Alifmags: Komunitas Tangan Di Atas

Sungguh tak disangka, kebiasaan Badroni Yuzirman [Roni]untuk menuliskan perjalanan usahanya mengelola tiga toko di kawasan Tanah Abang yang dibimbing Haji Nuzli Arismal [Haji Ali] -ketua asosiasi pedagang di sana-memikat hati pembaca blog-nya. Para pembaca blog tersebut kemudian meminta Roni untuk bertemu muka bersama Haji Ali. Dalam diskusi tersebut, selain berbagi ilmu, Haji Ali menyebutkan bahwa 'tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah'.


Hasil kumpul-kumpul ini membuat hubungan ke empat puluh orang tersebut semakin erat. Maka akhirnya mereka membuat forum komunikasi melalui milis sebagai sarana saling berdiskusi dan berbagi ilmu mengenai kewirausahaan. Komunitas milis tersebut mereka namakan Komunitas Tangan di Atas.

Tanpa terasa anggota milis tersebut berkembang menjadi 3.500 orang. Mereka pun menyempurnakan komunitas mereka dengan membuat portal yang kini telah memiliki sekira 7.000 anggota dari hampir seluruh Indonesia. Selain itu, mereka mengembangkan komunitas ini menjadi sebuah organisasi yang memiliki motto 'Bersama Menebar Rahmat'. Melalui komunitas ini mereka membentuk kelompok-kelompok diskusi sebanyak 6 - 7 orang yang dinamakan* mastermind,*membuat forum Jum'at sebagai ajang diskusi dan bertukar pengalaman, seminar dengan meminta pakar-pakar di bidang wirausaha untuk membagikan ilmu dengan biaya yang ditekan sedemikian rupa bagi para anggota dan sebagainya.

Dalam forum diskusi tersebut kami saling menceritakan kesuksesan untuk memotivasi yang lain. Jika sedang kesulitan maka akan ada solusi dari teman yang lain," ucap Iim Rusyamsi, selaku Presiden Komunitas ini. Ia juga menekankan salah satu misi komunitas ini, yaitu menumbuhkan jiwa sosial anggotanya, "Jadi kalau ada anggota yang telah sukses, maka anggota tersebut memiliki kewajiban moral untuk berbagi ilmu dengan anggota yang lain."

Untuk mencapai salah satu misi komunitas ini, yaitu menciptakan 10.000 pengusaha sukses hingga tahun 2018, mereka juga mengupayakan *high trust community*. Di sana mereka dapat saling bersinergi berdasarkan kepercayaan yang tinggi di antara para anggotanya. "Namun jika seseorang melakukan pelanggaran, maka orang tersebut akan kami kenakan sanksi," tegas Iim.
Tertarik untuk bergabung atau tertantang menciptakan komunitas yang bermanfaat bagi banyak orang? « *[esthi]*

Sumber: http://alifmagz.com/wp/index.php/2009/05/13/komunitas-tangan-di-atas/

Revolusi Hati di Republik Ikhlas

Lantai lobby Hotel Santika Premiere dipenuhi begitu banyak orang bergerombol. Walau sempat berdebat dengan penjaga registrasi lantaran saya tidak membawa undangan, akhirnya saya diperkenankan masuk karena saya adalah salah satu undangan yang akan melakukan testimoni.

Acara ini cukup megah dan dengan persiapan matang. Di panggung tertulis dengan gagah "Seminar The Secret, The Spirit dan The Power of Indonesia, Kembalinya Kejayaan Nusantara". Acara ini memang diadakan dalam rangka perayaan Kebangkitan Nasional 2009 yang ditandai dengan pencanangan gerakan Revolusi Hati di Republik Ikhlas oleh Erbe Sentanu penulis buku bestseller Quantum Ikhlas.


Acara dimulai dengan naiknya 5 orang "Pejuang Ikhlas" yang akan menceritakan testimoninya dalam mempraktekkan ikhlas. Bersama saya, ada 4 orang lagi yang kisah hidupnya sungguh menginspirasi.


Seorang ibu yang juga senior lecturer di bidang komunikasi berbagi cerita ikhlas tentang kesembuhan anaknya yang sempat dirawat di ruang ICU. Setelah ia berikhlas, ternyata anaknya diberikan kesembuhan. Pun begitu ketika rumahnya menjadi korban banjir Situ Gintung yang melenyapkan banyak benda kesayangannya. Dengan berikhlas ia akhirnya merelakan semua itu, hatinya menjadi tenang dan damai. Toh semuanya milik Allah dan kembali kepadaNya. Ajaibnya, lukisan cat air kesayanngan yang sudah dipasrahkannya itu ternyata selamat dari luapan banjir. Beberapa saat setelah banjir, rekening tabungannya justru bertambah drastis yang berasal dari bantuan teman-teman sejawatnya. Bahkan ada yang memberikannya umroh gratis ke tanah suci. Subhanallah.


Ada lagi cerita seorang perempuan dari Surabaya. Kakinya bersepatu boots. Tadinya saya pikir dia ini gaya-gayaan saja. Ternyata itu untuk menutupi bekas operasi kakinya. "Tahun lalu kaki saya masih bengkak dan saya harus menggunakan kursi roda". Tidak hanya itu, staff akunting dari sebuah perusahaan PMA ini juga divonis dokter mengidap tumor di payudaranya sebanyak 13 titik. Segala upaya telah ia lakukan sampai tabungan dan asuransi terkuras habis. Suatu ketika dalam perjalanan di dalam mobil ia melihat awan di langit berbentuk seperti tangan. Seketika ia tertunduk pasrah kepada Yang Kuasa. Bahwa penyakit yang diidapnya ini adalah kehendakNya. Selepas itu, ajaib sakit kakinya sirna dan tumor pun menghilang.


Kisah saya sendiri sebenarnya sudah sering diulang. Pengalaman ikhlas saya terkait dengan peristiwa pengusiran kami dari toko di Tanah Abang dulu. Saya mendapat surat perintah dari Dirut PD Pasar Jaya untuk keluar dari toko itu dalam waktu 4 hari. Kalau tidak, mereka tidak bertanggung jawab terhadap segala isi toko. Dengan ketakutan dan rasa bingung, kami pun angkat kaki dari sana. Selidik punya selidik, ternyata itu adalah manipulasi dari tetangga di sebelah toko saya. Ia "berkoalisi"dengan pihak-pihak tertentu untuk menyingkirkan kami dari situ. Kenyataannya, setelah kami angkat kaki, toko itu ditawarkannya kepada calon penyewa lainnya. Saya menyaksikan sendiri ketika ia melakukan itu di depan saya tanpa ia sadari.


Masya Allah, saya hanya bisa mengurut dada. Pada saat itu saya punya 2 pilihan, menuntut hak saya (yang saya yakin bisa saya menangkan) atau mengikhlaskannya dan melanjutkan bisnis dan kehidupan saya dengan skenario baru.


Saya dan istri memilih untuk mengikhlaskannya. Dari sanalah "tangan Allah" kemudian berperan menuntun kami. Saya mulai bisnis online Manet tanun 2003 yang ketika itu baru ada 3 pemain saja. Boleh dibilang Manet adalah salah satu pelopor di bisnis online di bidang busana muslim. Alhamdulillah, perjuangan penuh keikhlasan (walau pun karena terpaksa) itu berbuah manis sampai sekarang. Bahkan majalah SWA menghargai kami dengan penghargaan Enterprise 50 tahun 2006, Manet diliput oleh hampir semua media yang ada baik online, cetak, radio mau pun televisi. Kisah sukses Manet sendiri telah menginsipasi lahirnya banyak bisnis serupa di Komunitas Tangan Di Atas.


Titik balik dari semua itu adalah peristiwa pengusiran itu. Sekarang saya sungguh berterima kasih kepada mereka yang "mendzalimi" kami dulu. Kalau tidak diusir, mungkin saya masih "gentayangan" di Tanah Abang yang selalu sibuk dan hiruk pikuk itu. Tidak mungkin juga saya bisa nge-blog karena selalu sibuk. Dan tidak mungkin juga lahir Komunitas TDA. Semua kisah ini telah saya tulis sebelumnya dan dimuat di buku Zona Ikhlas halaman 353 - 356.


Erbe Sentanu adalah salah seorang guru saya dalam belajar ikhlas. Ketika kami menghadapi pilihan sulit saat itu, kata-katanyalah yang selalu terngiang di benak saya: "pasrah", "release", jadikah hatimu seluas samudera. Ya, ketika itu beliau belum menggunakan istilah "ikhlas" seperti sekarang.


Dalam orasinya, Erbe Sentanu mengangkat isu krisis global yang melanda dunia saat ini. "Ini bukanlah krisis ekonomi. Ini bukanlah masalah sistim ekonomi. Ini adalah masalah krisis hati", ujarnya.


Hatilah yang mengendalikan keserakahan manusia yang menjadi penyebab semua ini. Sebaik apa pun sistimnya, kalau pengendalinya miskin hati, pastilah kejadian ini akan terus berulang. "Saya sudah perkirakan terjadinya hal ini sejak lama."


Orasi budaya dari seorang Erbe Sentanu yang didaulat sebagai pelopor teknologi ikhlas di Indonesia malam itu sungguh menarik. Bahkan ada seorang agamawan menitikkan air matanya ketika dibacakan narasi panjang penuh inpirasi dan permenungan mendalam itu.


Acara itu sendiri dihadiri oleh banyak kalangan dari artis, politikus, agamawan, dan pengusaha. Ruang Ballroom Betawi terasa tak mampu menampung peserta yang begitu sesak di luar perkiraan.


Terima kasih Mas Nunu atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Terima kasih atas ilmu dan tuntunannya kepada saya selama ini. Meski pun kita jarang bertemu, insya Allah kita berada di jalur orbit yang sama, di level quantum yang sama, di jalur perjuangan yang sama.


Salam Ikhlas.


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Foto: Tristiningsih

Joseph Hartanto: Terima Kasih Pak Roni dan TDA....Akhirnya Salah Satu Impian Saya Terwujud

Pak Roni dan teman teman TDA,

Melalui email ini, dari lubuk hati yang terdalam, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya untuk pak Roni yang sudah 'memaksa' saya untuk mulai menuliskan pemikiran pemikiran saya di blog 3 tahun yang lalu. Walaupun pada waktu itu, saya tidak tahu apa yang harus saya tulis, bagaimana memulainya dan bagaimana caranya membuat blog. Tapi karena malu hati, dan 'dipaksa' oleh pak Roni untuk sharing, akhirnya saya beranikan diri juga untuk membuat blog dan


mulai menulis, yang ternyata mendapat banyak respon yang positif dari banyak teman di TDA. Dan tanpa saya sadari ternyata tulisan tulisan saya di blog itulah yang akhirnya menjadi jembatan untuk mewujudkan salah satu BIG DREAM yang selama ini terpendam. Tentunya terima kasih juga untuk sesepuh TDA pak Haji Alay, buat seluruh teman teman di TDA untuk semua support dan dukungan selama ini.


Karena pada hari ini 20 Mei 2009 (Hari Kebangkitan Nasional...kok bisa pas ya?) salah satu BIG DREAM saya, untuk menulis sebuah buku yang bermanfaat dan mencerahkan bagi banyak orang telah terwujud. Buku ini saya beri judul "PROPERTY CASH MACHINE - Langkah Cerdas Membangun Kekayaan Melalui Properti Tanpa Modal" dan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama.


Ini adalah sebuah buku yang sangat dinantikan oleh banyak orang. Buku ini mengungkapkan rahasia dan fakta2 yang selama ini diimpikan dan didambakan oleh banyak orang, yaitu trik dan strategi bagaimana membeli properti tanpa mengeluarkan modal sepeserpun dari kantong kita


sendiri. Jika selama ini anda harus mengeluarkan uang jutaan rupiah bahkan puluhan juta untuk belajar ilmu membeli properti tanpa modal, sekarang dengan hanya bermodal beberapa puluh ribu rupiah, anda sudah bisa mempelajari ilmu tersebut.


Berikut adalah beberapa endorsment dari guru dan orang2 yang saya kagumi (termasuk pak Roni salah satunya) :


"Dalam buku Property Cash Machine ini, Joe Hartanto membagikan "teori sukses" yang TELAH DIPRAKTIKKAN DAN DIBUKTIKAN SENDIRI olehnya. Tentu ini bukan buku biasa! Baca, pelajari secara saksama, dan dapatkan kekuatannya untuk menciptakan sukses luar biasa di bidang properti!!!
-Andrie Wongso
Motivator No. 1 Indonesia


"Buku ini telah lama saya nantikan kehadirannya. Sebuah manual praktis untuk menjadi kaya melalui properti. Terima kasih, Pak Joe. Saya akan mempraktikkan isinya."
-Badroni Yuzirman, Founder Komunitas Tangan Di Atas


"Buku ini disusun dari hasil belajar, pemikiran yang mendalam, dan yang terpenting dari PENGALAMAN PRAKTIK! Sungguh bermanfaat!"
-Tung Desem Waringin
Pengarang buku terlaris versi MURI (Financial Revolution dan Marketing Revolution)


"Buku ini SANGAT LUGAS, membuka misteri yang selama ini ingin diketahui oleh banyak orang. Misteri itu saya sebut "CARA GILA BELI PROPERTI-Dapat Properti tanpa Modal, dan Malah Dapat Modal". Bacalah buku ini, dan Anda akan mendapat ilmu praktik yang sangat mahal nilainya."
-Purdi E Chandra, MBA
Penulis buku bestseller Cara Gila Jadi Pengusaha, pemilik dan pendiri PRIMAGAMA Group dan Entrepreneur University



Buku ini sangat cocok bagi anda yang ingin memiliki mesin uang bernama properti, jika anda selama ini berpikir bahwa membeli properti membutuhkan modal besar.........tunggu sampai anda membaca buku ini, pikiran anda akan diputar balikkan 180%. Anda akan mendapatkan banyak trik dan strategi jitu yang telah teruji dan dipraktekkan di lapangan.


Dalam buku ini anda akan mempelajari :
1. Pola pikir seorang investor properti
2. Enam keahlian utama seorang investor properti
3. Sepuluh sumber utama Hot Deal Properti
4. Kunci sukses berburu Hot Deal Properti
5. Strategi strategi membeli properti tanpa modal
6. Strategi agar 99% bank menyetujui permohonan kredit anda
7. Strategi menjual properti anda, tapi tetap memilikinya
8. Road map mencapai kebebasan finansial melalui properti tanpa modal
9. dan banyak lagi strategi lainnya yang anda perlukan...


Selamat membaca dan membeli properti tanpa modal! Dan semoga buku ini akan memberikan banyak manfaat bagi banyak orang yang membacanya.


Salam Sukses,
Joe Hartanto
www.joehartanto.com
www.propertycashmachine.com


NB : Buku bisa segera didapatkan di toko toko buku terkemuka di seluruh Indonesia dalam 1-2 minggu ke depan.

Foto: koleksi pribadi

Sekali Lagi, Antara Fokus dan Diversifikasi

manet2.jpg"Selain Manet, bisnis Pak Roni yang lain apa saja?", tanya seorang teman saat chatting di Facebook.


"Hanya Manet", jawab saya mantap. Ya, bisnis saya hanya Manet.


Jawaban saya mungkin mengagetkannya. Pasti ia mengira bisnis saya banyak dan tersebar di mana-mana. Ternyata ia salah. Bisnis saya "hanya" Manet saja.


Kadang saya merasa jengah juga karena suka disindir oleh teman: "Dari awal berdiri TDA kok bisnisnya nggak nambah-nambah selain Manet?"


Sebenarnya saya sempat coba juga beberapa bisnis lain. Namun akhirnya saya lepaskan dan kembali fokus.


Perdebatan antara fokus dan diversifikasi selalu menarik. Fokus itu kadang membosankan, sedangkan diversifikasi selalu menarik dan penuh tantangan, serta peluang.


Soal ini saya kembalikan ke pribadi masing-masing. Mana yang cocok, silakan saja dijalani. Tidak ada yang salah dan yang benar. Yang ada adalah mana yang menghasilkan dan mana yang tidak. Kalau ternyata fokus lebih menghasilkan, ya monggo. Kalau diversifikasi lebih menjanjikan, ya silakan.


Saat menghadiri TDA Forum pekan lalu, saya mendapat pencerahan soal diversifikasi ini dari Pak Fauzi Rachmanto yg membedah buku Breakthrough Company karya Keith McFarland. Buku ini adalah Good To Great versi UKMnya.


McFarland meneliti 7.000 perusahaan dan mendapatkan 9 perusahaan terbaik yang masuk kategori melakukan breakhtrough.


Salah satu ciri dari perusahaan yang hebat itu adalah menghindari diversifikasi terlalu dini. Kalau pun harus melakukannya, pastikan itu adalah karena dinamika pasar atau atas permintaan pelanggan.


Saya setuju 100% dengan pendapat ini. Saya banyak menyaksikan teman-teman melakukan diversifikasi terlalu dini akhirnya malah tidak ke mana-mana. Diversifikasi itu malah menjadi beban ketimbang hasil.


Buku itu mencontohkan bahwa orang-orang terkaya di dunia adalah para pemilik bisnis yang fokus. Coba perhatikan Bill Gates dengan Microsoftnya, Sam Walton dengan Wal Martnya, Michael Dell dengan Dell Computernya, Lhaksmi Mittal dengan perusahaan bajanya, Warren Buffet dengan Beckhsire Hattawaynya. Daftarnya bisa panjang sekali.


"Tapi, di Indonesia kok banyak konglomerat yang bisnisnya banyak dan tidak fokus?", tanya seorang peserta yang hadir kepada nara sumber.


"Ya, mereka itu rata-rata bermental pedagang", jawab PakFauzi mantap. Pedagang itu bergerak berdasarkan permintaan, peluang pasar. Ia tidak meng-create demand, tapi mengikuti dan mengendarai demand itu.


Kembali lagi, saya tidak melakukan pembenaran bahwa fokus lebih baik ketimbang diversifikasi. Sangat terbuka peluang saya untuk melakukan itu. Hanya saja, pastikan hal itu dilakukan tidak terlalu dini atau gegabah. Harus dengan perhitungan matang.


Yang jadi masalah adalah seperti cerita monyet rakus yang sering saya dengar dari ceramah Ust. Zainuddin MZ dulu. Monyet itu tabiatnya selalu meraih pisang yang ada digenggaman temannya. Padahal yang digenggamannya pun sudah banyak dan belum sempat di makan. Itu namanya serakah dan tidak menghitung kapasitas. Besar keinginan daripada kemampuan.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Enam Alasan Kenapa Saya Jatuh Cinta dengan Twitter

twitter.jpgSelain Facebook, situs social networking yang membuat saya kepincut adalah Twitter.


Tadinya, saya hanya menggunakan Twitter karena ikut-ikutan saja. Saya melihat status "what I'm doing" di blognya Joe Vitale. Asyik juga nih dicoba di blog saya.


Setelah menggunakannya cukup lama, saya pun semakin mencintainya, kenapa? Berikut ini adalah beberapa alasannya:


1. Saya bisa memposting dengan singkat status dan percikan pemikiran secara cepat melalui handphone. Kegiatan ini mengubah kebiasaan saya yang sejak dulu suka membawa buku notes kecil di kantong celana, sebelum digantikan oleh notes di handphone. Saya selalu mencatat hal-hal kecil yang ditemukan sehari-hari, seperti peristiwa menarik, kata-kata inspiratif, ide untuk judul tulisan di blog, ide bisnis, dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran itu bisa langsung saya share dengan orang lain. Twitter juga berfungsi menjadi "gudang ide sementara" sebelum dikembangkan lebih lanjut. Kalau belum punya ide atau waktu untuk menuliskannya di blog, Twitter bisa menjadi alternatifnya.


2. Saya jadi terhubung dengan para inspirator dan mentor ngetop, seperti: Stephen Covey, Brad Sugars, Joe Vitale, Richard Branson, Robert Kiyosaki, Donald Trump, Robin Sharma, Blair Singer, Guy Kawasaki, Tim Ferris, Brian Tracy, Leo Babauta dan sebagainya. Saya jadi merasa dekat dengan orang-orang hebat itu. Saya jadi tahu apa saja yang mereka pikirkan, rasakan dan lakukan. Katanya, supaya sukses, kita harus me-modeling orang-orang seperti itu. Bahkan suatu ketika, Brad Sugar pernah me-reply status saya. Bangga juga.


3. Banyak dapat ilmu dan inspirasi dari membaca dan mengikuti update status para inspirator dan mentor itu. Saya sering mendapatkan link menarik dari mereka yang kemudian memberi ilmu dan pencerahan. Beberapa orang yang link-nya rajin saya ikuti adalah: Guy Kawasaki, Leo Babauta, Robin Sharma dan Tim Ferris.


4. Twitter, dalam kondisi tertentu, bisa menjadi penyelamat. Akhir tahun lalu saya dan keluarga beserta ibu dan ibu mertua berobat sekaligus jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Ketika baru sampai di Singapura dari Malaysia, adik istri saya di Palembang sempat panik lantaran tidak bisa mengontak kami, karena saya belum mengganti kartu telepon. Beruntung, begitu masuk perbatasan Johor - Singapura saya sempat update status bahwa kami sudah sampai di Singapura. Informasi itu dibaca di blog ini oleh salah satu adik istri di Jakarta yang kemudian mengabari adiknya di Palembang.


5. Bisa update status Facebook dan blog sekaligus. Karena ada aplikasi penghubung, maka itu bisa dilakukan. Saya merasa terbantu sekali. Sekali mengupdate di Twitter via handphone, otomatis akan tampil di Facebook dan blog.


6. Menggunakan Twitter bisa lebih fokus, tidak memecah konsentrasi dan "annoying", seperti Facebook. Twitter yang sederhana, tidak membuat saya terjebak untuk mengklik yang macam-macam seperti di Facebook. Saya bisa mengaktifkan Twitter seharian penuh tanpa mengganggu aktivitas lainnya.


So far, saya menikmati menggunakan Twitter. Lebih banyak manfaatnya ketimbang mudaratnya. Saya pun belum merasa perlu untuk pindah menggunakan media social networking lainnya. Cukup Twitter dan Facebook saja.


Teman-teman ada yang mau menambahkan alasan lain?


Salam FUUUNtastic!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Dari Mana Mendapatkan Inspirasi?

Setelah saya pikir-pikir, ternyata banyak sekali sumber inspirasi saya. Saya yakin anda juga begitu.


Jadi, saya nggak percaya kalau seorang entrepreneur itu kekeringan ide atau inspirasi.


Ini beberapa sumber inspirasi saya:


1. Jalan-jalan. Pusing-pusing kata orang Malaysia. Saya dan istri suka jalan-jalan. Bahkan ibu saya menggelari anak pertama kami,Vito sebagai "bayi mobil". Soalnya sejak usia 40 hari sudah di bawa ke mana-mana. Dalam perjalanan itu pikiran menjadi terbuka dengan melihat apa saja yang terbentang di depan mata. Seeing is believing and inspiring. Saya suka mengunjungi pasar/mall dan tempat keramaian untuk memperhatikan tren fashion yang sedang terjadi. Saya juga suka melihat arsitektur bangunan yang unik (sambil hunting properti, tentunya),


2. Seminar, pertemuan. Dulu saya pernah "seminar addicted". Tiap bulan selalu ada saja seminar yang saya ikuti. Selain mendapat pembelajaran, di sana saya bertemu banyak orang dan saling berkenalan dengan tukar kartu nama. Sekarang saya lebih banyak menghadiri pertemuan-pertemuan di TDA, seperti TDA Forum Pusat, TDA Forum Wilayah, Mastermind. Di TDA terjadi "wisdom of the crowd", kata Yuswohady dari MarkPlus. Itu betul. Saya banyak belajar, sekali pun dari pemula.


3. Internet. Ini sekarang bisa jadi sumber inspirasi utama, karena sebagian besar waktu saya habiskan secara online. Maklum bisnis saya adalah online, jadi harus punya online behavior, kata Pak Nukman Luthfie. Email, browsing, blog, Facebook dan Twitter adalah sumber-sumber inspirasi utama saya. Bahkan dengan membaca status teman di Facebook atau di Twitter, saya banyak mendapat pencerahan.


4. Buku, majalah. Itu sudah pasti. Membaca buku itu sangat perlu. Untuk mencari informasi yang mendalam, buku tetap diperlukan. Buku sering memancing saya untuk berpikir dan merenung. Buku belum bisa digantikan oleh blog dan media digital lainnya. Beberapa buku bahkan menjadi guidance saya dalam menjalan bisnis sehari-hari. Setiap ada masalah, saya selalu mencari jawaban di rak buku yang menjadi referensi saya. Untuk update berita dan tren bisnis terbaru saya mengandalkan majalah. Beberapa majalah yang kerap saya beli seperti, SWA, Marketing, Globe, Reader's Digest, Business Week.


5. Radio, CD. Saat ini cukup banyak radio yang isinya memberdayakan pendengar seperti PasFM, Trijaya dan Smart FM. Saya sering mendengarkan kedua radio ini di dalam perjalanan. Dari situ saya bisa mendapatkan inspirasi dari Jamil Azzaini, Arvan Pradiansyah, Kafi Kurnia, Prie GS sampai Ayah Edi soal parenting. Selain itu saya juga sering mendengarkan CD pembelajaran dari Aa Gym, Robert Kiyosaki, Robert Allen, Jim Rohn, Jay Abraham, Anthony Robbins dan sebagainya. Keluar dari mobil, langkah jadi makin mantap, meskipun baru lepas dari kemacetan.


6. Menonton TV, film. Yup, TV ternyata masih jadi rujukan saya, meski pun kadang-kadang terjebak dengan tayangan "sampah". Saluran favorit saya adalah BBC Knowledge, National Geographic, Discovery Travel and Living dan CNBC (terutama CNBC Life). Film juga sering menjadi inpirasi saya. Beberapa film yang menginspirasi saya adalah: Laskar Pelangi, Door to Door, The Secret, Dead Poet Society, Finding Forrester, Life is Beautiful.


7. Musik. Ternyata mendengarkan musik pun bisa menginspirasi saya. Koleksi saya terutama adalah Jazz, World Music dan New Age. Musik jazz menginpirasi saya untuk selalu berimprovisasi, berinovasi, kreatif, dan suka berpetualang menemukan hal-hal baru. Ada satu komposisi insturmental dari Chick Corea yang membuat saya begitu bersemangat berjudul "Charged Particles". Lagu ini saya jadikan "theme song" kemenangan saya. Maklum, dulu pernah ikut MLM Amway dan memimpikan untuk naik ke panggung diiringi lagu ini. Tapi tidak kesampaian. Lagu-lagu world music dari Yanni juga begitu memesona saya. Bahkan salah satunya saya jadikan theme song di Manet, yaitu Adagio in C Minor.


8. Ngobrol dan chatting. Ngobrol dan chatting, terutama dengan teman yang berenergi positif bisa sangat bermanfaat dan memberdayakan. Banyak ide dan inspirasi lahir dari ngobrol ngalor ngidul ini. Teman-teman di Komunitas TDA adalah sumber inspirasi saya yang selalu memompakan energi positif.


Kalau saya lanjutkan, mungkin listnya akan terus memanjang. Tapi saya stop saja sampai angka delapan.


Dilihat dari banyaknya sumber itu, maka, adalah mustahil kalau saya mengatakan kehabisan ide, kehabisan inspirasi untuk berbisnis atau menulis di blog atau membesarkan TDA. Oya, blog adalah salah satu sarana saya untuk "mengikat" ilmu atau inspirasi itu. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, kata Ali bin Abi Thalib.


Bagaimana dengan anda?


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Belajar "Think Big" dari Chairul Tanjung (Kunjungan ke Trans TV)

Saya memaksakan diri untuk menghadiri undangan Trans TV kemarin. Meskipun sudah 70 member TDA tercatat akan menghadiri acara tersebut (jumlah yang cukup mewakili TDA), saya tetap merasa harus datang ke pertemuan Trans TV dengan komunitas-komunitas bisnis online tersebut.

Kenapa?


Saya butuh inspirasi. Saya ingin "get the feeling". Saya perlu alat bantu visual untuk menerapkan nasihat Donald Trump agar selalu "think big and kick ass." Saya perlu datang ke kantor pusat dari perusahaan yang pemiliknya begitu menginspirasi saya dan saya yakin banyak orang di Indonesia, Chairul Tanjung.


Ternyata betul. Begitu masuk pintu gerbangnya, feeling itu mulai terasa. Masuk ke parkiran Gedung Bank Mega, gambaran itu semakin kuat. Saya melihat, mungkin ratusan, mobil armada Bank Mega dan Trans TV parkir di sana. Ini menggambarkan size bisnis, tentunya.


Tempat ini ramai sekali. Berseliweran karyawan Trans TV dan Bank Mega. Satu persamaan yang saya lihat, mereka semuanya anak-anak muda yang energik penuh semangat. Saya merasakan warna corporate culture yang berbeda di sini. Terbayang kunjungan saya ke beberapa stasiun televisi dan perusahaan lainnya. Saya kok merasa perusahaan lain itu menjadi "old", sementara perusahaan ini begitu "young".


Karena parkir di gedung Bank Mega, maka saya harus berjalan menyeberang ke gedung Trans TV, menuju lantai 3A tempat pertemuan yang mengundang Komunitas TDA, IYE! dan BundaInBiz itu.


Langkah saya tertahan di pintu kaca utama. Seorang satpam menyuruh saya untuk melewati pintu sebelahnya, pintu yang lebih kecil. Oh, ternyata itu adalah pintu keluar bagi para orang VIP, petinggi Bank Mega. Sementara pintu kecil itu adalah untuk karyawan atau tamu biasa.


Di depan pintu itu berjejer sekitar sepuluh mobil mewah berwarna hitam. Mereknya hanya dua, Toyota Camry dan Mercy. Begitulah cara perusahaan milik salah satu orang terkaya di Indonesia ini melayani para eksekutifnya.


Untuk menjadi kaya, anda harus membuat orang lain di bawah anda menjadi kaya. Semakin banyak orang kaya di organisasi anda, maka anda sendiri menjadi super kaya, tentunya. Kata-kata ini saya dapatkan dari buku Your Life Your Legacy dari Roger Hamilton (kalau tidak salah ingat).


Besaran korporasi milik konglomerat muda yang lahir paska krisis moneter akhir tahun 90-an itu membuat semua orang berdecak kagum. Begitu cepat begitu masif. Dan yang membanggakan, ia adalah salah satu wakil dari segelintir konglomerat pribumi yang menurut saya punya "sentuhan tangan midas." Apa pun yang ia sentuh, pasti jadi. Bank Mega, Trans TV, Trans 7 adalah beberapa contoh yang jelas.


"Sistem di sini, kalau ada program yang tidak mendapat rating bagus, langsung di-cut", kata Pak Ishadi, Direktur Utama Trans TV yang menyempatkan hadir di pertemuan itu. Begitu tegas. Itulah sistim bisnis yang sukses diterapkan oleh Chairul Tanjung di semua perusahaannya. Makanya, saya juga maklum ketika kerongkongan terasa kering karena duduk dari jam 19 sampai lewat jam 22 tanpa air minum. Efisiensi. Mungkin itu adalah salah satu sistim kuncinya juga. Haha...


Acara tadi malam sendiri berlangsung cukup menarik. Baru kali ini 3 komunitas berada dalam satu forum. Dalam sambutan sebagai wakil dari TDA saya menyampaikan bahwa antara TDA dengan Trans TV sebenarnya sudah ada sinergi secara tidak langsung. Beberapa acara Trans TV seperti Bosan Jadi Karyawan dan Hidup Ini Indah banyak menampilan member TDA sebagai nara sumbernya. Contohnya adalah, Pak Sonny Sofyan, Pak Kusnadi, Ust. Lihan (penasehat TDA), Pak Hadi Kuntoro dan Cak Eko.


Ada satu acara yang sempat menimbulkan pertanyaan dari banyak member TDA, yaitu Tangan Di Atas. Apakah acara itu ada hubungan dengan TDA? Di forum itu juga saya tegaskan bahwa tidak ada hubungan dengan TDA. Acara itu tidak mewakili makna tangan di atas yang diusung oleh TDA, yaitu menjadi pengusaha yang gemar berbagi manfaat dan memberdayakan masyarakat lingkungannya.


Dalam pesan saya, TDA siap bersinergi dengan Trans TV untuk acara-acara yang se-visi dengan TDA, program yang mendidik dan memberdayakan penontonnya. Program yang menginspirasi dan mentransformasi penontonnya. Bukan yang "merusak", pikiran mereka.


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas


NB: Saya mengusulkan kepada TDA Management agar sering mengadakan acara company visit seperti ini. Ini akan menginspirasi dan membantu para member untuk "get the feeling", berpikir besar dan memperjelas visi mereka dalam membesarkan bisnis, sehingga mudah-mudahan lahir the next Chairul Tanjung di TDA.

Serigala

Ini adalah kutipan dari kisah hebat dari suku Navajo yang saya dapatkan dari buku The Five Secrets You Must Discover Before You Die, dari John Izzo Ph.D.

Seorang lelaki tua dari suku Navajo bertutur kepada cucunya tentang pertarungan sengit yang sangat dahsyat terjadi setiap hari di dalam dirinya. Ia merasa di dalam dirinya ada 2 serigala yang sangat buas.


Serigala pertama adalah serigala yang menjelma dalam bentuk amarah, iri dengki, kesedihan, penyesalan, ketamakan, kesombongan, perasaan sengsara, rasa berdosa, kemarahan, rasa rendah diri, kecongkakan, tak punya nyali untuk memperbaiki diri, rasa takut untuk berjuang mengejar kesuksesan, takut membuktikan dan membela kebenaran, takut belajar dari kisah perjalanan hidup orang lain dan belajar dari cermin batin dan mata hati orang-orang itu, dan banyak memakai alasan yang penuh kebohongan.


Serigala kedua adalah serigala yang sangat baik. Dia adalah penjelamaan rasa bahagia, kedamaian, cinta kasih, harapan, keteduhan jiwa, kerendahan hati, kebajikan, empati, kepedulian terhadap orang-orang yang telah menolong kita, kerelaan untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain, dan kesadaran bahwa takdir kita ada dalam genggaman kita sendiri.


Cucunya memikirkan perkataan lelaki itu dan lalu bertanya: "Tetapi bagaimana, kakek, serigala mana yang menang?"


Kakeknya menjawab, "Serigala yang kuberi makan."


Salam FUUUNtastic! SuksesMulia


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Foto: Nat Geographic

Egois, Member TDA yang Tidak Mau Ber-mastermind

Itu kata Pak Jamil Azzaini, bukan kata saya, saat mengisi workshop Sukses Mulia kemarin. Tapi saya setuju dengan pendapat beliau.


Meski pun jarang posting, saya ini memperhatikan lho, member-member yang rajin posting di milis. Saya tahu siapa saja yang tulisannya inspiratif, provokatif. Dan saya selalu bertanya dalam hati, apakah member ini sudah ikut mastermind?


Yah, saya paham. Mungkin bisnisnya sedang tumbuh pesat. Mungkin ia sibuk sekali. Mungkin ia merasa tidak perlu bermastermind.


Namun begitu, apakah bisnis anda akan terus tumbuh tanpa kendala? Apakah anda tidak butuh masukan dan saran dari teman dekat anda? Apakah anda tidak pernah merasa ragu atau bimbang saat akan mengambil keputusan?


Saya pernah dengar cerita tentang seorang member. Bisnisnya sudah tergolong besar. Sepertinya ia tidak butuh mastermind. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba bisnisnya ditimpa masalah pelik yang ia sendiri tidak perkirakan sebelumnya. Kemudian ia mengontak dan mengejar-ngejar salah seorang member TDA yang dianggap kapable untuk memberi nasehat. Member yang dikontak ini sampai bingung, kok begitu urgennya masalah ini sampai ia meminta bertemu dengan seperti memaksa. Nah, ternyata ia juga butuh teman untuk minta pendapat, second opinion. Tanpa disadari, ia pun butuh mastermind.


Berkaca kepada pengalaman saya yang nyaris bangkrut di tahun 2003-an dulu, seandainya saya punya kelompok mastermind ketika itu, tentu ceritanya akan lain (tentu, ceritanya juga akan lain kalau saya tidak bangkrut, TDA pun tidak akan lahir).


Beruntung, ketika itu saya tidak tinggal diam. Saya upayakan segala cara untuk menyelamatkan bisnis yang sudah di pinggir jurang. Saya kontak Pak Tung Desem Waringin, saya beli buku-bukunya Brad Sugars, saya berdiskusi dengan Pak Erbe Sentanu, dan juga Pak Iim Rusyamsi, teman dekat sejak kecil saya. Itulah kelompok mastermind "bayangan" saya ketika itu.


Mastermind sudah menjadi kebutuhan saya saat ini. Saya sangat menantikan saat-saat akan bermastermind. Demikian juga teman-teman di kelompok saya. Bahkan sering terjadi dialog seperti ini: "Kapan nih jadwal mastermind kita? Saya lagi ada masalah urgent nih. Minta tolong untuk dipecahkan bersama." Beruntunglah ada Facebook. Sebelum jadwal pertemuan offline, kami bisa membahasnya secara online dengan membentuk mailing list kecil di sana.


Saya sering dengar kelompok mastermind yang vakum gara-gara membernya masing-masing sibuk. Teringat kata Pak Jamil, itu bukan alasan. Alasan yang sebenarnya adalah, anda egois, tidak punya komitmen. Titik.


So, kepada member yang masih belum bermastermind dengan berbagai alasan, sebenarnya alasan anda adalah anda tidak butuh mastermind alias egois. Bukan karena sibuk, bukan karena tidak ada waktu.


By the way, setelah terbitnya kartu anggota TDA nanti, yang diakui sebagai member TDA adalah yang memiliki kartu dan ikut mastermind minimal selama 6 bulan. Selebihnya adalah member milis atau member portal. Biarlah, nantinya anggota TDA menyusut jadi cuma ratusan orang. Tapi itu adalah member yang sebenarnya, member inti. Bagaimana dengan yang sudah bergabung sejak lama? Aturan ini berlaku tanpa kecuali.


Anggota mastermind akan mendapat banyak priviledge dari TDA Management, seperti akses informasi dan peluang, referensi, rekomendasi, perbedaan harga dalam setiap kegiatan TDA dan sebagainya.


Salam FUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Heru Utomo: Di Dalam Emosi


Sekali lagi Sheila Majid. Lagunya yang bersyair " Kau di dalam emosi ini…." seolah mewakili semua perasaan saya di acara Kubik Workshop For TDA, Minggu 3 Mei 2009. Ini contohnya.

Dikala itu saya berada di puncak duniawi. Dari sekedar office boy menjadi orang nomer satu Citibank.
Bahkan sekian puluh tahun lalu saja, saya sudah biasa naik pesawat udara yang mewah. First class. Keluar dari Atlantik masuk Pasifik. Keliling dunia. Orang menghormati. Secara matematika manusia, pasti sangat berbahagia. Kemarin dihina sekarang punya segalanya. Tapi pada kenyataannya ternyata tidak. Ketika itu hati saya kering. Hampa. Tidak punya gairah.

Satu malam di bulan Romadhon, seorang teman mengajak untuk pergi ke rumah yatim. Saya turuti ajakan itu bukan karena untuk meningkatkan ibadah, tapi karena ada yang ngajak. Orang berbuka saya berbuka. Orang sholat maghrib saya ikut sholat. Orang shalat teraweh saya ikut. Ketika ada yang ceramah saya menyender di tembok masjid dan saya tidak tahu apa yang dibicarakan.

Singkat cerita, hingga saya lah orang terakhir yang pulang dari panti itu. Melangkah keluar. Saya masih bisa membayangkan bahwa malam itu bintang begitu banyak, dan sangat indahnya. Tapi kalo hati kita nda tenang, apalah artinya. Segala keindahan malam itu tidak ada bekasnya. Saya hampa. Saya melangkah, hingga kaki terasa ada yang menahan, oleh tangan kecil yang tiba tiba memeluk saya.
"Hai... siapa namamu nak".
"Nina, om".
"Nina? Nama yang cantik".
Saya berpikir pasti anak ini ingin meminta sesuatu maka dia memisah dari temannya.
"Nina, Nina mau minta apa... ?"
"Tidak om, Nina hanya mau mengantar om…"
Saya tuntun dia keluar....sampai di dekat mobil. "Nina, Om pulang ya. Tapi om ingin memberi kamu sesuatu. Nina minta apa? Om akan memberimu. Ayo katakan nak."
"Benar om. Om tidak marah kalo Nina minta?"
"Tidak Nina".
"Sungguh om?"
"Iya, kamu mau minta apa Nak?"
"Om.....permintaan Nina : bolehkan Nina memangil 'ayah' pada om? Maukah om menjadi ayah Nina???
Saya terjatuh mendengar kata-kata itu. Keras saya membentur jalan.
"Nina anakku"…. Saya peluk dia. Saya cium dia. Saya terharu. Sangat terharu.
Bintang masih disana, bintang masih bertabur banyak dan tiba tiba terasa dunia begitu semarak.
Saya bawa dia jalan-jalan malam itu. Saya sadar bahwa saya tidak boleh membawa anak kecil ini tanpa ijin. Tapi saat itu saya rela dimarahi banyak orang daripada kehilangan kebahagiaan berdekatan dengan Nina. Sampe jam sebelas saya kembali ke panti.
"Nak. Anakku Nina. Sekarang ayah pulangkan kamu ya. Sekarang Nina mau minta apa bilang nak bilang...."
"Nda ayah... Nina sudah senang... "
"Nda nak. Kamu harus minta. Uang ayah banyak, nak. Ini ayah tunjukkan dompet ayah. Disini uang banyak. Kamu minta apa?...
"Nda ayah."
"Kalo kamu tidak minta ayah tidak mau datang lagi…minta lah pada ayah, Nina, ayo Nak."
"Benar ayah tidak marah?"
"Nda Nina anakku.... "
"Ayah, Nina hanya minta satu... Ayah. Nina minta foto.... "
Kecewa, berat... saya berharap permintaan itu sesuatu yang mahal...
"Foto nak..??"
"Iya ayah…"
"Foto siapa..??
"Foto ayah dan ibu…"
"buat apa Nina, anakku"
"Agar bisa Nina tunjukkan pada teman-teman Nina, kalo Nina sudah punya ayah sudah punya ibu...."
Kejadian itulah yang mengubah saya ... bahwa segala yang saya lakukan selama ini sia-sia saja. Saya hanya membangun semuanya untuk diri saya sendiri…. Saya lupa untuk menapaki jalan kehidupan dengan memberi.


Saya Houtman Zainal Arifin.

TTL : Kediri, 27 Juli 1950


1968 - 1987 - Vice President - Citibank, N.A.
1985 - 2000 - Dosen Univ. Perbanas & Gunadarma
1987 - 1992 - Direktur, Komisaris, Audit Bank2 Swasta, Konsultan
1992 - 1998 - Finance Comptroller Grup Konglomerat
1998 - sampai sekarang - Konsultan
2002 - 2004 - Dewan Penasehat Gubenur propinsi Kalimantan Barat

Terima kasih pak Houtman, terimakasih Kubik Leadership. Apa yang telah bapak sampaikan sangat… sangat membekas bagi kami.

membaca postingan ini dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin… ayo buruan kerja!!

Heru Utomo RO | hp 0812 860 3523 | ym ! : ikhwan.mandiri
ikhwan agency - toko grosir obat herbal muslim - KS Tubun Raya 9 Petamburan Slipi, Jkt
www.grosirpeci.com | www.sarungpoloswarna.blogspot.com
blog pribadi : www.heruutomo-arema.blogspot.com
MM-Transformer - Trans 4


Eko Junaedi: Permen


Assalamu'alaikum wr. wb.

'Mulai !'.

Begitu aba2 dari salah satu trainer Kubik Leadership berkumandang, maka berjalan cepat cenderung berlarianlah lebih dari 200 orang peserta ke seluruh penjuru ruangan.

Masing2 peserta yang dibekali 5 buah permen saling memberikan satu persatu permennya ke peserta lainnya. Tidak boleh menolak pemberian dan diminta dihitung berapa kali telah memberikan permennya. Begitu terus hingga beberapa menit kemudian. Suasana begitu riuh.

Saya sempat memberikan ke oma Aning lalu ke pak Roni kemudian ke pak Hasan, lalu selintas saya lihat pak Didin 'nyemplungin' permennya ke cangkir saya, lanjut saya berikan ke pak Iim, ketemu pak Aris saling ngasih permen, mbak Diah menyalip dari kiri memberikan permennya, eh berpapasan dengan pak Hasan loh koq ketemu dan saling ngasih lagi, selintas kemudian ada pak Heru dan pak Faif berdampingan menghampiri dan saling beri, tiba2 pak Abduh lewat saya langsung sedikit manuver melempar sebutir permeeeennnn ... dannnn .... gool saudara-saudaraa.

Setelah selesai saya melongok jumlah permen di dalam cangkir plastik yang saya genggam. Ada 23 permen. Dan saya menghitung telah memberikan 46 butir permen ke orang lain.

So ?

Ini adalah bukti, bahwa semakin kita banyak memberi maka kita tidak akan kehilangan. Malah justru bertambah, menjadi 23 butir dari semula 5 butir. Dan bahwa dari modal awal permen hanya 5 butir itu, saya juga ternyata sanggup memberi permen sebanyak 46 butir, 9x nya !.

Suatu permainan sangat sederhana dan masih bisa dinalar dengan logika. Namun itulah yang terjadi dengan matematika Allah SWT. Yang tidak sama dengan matematika manusia.

1+1 ternyata tidak selamanya menjadi 2. Dalam matematika Allah SWT bisa menjadi 27 karena 1 orang shalat lalu ditambah 1 orang lagi hingga menjadi jamaah maka akan mendapat 27 pahala.

Epos yang kita berikan bisa jadi demikian. Walau hukum kekekalan yang menjadi landasan Epos menyatakan bahwa apa yang kita berikan akan sama jumlanya dengan apa yang akan kita hasilkan atau dapatkan ketika cair, namun jika kita 'tempelkan' sebagai sebuah nilai ibadah maka matematika Allah SWT akan berlaku.

Terima kasih pak Jamil beserta tim Kubik Leadership atas semuanya. Juga kepada para sahabat sebagai peserta kemarin yang menambah jalinan2 tali silahturahim bagi saya pribadi terutama kelompok 16. You're all great.

Wassalam.

-Eko June-

anda tidak harus hebat untuk memulai
tapi anda harus memulai untuk menjadi hebat

ekojune.blogspot.com
jilbab-balita.blogspot.com
toyorekautama.blogspot.com


Member TDA, Belajarlah Memenuhi Komitmen, Sekecil Apapun (Catatan dari Roni's Book and Learning Club Ke-1)

Alhamdulillah, Roni's Book and Learning Club pertama telah berjalan dengan lancar dan cukup produktif. Dengan duduk lesehan di taman depan rumah, kami membahas buku The 4 Hour Work Week dari Tim Ferris, Made To Stick dari Chip & Dan Heat, dan One Minute Entrepreneur dari Ken Blanchard.


Terima kasih kepada 7 orang yang telah hadir di tempat saya. Kenapa cuma 7 orang, bukannya 15 orang? Yah, itulah kenyataan di TDA, dari 15 orang yang konfirmasi, ternyata hanya setengah yang hadir. Sayang memang, mengingat saya sudah menyiapkan konsumsi untuk 20 orang, dan menolak banyak peminat serius lain karena sudah fully booked. Akhirnya makanan pun menjadi mubazir.

Saya juga mendapat kabar di acara nonton barengnya Bang Jay ternyata hanya dihadiri 20 orang, padahal yang mendaftar mencapai 40 orang. Saya tidak ingin memberi stempel bahwa inilah budaya di TDA. Tapi saya ingin memberi catatan soal komitmen.

Saya meyakini bahwa nasib saya, kehidupan saya sekarang ini adalah hasil dari komitmen-komitmen kecil yang saya buat. Contohnya adalah TDA ini. Mustahil TDA bisa menjadi besar seperti sekarang ini jikalau tidak ada komitmen-komitmen kecil dari para founder dan aktivis-aktivisnya. Mustahil bisnis saya bisa membesar dan menghidupi keluarga saya tanpa adanya komitmen dari saya selaku ownernya.

Dan kepada member TDA, saya ingin mengatakan bahwa mustahil bisnis anda akan berhasil kalau anda mengabaikan komitmen-komitmen kecil yang ada buat. Mungkin komitmen kecil itu adalah dengan karyawan anda. Mungkin saja dengan supplier anda atau dengan pelanggan anda. Mungkin saja dengan sesama member TDA lainnya.

Buat anda mungkin itu kecil tapi itu bisa jadi bermakna besar bagi orang lain. Saya pernah "ditegur" oleh karyawan saya karena lalai menepati komitmen kecil saya kepadanya.

Kalau dikaitkan dengan hubungan kerja sama bisnis. Bisa jadi si calon mitra bisnis anda akan menilai anda dari komitmen-komitmen kecil yang anda buat, meskipun tidak terkait langsung dengan bisnis. Komitmen kecil saja dilanggar, bagaimana dengan komitmen besar bernilai ratusan juta atau miliaran?

Khusus untuk RBLC selanjutnya, akan saya ubah formatnya. Hanya yang benar-benar berkomitmenlah yang saya harapkan untuk hadir di kesempatan mendatang.

Ayo, sebarkan energi positif di TDA, dimulai dari komitmen-komitmen kecil kita...


Salam FUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Workshop TDA Terbaik di 2009, Terima Kasih Pak Jamil Azzaini dan Kubik Leadership


Dengan yakin saya mengatakan bahwa inilah workshop/training terbaik di Komunitas TDA di tahun 2009. Kenapa?

Saya ada pembandingnya. Tahun 2002 saya mengikuti training Anthony Robbins di Singapura. Bayarnya di atas 10 juta ketika itu.

Tapi dampak yang saya dapatkan tidak sedahsyat workshop kemarin. Ibarat makanan, Anthony Robbins itu cuma ditelan sampai leher dengan rasa tercekat dan sulit diproses oleh lambung. Sedangkan workhop SuksesMulia itu ditelan sampai lambung, dicerna dan menjadi oksigen yang menyebar melalui darah ke sekujur tubuh.

Workhop Sukses Mulia membuat saya merenung dalam-dalam tentang hidup saya. Mengenang kembali masa lalu, kesalahan-kesalahan yang telah dibuat, sekaligus menginspirasi saya untuk memperbaiki diri di masa mendatang.

Baru kali ini saya merasa "ditelanjangi" dalam sebuah workshop. Ketika beberapa member menuliskan kelemahan-kelemahan saya. Sungguh, baru kali ini saya merasakan kritik pedas namun begitu berharga dan membangun seperti ini.

Baru kali ini juga saya "dipaksa" untuk menuliskan impian-impian dan prestasi terbaik yang akan saya torehkan dan persembahkan kepada Sang Khalik sebagai warisan saya ketika meninggalkan dunia kelak.

Baru kali ini saya dikagetkan ketika datang di workshop TDA. Kenapa? Karena di sana telah berkumpul full team dari Kubik. Lengkap. Ada 3 orang instruktur dan 27 fasilitator. Terima kasih tak terhingga saya sampaikan. Semoga rahmat Allah melimpahi Pak Jamil Azzaini dan sahabat-sahabat di Kubik Leadership dengan energi positif yang telah ditebarkan kemarin.

Kepada member TDA yang mengikuti kegiatan kemarin, anda sungguh beruntung. Sekarang tinggal PR buat kita untuk mewarnai hidup kita dengan energi positif (EPOS). Mari kita warnai bisnis kita dengan EPOS, keluarga kita, komunitas kita, dunia maya dengan semangat EPOS. Jangan ada lagi energi negatif (ENEG) di TDA.

Salam FUUUUNtastic! Sukses dan Mulia!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA


NB: Workshop ini juga telah dinikmati oleh member TDA di seluruh dunia melalui Webinar dan RadioSpin.net


Saras: The Miracle of TDA

Keajaiban itu
yang terjadi di TDA antar membernya adalah

yg satu memberi dg ikhlas
yg lain menerima dg penuh syukur

yg satu membagi ilmunya
yg lain menerima dan mempelajarinya

Yg satu mengusulkan kebaikan
yg lain menyambut dg peruh semangat

yg satu bermimpi
yg lain memberi jalan mewujudkannya

yg satu punya peluang
yg laim berpartisipasi

yg satu bersemangat
yg lain termotivasi

yg satu memotifasi
yg lain terkuatkan

bahkan ketika...

yg satu sakit
yg lain mengobati

yg satu merasa sendiri
yg lain menunjukkan arti hadirnya

yg satu bersedih
yg lain menghibur

yg satu berduka
yg lain menguatkan

yg satu lupa
yg lain mengingatkan

yg satu lalai
yg lain meluruskan

sehinggga jika...

yg satu berbahagia
yg lain ikut tersenyum gembira

yg satu berprestasi
yg lain merayakan gembira

Syukur Alhamdulillah...

Keagungan yang bisa saras lihat ada di TDA...

Jika bukan Miracle
lantas saras harus menyebut ini apa?

Iswari Saraswati Dewi
iswarisdewi@yahoo.com
www.ritchifood.com

Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO