkan akan sesukses ini," tutur dia seraya menyebut bahwa saat ini omset usahanya lebih dari Rp 1 miliar per bulan. Banyak orang mengirim email kepadanya, menanyakan rahasia suksesnya berbisnis lewat internet dan dia pertama kali selalu menekankan untuk membuat website dengan benar agar tertangkap oleh mesin pencari seperti Google.

Foto: Niriah.com

Temukan Lima Rahasia Hidup Sebelum Mati

Saat ingin membayar di kasir Gramedia Mal Taman Anggrek, tanpa sengaja mata saya menemukan sebuah buku ditumpuk rapi di rak yang menempel di dinding. Temukan Lima Rahasia Sebelum Mati, demikian judulnya. Ditulis oleh John Izzo Ph.D. Saya tidak pernah mendengar nama penulis ini meski pun tertulis di bawah namanya yang menyatakan ia adalah international best selling author.

Selain judul yang membuat saya semakin yakin dengan isi buku ini adalah endorsement dari Stephen R. Covey yang mengatakan, "Berapa pun usia anda, anda harus segera membaca buku ini. Kebijakan sejatinya akan menawan anda."


Dalam pengantarnya, penulis mengatakan bahwa buku ini adalah hasil dari wawancara lebih dari 200 narasumber berusia di atas 60 tahun, yang oleh orang-orang terdekatnya dianggap telah menemukan kebahagiaan dan makna hidup.


Sebagai seorang "pembelajar" yang selalu punya rasa ingin tahu tinggi, saya pun tertarik dengan "misteri" bagaimana menjalani hidup yang bahagia hingga ajal menjemput ini. Misteri bagaimana mereka yang telah sepuh menjalani hidupnya selalu menarik saya yang sedang dalam perjalanan ke sana.


Para narasumber di buku ini diambil dari berbagai latar belakang, jenis kelamin, pekerjaan, ras, dan agama. Hasilnya, John Izzo menarik benang merah di antara mereka semua yang telah menjalani hidupnya dengann bahagia menjadi 5 "rahasia" yang menurut saya sebenarnya sudah bukan rahasia lagi - karena sudah sering saya dengar baik dari para pendakwah atau pun inspirator-, yaitu:


Rahasia pertama: Jujurlah pada diri sendiri.


Pembeda orang yang hidup sejahtera dan bahagia dengan kebanyakan orang lainnya adalah kebiasaan mereka untuk bertanya kepada dirinya sendiri: "Adakah mereka sudah menjalani kehidupan yang mereka inginkan dan mengikuti bisikan hati untuk mendapatkan jawaban yang dicari." Rahasia pertama itu adalah jujur pada diri sendiri, pada 'aku' yang sejati, dan hidup untuk sebuah tujuan.


Untuk bisa bersetia pada kata hati dan jujur pada diri sendiri, terlebih dahulu kita harus bertekad untuk hidup dengan sepenuh kesadaran. "Hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dijalani", kata Socrates.


Dalam keseharian, saya banyak mengamati orang-orang yang hidup seperti mummi. Maksudnya, ia berjalan setiap hari ke sana ke mari, tapi hanya raganya, bukan jiwanya. Ia menjalani hidup dengan "skenario" yang dibuatkan oleh orang lain untuknya. Ia "terpaksa" menjalani hidup seperti itu karena tidak ada pilihan atau tidak ada keberanian. Keberanian untuk jujur kepada dirinya sendiri untuk bertanya: apa yang saya inginkan dalam hidup ini sesungguhnya?


Banyak orang yang hidup menjalani skenario yang dibuat oleh atasannya, kantornya, guru/dosennya, teman-teman dan lingkungannya, atau orang tuanya.


Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan seorang teman lama yang sedang di persimpangan. Ia ingin menjalani hidup sesuai dengan kata hatinya, tapi ia belum punya keberanian untuk mengambil risiko itu. Saya kira, teman ini tidak sendirian. Banyak di antara kita juga mengalami hal serupa.


"Jika anda tidak terus-menerus mengkaji kehidupan anda untuk memastikan anda selalu berada di jalur yang benar, ada kemungkinan anda menjalani kehidupan orang lain", tulis John Izzo.


Kuncinya adalah mendengarkan kata hati, yaitu kedisiplinan untuk mendengar bisikan hati dan keberanian untuk mengikutinya. Dalam Islam, kita ini bertugas sebagai khalifah Allah di bumi. Peran-peran yang kita mainkan saat ini adalah dalam rangka itu. Pastikan peran itu adalah yang sejalan dengan passion dan kata hati kita.


Rahasia kedua: Jangan ada penyesalan


Agar kelak kita dapat meninggalkan dunia ini tanpa dibebani penyesalan yang dalam, kita harus menjalani hidup dengan berani, gigih mengejar apa yang kita cita-citakan dan jangan menjauh dari apa yang kita takuti.


Agar tak ada penyesalan di kemudian hari, kita harus mampu mengatasi berbagai kekecewaan yang niscaya akan muncul di dalam kehidupan kita.


Dari mereka yang diwawancarai, tak seorang pun menyesal telah berusaha namun gagal. Justru kebanyakan merasa sedih lantaran kurang berani mengambil risiko.


Kesadaran bahwa kita kemungkinan besar akan menyesal karena tak berani mencoba dapat berdampak terhadap cara kita mengambil keputusan. Sepertinya, kegagalan bukanlah sesuatu yang paling disesalkan kebanyakan; justru keputusan tak mengambil risiko sama sekali itulah yang perlu ditakuti.


Kita tak pernah bisa memastikan kesuksesan akan tercapai, sebab setiap upaya kita senantiasa mengandung risiko kegagalan. Kita tidak bisa memastikan keberhasilan akan mudah diraih, tapi kita dapat memastikan kegagalan dengan tidak mencobanya sama sekali.


Rasa sesal yang sering teringat sampai sekarang adalah ketika masa kuliah dulu. Saya mengikuti salah satu unit kegiatan mahasiswa yaitu Unit Penalaran Ilmiah. Salah satu programnya adalah mengirimkan delegasi mahasiswa setiap tahun menghadiri Harvard Project for Asian and International Relations yang diselenggarakan oleh Universitas Harvard dan diikuti oleh mahasiswa dari negara-negara di Asia.


Ketika dapat dua kali kesempatan untuk berangkat ke Amerika dan Korea Selatan, saya malah membatalkan keikutsertaan dengan alasan bahwa saya anti dengan Amerika. Ketika itu memang sentimen anti Amerika cukup tinggi gara-gara konflik di Palestina dan Bosnia. Akhirnya saya hanya bisa memandangi foto-foto teman-teman saya yang berangkat. Salah satunya adalah ketika mereka bersalaman dengan Presiden Korsel. Duh, nyesel deh...


Meskipun akhirnya saya ikut juga ketika Indonesia menjadi tuan rumah di tahun 1995, tapi peluang ke luar negeri dengan biaya nyaris gratis itu tetap membuat saya menyesal. Kapan lagi ke luar negeri disambut dengah hormat oleh para petinggi negara tersebut?


Rahasia ketiga: Jadilah cinta


David (70 tahun) mengisahkan saat ayahnya menjelang kematian. Seluruh keluarga telah berkumpul. Ia mengingat bahwa ayahnya sama sekali tidak pernah membicarakan harta yang ia miliki. Tak sekali pun ia menyinggung perihal mobil, rumah atau harta kekayaan yang berhasil ia kumpulkan semasa hidupnya.


Sebaliknya, ia malah minta diambilkan semua koleksi album foto-foto yang menunjukkan momen-momen paling istimewa dalam hidupnya - foto pernikahan, kelahiran anak-anaknya, acara rekreasi keluarga, dan saat-saat paling berkesan di tengah-tengah para sahabatnya.


"Saat ajal menjelang, manakaala waktu kita tinggal sedikit tersisa, cinta adalah satu-satunya hal yang kita butuhkan", demikian kesimpulan David.


Cinta adalah kehidupan, bila ia hilang, hilang pula kehidupan anda, kata Leo Buscaglia, filusuf Italia.


Dari ratusan wawancara yang dilakukan, semakin jelas bahwa cinta, baik itu memberi atau menerima, merupakan unsur utama bagi terciptanya kehidupan manusia yang bahagia dan jelas tujuannya.


"Menjadi Cinta", tentulah tidak mudah menjalaninya. Hal terpenting, untuk menjalani hidup bahagia penuh tujuan dan makna adalah bukan hanya meneriima uluran cinta, tapi kita harus mejadi manusia penuh cinta kasih. Kita bisa memberi tanpa cinta, tapi kita tidak bisa mencinta tanpa memberi. Sebuah renungan bagi kita semua.


Rahasia keempat: Jalanilah hidup dengan sepenuh hati


Manusia yang selalu hidup untuk esok hari tak akan pernah mencapai mimpi-mimpinya, kata Leo Buscaglia.


Jika hidup memang begitu singkat, maka salah satu rahasia untuk meraih bahagia adalah dengan semaksimal mungkin menikmatii dan memanfaatkan waktu yang sempit itu, dan mengupayakan setiap detik dan hari yang kita lalui benar-benar menjadi sebuah anugerah. "Tingkatkanlah kualitas waktu", kata Thoreau, filusuf Amerika.


Setelah menyimak kisah hidup ratusan orang yang diwawancarai, akhirnya John Izzo menyimpulkan bahwa rahasia keempat itu adalah menjalani hidup dengan sepenuh hati.


Pendek kata, menjalani hidup dengan sepenuh hati berarti menjalani, menghayati, dan mensyukuri setiap detik kehidupan kita, bukannya menilai dan melaknati kehidupan. Dengan kata lain, janganlah kita terlalu pusing dengan masa lalu dan masa depan, melainkan jalanilah setiap detik dalam hidup ini dengan penuh rasa syukur dan tekad yang teguh. Kita harus sadar bahwa kita memiliki kekuatan hati untuk berpuas hati dan berbahagia.


Saya tak boleh menilai atau mengeluhkan kehidupan saya. Saya harus menikmati dan mensyukurinya apa adanya.


Sudah banyak sebetulnya buku yang mengajarkan ini. Be present, kata Spencer Johnson. The Power of Now, kata Eckhart Tolle. Semuanya sama, mengajarkan kita untuk menikmati dan mensyukuri kekinian. Today is a present, hadiah. Nikmatilah bersama orang-orang yang anda cintai.


Aktivitas saya di pagi hari kadang begitu remeh, seperti mengajak Vito jalan-jalan, memandikannya, memberi makan ikan di kolam, menyirami dan merawat tanaman, menulis blog ini, minum segelas jus dan semangkuk bubur oatmeal, melakukan peregangan otot.... Semua itu begitu saya nikmati dan tidak saya anggap sebagai pekerjaan atau kewajiban. Saya menikmatinya dengan sepenuh hati. Saya merasakan begitu flow ketika menjalankan "ritual" itu. Saya merasa bahagia. Saya merasa cukup. Saya merasa terpenuhi.


Sebagai Muslim, saya diajarkan bahwa waktu itu harus dimanfaatkan untuk ibadah, baik ritual mau pun dalam arti luas. Maka, menulis blog ini pun bisa bernilai ibadah.


Rahasia kelima: Berikan lebih banyak dari yang anda terima


Rahasia yang sebenarnya cukup klise. Apalagi saya baru saja menuliskannya di postingan beberapa hari lalu, ketika membahas buku The Go-Giver.


Namun, patut disimak kisah menarik ini.


Beberapa tahun lalu penulis menghadiri pemakaman seorang pria. Ternyata pemakaman itu tak dihadiri oleh seorang pun pelayat. Belakangan ia mengetahui bahwa seumur hidupnya pria itu hanya mementingkan kepentingan pribadinya semata.


Berbeda dengan pemakaman kakeknya. Betapa terkejutnya keluarga mereka ketika jumlah pelayat yang hadir begitu banyak, di luar dugaan. Padahal kakeknya semasa hidupnya dikenal sebagai sosok pendiam. Para pelayat itu menuturkan bahwa mendiang kakek telah mengubah hidup mereka.


Seorang lelaki bercerita bahwa suatu hari lima tahun silam, dia sedang berdiri kebingungan di depan toko pakaian, memandangi sebuah gaun yang ingin ia hadiahkan kepada puterinya. Namun uangnya tidak cukup. Kebetulan kakek berjalan melintasi toko itu. Setelah ngobrol sesaat, kakek bersikeras membeli gaun itu meskipun uangnya sendiri pas-pasan, sambil berpesan "Engkau boleh kembalikan uang itu kalau sudah ada."


Dari jawaban-jawaban yang dikumpulkan penulis, akhirnya ditemukanlah rahasia kelima yang harus digali sebelum mati, yaitu berikanlah lebih banyak daripada yang anda dapatkan.


Semoga bermanfaat. Buku ini begitu luar biasa dan berharga. Highly recommended!


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Punya Kantor Tapi Tidak Punya Ruang Kerja

Saya memberikan ruang kerja pribadi saya kepada tim kreatif untuk mereka pakai. Pasalnya, ruangan mereka ACnya mati dan butuh biaya cukup besar untuk menggantikannya. Ada 4 AC yang seharusnya diganti. Setelah dihitung, ternyata anggarannya tidak mencukupi.

Sejak awal tahun saya memang sudah mencanangkan kebijakan uang ketat. Harus hemat pengeluaran. Maklum, lagi krisis, jadi harus hati-hati untuk keluar uang. Kalau pun harus keluar, harus dihitung betul efektivitas penggunaannya.


Saya memberikan 3 pilihan kepada tim saya:


1. Mengganti AC dengan yang baru dengan anggaran sekian. Ternyata tidak mencukupi.


2. Memperbaiki AC yang rusak. Ternyata kondisi AC tersebut sudah sekarat dan sulit diperbaiki.


3. Menawarkan ruangan saya untuk dipakai. Pasalnya, saya jarang ke kantor dan lebih banyak melakukan pekerjaan dari rumah. Pekerjaan saya sebenarnya sederhana tapi bernilai mahal, yaitu: berpikir. Hehe...


Akhirnya mereka memutuskan untuk memilih yang ketiga. Ya sudah, saya pun harus mengalah dan tersingkir. Sekarang saya tidak punya ruangan pribadi. Sekarang saya sering "menumpang" untuk sekedar membuka laptop atau menggunakan telepon kantor.


Beruntung, sejak awal tahun ini ruangan lantai dasar sudah direnovasi. Sebagian untuk ruangan display produk dan menerima pembeli. Sisanya ada 2 ruangan meeting yang cukup nyaman untuk bertemu dengan mitra atau tamu lainnya. Nah, di ruangan multi fungsi inilah saya sering duduk-duduk menerima tamu, membaca dan sebagainya.


Ternyata, keputusan saya yang cukup "heroik" dan out of the box ini dibela oleh Keith R. McFarland, penulis buku The Breakthrough Company yang sedang saya baca.


Ia mengatakan, bahwa perusahaan hebat yang ia teliti melakukan hal ini, yaitu "memahkotai perusahaan". Apa maksudnya? Perusahaan-perusahaan yang hebat dan melakukan breakthrough, dalam risetnya, berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan organisasi yang dibangun di atas dasar keyakinan bahwa kebaikan organisasi, harus menjadi penggerak perusahaan.


Pertanyaannya, apakan suatu organisasi dibangun untuk memenuhi kebutuhan pemimpinnya atau keluarga pendirinya, ataukah ia dipergunakan untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada siapa pun yang menjadi anggotanya?


Apakah perusahaan saya membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada pemiliknya? Itu pertanyaan berat yang harus saya jawab dengan bukti nyata. It's easier said than done.


Pemilik perusahaan yang menyadari hal ini harus meletakkan kepentingan perusahaan di atas kepentingan mereka sendiri, mengarahkan kekuatan dari semua tingkatan untuk membangun masa depan perusahaan.


Ada sangat banyak pemimpin, yang telah mencapai keberhasilan hingga tataran tertentu, yang cenderung menjadikan organisasi mereka menjadi hamba bagi kepentingan mereka sendiri.


Hmm... saya jadi teringat para eksekutif perusahaan besar yang tengah kolaps meregang nyawa di Amerika sana. Mereka lalu lalang dengan pesawat jet pribadi, bahkan ketika hendak "mengemis" dana talangan dari pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan mereka. Sbuah perusahaan yang telah di-bail-out oleh pemerintah, dananya digunakan untuk membayar bonus para eksekutifnya sampai puluhan juta dollar. Biarlah perusahaan bangkrut, yang penting gue tetap hidup enak, nyaman dan tenteram, mungkin itu pikiran yang ada di benak mereka.


Di bisnis UKM, saya sering menyaksikan para pemilik bisnis yang bergaya selangit. Belum apa-apa sudah beli mobil mewah dan rumah megah. Padahal, gironya sering mental. Yang penting gaya dulu, soal hutang itu persoalan nanti. Apalagi mereka "merasa" punya bargaining yang kuat terhadap mitra bisnisnya.


Teringat dengan Sam Walton, orang terkaya di dunia pemilik Wal Mart. Dia itu biar pun sudah kaya bukan kepalang, ke mana-mana masih tetap mengendarai mobil truk tuanya. Kalau naik pesawat, selalu kelas ekonomi. Tidur di hotel pun selalu yang kelas murah dan tempat tidurnya bisa di-sharing dengan rombongannya.


Tulisan ini sekaligus mengingatkan diri saya pribadi. Apakah saya tengah memahkotai diri saya sendiri atau perusahaan? Paling tidak, saya merasa cukup nyaman dengan keputusan yang telah saya ambil itu. Saya mengalah untuk "memahkotai" perusahaan saya.


Bagaimana dengan anda?


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Undangan: Roni's Book and Learning Club Ke-2, Sabtu 13 Juni 2009

Melanjutkan pertemuan RBLC pertama, saya mengundang teman-teman yang berminat untuk hadir di RBLC kedua yang diadakan pada:

Hari, waktu: Sabtu, 13 Juni 2009 jam 09.00 - 13.00
Tempat: di kediaman saya (akan diemail secara japri)
Pendaftaran: Silakan daftar ke email pribadi saya di roniyuzirman(at)gmail.com dengan format:
- Nama:
- Alamat:
- No HP:
- Judul buku yang akan dipresentasikan: (setiap yang hadir diwajibkan menceritakan buku menarik yang telah dibacanya dan bermaanfaat buat yang lain)

RBLC ini konsepnya adalah saling tukar ilmu untuk sukses bersama, merujuk kepada tulisan saya ini.

Jumlah peserta dibatasi sampai 15 orang saja. Berhubung di pertemuan pertama sudah ada 7 orang, maka mereka akan diprioritaskan.

Belajar dari pertemuan pertama, untuk kali ini bagi yang sudah menerima email konfirmasi dari saya harap berkomitmen untuk hadir. Ketidakhadiran harap diberitahukan paling telat 3 hari sebelumnya, sehingga saya bisa mengundang penggantinya.

Demikian undangan dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan harap maklum.

Wassalam,

Roni

Bung, Sekarang Eranya Horizontal Marketing! (Belajar dari Kasus Prita vs RS Omni International)

Pagi ini saya buka Facebook dan menemukan cause yang mendukung Prita, seorang ibu rumah tangga yang tengah di tahan di Lapas Wanita Tangerang gara-gara menulis keluhan pelayanan rumah sakit Omni International Alam Sutera di sebuah milis. Jumlah pendukungnya sudah mencapai 18.000 orang! Kompas dan beberapa media televisi juga memberitakannya. Heboh dan beritanya menjalar menjadi virus ke mana-mana.

Secara hukum, pihak RS Omni menang dan berhasil memenjarakan ibu dua anak yang masih berusian 1 dan 3 tahun ini. Tapi secara opini, rumah sakit ini telah babak belur dan menjadi bulan-bulanan opini di masyarakat khususnya di ranah online. Kalau tidak bijak bersikap dan bertindak, rumah sakit ini dari "kehilangan kambing" bisa menjadi "kehilangan sapi".


Saya jadi teringat dengan bukunya Mas Yuswohady berjudul CROWD, Marketing Becomes Horizontal. Menurutnya, kelahiran web technologies seperti blog, mailing list, social networking seperti Facebook, internet messenger telah mengubah DNA konsumen. Tools tersebut telah membebaskan potensi konsumen untuk berkomunikasi, berinteraksi, berbagi dan berkomunitas.


Akibatnya, secara natural konsumen pun bermetamorfose menjadi mahluk yang semakin mengelompok, berinteraksi intens satu sama lain, dan berkomunitas - membentuk crowd.


Ketika konsumen berubah, maka pendekatan pemasaran pun harus diputar haluan. Perusahaan harus bisa menemukan strategi baru dan meramu sumber-sumber kesuksesan baru.


Menurut Mas Siwo - demikian ia biasa dipanggil - ada dua elemen penting pemasaran masa depan, yaitu word of mouth (sering disebut "evangelism" atau net promoter) dan komunitas pelanggan.


Saya sendiri sebagai pelaku bisnis online dengan webstore Manet sejak 2003 juga merasakan perubahan konsumen ini. Terakhir, saya dikagetkan oleh sebuah komentar di blog saya dari seorang pelanggan yang kecewa.


Ia menuliskan kekecewaannya terhadap pelayanan kami karena jaminan uang kembali belum juga diterimanya. Saya pun sempat panik, mengingat blog itu dibaca oleh 500-an orang setiap harinya. Ini bisa menjadi word of mouth yang buruk buat pelayana Manet.


Setelah saya cek, ternyata kesalahan bukan di pihak kami, melainkan di pihak bank penerima di tempat pelanggan itu. Akhirnya ia pun minta maaf dan menyesali perbuatannya.


Tapi, nasi sudah jadi bubur. The damage is already done. Semua pembaca blog saya pasti membaca keluhan itu. Padahal, jumlah uangnya sendiri tidaklah seberapa.


Mulai saat itu saya pun menyadari bahwa eranya sudah berubah. Sekarang eranya adalah keterbukaan. Konsumen punya posisi dan kemampuan yang sama dengan perusahaan. Perusahaan tidak bisa membendung konsumen yang beropini di era teknologi internet saat ini.


Beruntung, tak lama setelah kejadian itu MarkPlus mengkampanyekan konsep Horizontal Marketing itu. Saya pun jadi paham dan mau tidak mau harus siap beradaptasi dengan perubahan ini. Perusahaan saat ini harus siap "ditelanjangi" dan "dibedah" oleh pelanggannya sendiri. Yang penting adalah bagaimana perusahaan menyikapinya.


Dell Computer, kabarnya meluncurkan produk yang berawal dari keluhan pelanggannya yang disebar di internet. Ketimbang memenjarakan negative talker ini, ia malah dirangkul dan dilibatkan untuk merancang produk baru yang sesuai dengan keinginannya. Pelanggan ini pun merasa senang dan bangga. Ia pun berubah menjadi positive talker dan bahkan menjadi brand evangelist. Ia pun berbicara dan menuliskan pengalamannya di ke mana-mana.


Belajar dari pengalaman ini Dell pun kemudian meluncurkan situs IdeaStorm di mana para konsumennya bisa memberi usulan yang akan diwujudkan oleh Dell. Starbucks juga melakukan hal serupa dengan meluncurkan MyStarbuckIdeas.


Yuswohady pun menawarkan beberapa poin manifesto untuk perhatikan betul oleh perusahaan, di antaranya: net creates NETWORKED customers, customers are EVANGELIST, treat them as MEMBER, EXPRESS their aspiration, FACILITATING is reason for being, join honest CONVERSATION, CO-CREATE solutions.


Saya pikir kalau pihak RS Omni International telah membaca buku ini, tindakannya akan lain dan hasilnya pun tentu akan berbeda. Mereka akan memperoleh simpati oleh khalayak, terutama kelas menengah yang powerful dalam membentuk opini, dan tentu saja mereka bisa mendapat keuntungan secara marketing dari peristiwa ini.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas


NB: Oya, sedikit saya tambahkan, saat ini Mas Siwo juga menjadi brand evangelist buat Komunitas TDA. Ia pun mengabadikannya dalam sebuah tulisan di blognya. TDA juga menjadi studi kasus dalam workshop-workshop MarkPlus. Saya sendiri pernah menjadi bintang tamu dalam salah satu workshopnya di Bank Syariah Mandiri. Thanks to Mas Siwo...

The Go-Giver, Meraih Sukses dengan Memberi

Sebuah buku hebat baru saja saya tuntaskan. Setelah Who Moved My Cheese, inilah buku bertopik inspirasi bisnis yang dikemas dengan gaya bercerita sederhana namun sangat mencerahkan.

Berkat Who Moved My Cheese-lah saya nekat memberanikan diri mengambil keputusan untuk hengkang dari Tanah Abang tahun 2004 dan memulai sebuah perjalanan yang baru dari nol. Sebuah sejarah titik balik dalam bisnis dan kehidupan saya.


Nah, buku The Go-Giver berkover merah karya Bob Burd dan John David mann ini bisa jadi akan berperan tidak kalah penting dalam kehidupan saya. Buku ini memberi arah sekaligus menguatkan saya.Kenapa? Tentu ada beberapa alasannya.


Buku ini saya ketahui dari Mas Wasis Gunarto, seorang teman TDA praktisi bisnis kuliner yang juga moderator milis Jalansutra serta menjadi tim kreatif acara Wisata Kuliner-nya Bondan Winarno.


"Pak, udah baca The Go-Giver belum?", tanyanya melalui pesan di Facebook.


"Belum", jawab saya.


"Itu buku bagus dan banyak kaitannya dengan TDA", balasnya.


Saya pun menjadi penasaran dan melakukan riset browsing di Google. Ternyata betul, buku ini wajib saya miliki, batin saya.


Buku ini mengisahkan seorang eksekutif bernama Joe yang begitu ambisius mengejar sukses tapi tak kunjung diraihnya. Akhirnya ia berkonsultasi dengan Gus, teman sekantornya yang begitu sukses tapi diraihnya tidak dengan begitu ambisius, melainkan secara santai dan enjoy.


Dari Gus ia dipertemukan dengan Pindar, Sang Guru Sukses yang menjadi panutan Gus. Dari sinilah cerita mengalir. Pindar memperkenalkan 5 Hukum Kesuksesan Tertinggi yang selama ini menjadi misteri bagi Joe, melalui perbincangan dengan orang-orang sukses yang diperkenalkan kepadanya.


Berikut ini adalah 5 Hukum Kesuksesan itu dan sedikit penafsiran saya terkait dengan bisnis saya dan Komunitas TDA.


1. Hukum Nilai. Nilai anda sebenarnya ditentukan oleh berapa banyak yang anda berikan dalam bentuk nilai lebih daripada pembayaran yang anda peroleh.


Kaitannya dengan sukses TDA, saya teringat dengan pesan Pak Erie Sudewo (penasehat TDA). Beliau mengatakan bahwa produk TDA adalah nilai (value). Itu betul. Sejak awal TDA didirikan, produknya adalah nilai yang selalu diberikan kepada member tanpa henti dan penuh dengan komitmen tinggi dari para aktivisnya.


Lantas, apa pembayaran yang saya dan teman-teman aktivis TDA terima? Secara materi saya katakan, tidak ada. Tapi secara immateri, saya berani mengatakan sangat besar sekali. "Bayarannya" telah dinikmati oleh saya dan teman-teman aktivis TDA dalam bentuk "lain" yang tidak dapat dinilai dengan uang.


Selalulah berfokus kepada nilai tambah, nilai tambah dan nilai tambah. Insya Allah, the money will follow.


2. Hukum Kompensasi. Pendapatan anda ditentukan oleh seberapa banyak orang yang anda layani dan sebagus apa anda melayani mereka.


Setuju 100% saya dengan pendapat ini. Bill Gates, mungkin telah melayani puluhan juta orang pengguna produknya. Tak heran dia begitu kayanya.


Berapa orang yang anda layani melalui bisnis anda saat ini? Seratus? Seribu? Sepuluh ribu? Seratus ribu? Sejuta? Nah, setelah ketemu jumlahnya, silakan kalikan sendiri.


Semakin besar jumlahnya, tentu semakin besar juga hasil yang ada peroleh. Faktor kali, adalah istilah yang sering dikatakan oleh Pak Tung DW. Kurang lebih maksudnya adalah seperti ini.


3. Hukum Pengaruh. Pengaruh anda ditentukan oleh berapa besar anda mendahulukan kepentingan orang lain.


Inilah yang terberat. Di sinilah peran leadership seseorang diuji. Mampukah ia meleburkan dirinya untuk kepentingan orang lain. Mampukah ia menjadi "pengungkit bagi kesuksesan" orang lain, menurut istilah Pak Jamil Azzaini saat memberikan training Kubik Leadership di TDA beberapa waktu lalu.


Saya meyakini hal ini karena telah berulang kali membuktikannya di TDA. TDA dibangun dengan semangat ini. TDA telah dan akan terus menjadi "pengungkit" sukses bagi para membernya.


Lantas, bagaimana dengan sukses saya sendiri? Otomatis. Otomatis saya pun akan sukses dengan sendirinya, karena terjadi fenomena "saling mengungkit" di TDA. Tanpa saya sadari, tanpa saya minta pun selalu ada saja pihak-pihak yang kemudian menjadi pengungkit kesuksesan saya dari arah yang tak disangka-sangka.


Semua itu harus diawali dari mindset "the power of abundance". Cara berpikir keberlimpahan, lawan dari cara berpikir scarcity (kelangkaan). Saya percaya segala sesuatunya berlimpah di dunia ini. Tidak akan habis meski pun diperebutkan oleh miliaran mahluk Allah. Semuanya sudah disediakan cukup untuk saya. So, mengapa harus khawatir?


Hukum ini sekaligus mementahkan prinsip mereka yang menanggap bahwa pengaruh itu bisa dibeli, bisa dimanipulasi. Segala macam teori bagaimana mempengaruhi orang lain akan mentah kembali jika ia tidak mendahulukan kepentingan orang lain. Lihatlah Nabi Muhammad, lihatlah Gandhi, lihatlah Mother Theresa, lihatlah Mandela. Mereka semua telah mencontohkan kehidupan yang mementingkan orang lain.


4. Hukum Autensitas. Hadiah paling berharga yang harus anda tawarkan adalah diri anda sendiri.


Saya teringat kata-kata bijak dari Ali bin Abi Thalib; kehadiran adalah hadiah terbesar. Hadiah terbesar bukanlah materi minus kehadiran. Hadiah terbesar bagi orang lain adalah diri kita sendiri, bukan diwakilkan.


Makanya, saya kurang setuju dengan pendapat kualitas pertemuan lebih penting ketimbang kuantitas pertemuan, ketika mereka menghadapi masalah kurangnya waktu pertemuan dengan keluarganya. Bagi saya, kuantitas akan menentukan kualitas. Sentuhan personal lebih mengena ketimbang sentuhan massal. Makanya isu marketing terkini adalah soal bagaimana konsumen bisa dilayani secara pribadi oleh perusahaan sebagai "manusia", bukan sekadar konsumen secara statistik. Saya sendiri perlu banyak belajar mengenai hal ini.


5. Hukum Kemampuan untuk Menerima. Kunci untuk memberi dengan efektif adalah secara terbuka untuk menerima.


Mungkin gerakan kembali ke hati dengan berikhlas yang dicanangkan oleh Pak Erbe Sentanu mewakili pernyataan ini. Kita harus bersedia menerima apa pun "bayaran" yang kita terima. Diberi besar alhamdulillah, diberi kecil pun alhamdulillah.


Belakangan ini saya sering diundang untuk mengisi seminar di berbagai tempat. Kompensasi yang saya terima mulai dari ucapan terima kasih dan plakat (baca: tanpa dibayar), uang ratusan ribu sampai jutaan sekali bicara.


Kalau saya berpatokan kepada kompensasi yang saya dapatkan, tentu saya akan menyeleksi setiap permintaan seminar berdasarkan ini. Tapi itu tidak saya lakukan. Ini adalah bagian dari kontribusi saya kepada masyarakat. Ini saya maknai sebagai bentuk "give back", ucapan terima kasih dan rasa syukur saya atas semua yang telah saya peroleh. Saya akhirnya hanya fokus kepada "nilai" dari presentasi yang saya berikan. Saya selalu concern dengan "nilai" optimal yang bisa saya berikan kepada audiens.


Pun demikian dengan berbisnis. Ketika target pertumbuhan tidak tercapai. Ketika masalah yang dihadapi lebih besar ketimbang hasil, ya harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Tidak perlu menyalahkan karena dari sikap itu tidak akan lahir pembelajaran.


Bisnis dan kehidupan ibarat menjalani roller coaster yang turun naik silih berganti. So, buat apa kecewa atau mengutuki hasil yang tidak sesuai harapan? Itu adalah the nature of life. Berjalan saja terus dan teruslah mendaki.


Buku ini mengangkat tema yang sebenarnya sudah sering kita dengar. The power of giving, atau kekuatan sedekah seperti yang selalu didengungkan oleh Ustad Yusuf Mansur. Tapi buku ini menggali lebih dalam topik ini sehingga menjadi lebih kaya, dalam dan kontektual.


Sebuah buku yang sangat inspiratif yang layak masuk dalam daftar buku referensi sekaligus buku terbaik saya di tahun 2009 ini.


Tulisan ini saya tutup dengan kata-kata Guru Harfan dalam film Laskar Pelangi, "Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan dengan menerima sebanyak-banyaknya."


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO