Ditutup, Pendaftaran Roni's Book and Learning Club 1


Mohon maaf, tepat jam 13.16 WIB pendaftaran Roni's Book and Learning Club ditutup karena pendaftarnya sudah penuh.


Terima kasih teman-teman, atas perhatian dan partisipasinya. Mudah-mudahan, acara ini membawa manfaat bagi kita semua, para pencinta buku.


Kepada yang sudah menerima konfirmasi dari saja, harap juga membawa buku-buku favorit dan menceritakan hikmah dan inspirasi apa yang diperoleh dari buku tersebut.


Wassalam,


Roni


Undangan: Roni's Book and Learning Club


Terima kasih Mas Kika yang telah mengingatkan saya dengan rencana menghidupkan lagi TDA Book and Learning Club yg saat ini vakum. Padahal sudah berdiri sejak awal TDA lahir. Ini contoh kegiatan yang kita adakan tanggal 17 Juni 2006 yang bisa di baca di sini dan di sini:


Beberapa teman sudah saya tawari utk menghidupkan dan mengambil alihnya, tapi nyatanya belum jalan sampai sekarang. Kalau saya tanyakan ke Pak Iim (TDA Management), saya lama2 jadi nggak enak. Saya ini selalu demanding ke Pak Iim. Bikin ini, bikin itu. Lama-lama Pak Iim komplain juga ke saya, karena kerepotan. Memang, kesibukan dan aktivitas di TDA makin tinggi dan makin kompleks saat ini.

Pertimbangan kedua, beberapa hari lalu saya sempat posting di Facebook soal book club dan banyak teman menyambut positif ide ini. Mereka sebagian bukan anggota TDA, tapi tertarik dengan ide book club ini.

Maka, saya mengambil inisiatif pribadi untuk membuat Roni's Book and Learning Club. Lho, kok gitu? Ya, karena penggagasnya adalah saya, panitianya saya, tempatnya di rumah saya, dan konsumsi juga disediakan oleh saya. Hehe...

Rencananya saya, acara ini formatnya santai dan diikuti oleh peserta yang terbatas (5-15 orang saja). Nanti peserta akan duduk lesehan di rerumputan di taman depan rumah saya. Buku dan topik yang dibahas juga luas: seperti: bisnis, investasi, sastra, kesehatan, biografi, spiritual, parenting dsb. Pokoknya semua yang inspiratif dan learning.

Beberapa buku yang menarik untuk didiskusikan seperti: The Outliers, Tipping Point, The Black Swan, Tribes, Guerilla Marketing, Marketing Revolution, Financial Revolution, Crowd, Quantum Ikhlas, Who Moved My Cheese, Hypnotic Writing, Billionaire in Training, The Miracle of Enzyme, The Power of Sedekah, Novel Laskar Pelangi, Novel The Alchemist, dan sebagainya...

Buku-buku tersebut akan dibahas oleh sendiri atau seorang yang menguasai topik ini atau bahkan penulisnya sendiri. Kebetulan saya kenal secara pribadi dengan beberapa penulis seperti Erbe Sentanu, Yuswohady, Tung Desem Waringin, Valentino Dinsi, Zainal Abidin, Ning Harmanto, Faif Yusuf, Sri Khurniatun, Ines Handayani, dll.

Forum ini tidak hanya membahas buku, tapi juga akan menghadirkan figur-figur yang kehidupannya bisa dipelajari dan diambil hikmahnya. Rencananya saya akan mengundang orang-orang yang saya kenal, mereka-mereka yang sudah "sukses" dengan caranya sendiri-sendiri. Saya punya beberapa teman yang insya Allah sejarah perjalanan hidupnya menarik untuk dijadikan pelajaran.

Acara tersebut insya Allah akan diadakan pada: Sabtu, 2 Mei 2009 jam 9.00 - selesai.

Pendaftaran: Silakan daftar ke email saya di roniyuzirman(at)gmail.com dengan menuliskan, Subject: Daftar RBLC 1, Nama Lengkap, Alamat, No HP dan menyebutkan member TDA atau teman Facebook. First come firs serve. Jika pendaftar sudah mencapai 15 orang, otomatis saya tutup. Sisanya waiting list, dan bisa masuk jika ada yang membatalkan.

Alamat lokasi rumah saya dan judul buku yang akan dibahas akan saya informasikan via email.

Terima kasih atas perhatian dan partisipasinya.


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas


Acomodador, Sang Penghambat Kemajuan

Selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi kemajuan kita. Itulah Acomodador, tulis Paulo Coelho di novel The Zahir yang masih belum tamat-tamat saya baca ini (abis, tulisannya cukup berat untuk dicerna, harus dibaca lambat-lambat, kadang perlu diulang).


Kalimat di halaman 307 itu membuat saya berhenti membaca, tertegun cukup lama dan mengingat-ingat masa lalu.


Apakah di masa lalu saya pernah mengalami Acomodador? Pastinya pernah.


Oya, saya dulu pernah belajar gitar. Setelah belajar cukup lama, tapi nggak bisa-bisa (sekarang saya tahu, itu gara-gara saya tidak belajar dengan ahlinya). Sedangkan teman saya yang juga membeli gitar di waktu bersamaan, sudah mahir gonjrang-gonjreng. Akhirnya saya memutuskan bahwa saya tidak berbakat bermain gitar dan gitar itu pun kemudian saya berikan kepada seorang teman.


Saya pengemar berat musik jazz. Saya mengagumi musisi-musisi yang permainannya canggih bukan kepalang itu. Tapi di benak saya, saya sudah memutuskan bahwa saya adalah "pemusik pasif" alias pendengar saja. Sampai sekarang.


Di bidang olah raga juga demikian. Saya pernah dipermalukan saat tidak bisa menangkis bola voli yang datang ke hadapan saya. Main basket dan sepak bola apa lagi. Saya tidak bisa main basket. Sepak bola pun selalu di bagian yang aman dan asal tendang saja, pemain belakang alias back.


Di sekolah, saya lemah di mata pelajaran eksak seperti matematika, fisika, kimia dan sejenisnya. Saya sering ketakutan dan "ngumpet" dari penglihatan guru kalau di suruh maju ke depan dan menyelesaikan soal di papan tulis. Guna menghindari mata pelajaran itu, saya pun memilih masuk kelas A3 atau sosial. Sialnya, masih ada matematika di sana. Pun ketika saya memilih jurusan ekonomi di perguruan tinggi.


Itu semua adalah Acomodador saya. Pengalaman dan bukti-bukti yang tersebut telah menjadi label di jidat saya bahwa saya tidak bisa bermain musik, tidak bisa olah raga beregu dan lemah di bidang eksakta.


Acomodador adalah titik menyerah. Selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi kemajuan kita; suatu trauma, kekalahan yang sangat menyakitkan, kekecewaan dalam cinta, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami, bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghalangi kita bergerak maju, tulis Coelho.


Saya yakin, anda, pembaca blog ini juga punya Acomodador sendiri-sendiri yang menghalangi anda untuk maju melangkah. Mungkin anda memiliki Acomodador untuk menjadi wirausaha, misalnya. Mungkin anda takut menjual, takut ditolak, takut dihina dan dilecehkan. Mungkin anda takut dengan ketidakpastian.


Alhamdulillah, saya sudah melupakan Acomodador saya dan yakin bahwa saya pun bisa sukses tanpa menguasai itu semua. Saya punya talenta-talenta lain sebagai bekal sukses dalam mengarungi hidup.


Saya jalani takdir saya hari ini dengan melepaskan diri dari semua sejarah masa lalu yang menghambat kemajuan itu.

Bagaimana dengan anda?



Salam FUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Haji Alay: Sistim Kapitalis Menghilangkan Rasa Kasih Sayang

Sebuah pernyataan menarik saya dengar dari Pak Haji Alay (sesepuh dan inspirator TDA) kemarin, saat saya dan teman-teman TDA tengah mendiskusikan bisnis kami di sela-sela acara Aqiqah cucu Pak Haji di kediaman beliau.

Bersama Pak Ery (juragan sepatu Eltaft), Pak Yanto dan Pak Didin, saya tengah mendiskusikan sulitnya mengelola karyawan di pabrik. Selalu saja ada masalah.


"Itulah buruknya sistim kapitalis", Pak Haji langsung menimpali pembicaraan.


"Kapitalisme itu menghilangkan rasa kasih sayang", lanjut beliau. Benar juga ya, batin saya. Sebagian dari bisnis kami tentu sangat dipengaruhi oleh sistim yang katanya sedang kolaps ini.


"Pengusaha mengeksploitasi buruh. Pedagang mengekspoitasi pelanggan. Bahkan, dokter pun mengekspoitasi pasien. Dokter-dokter sekarang banyak yang menjadi perpanjangan tangan pabrik obat."


Hmmm....


Logika beliau memang masuk akal. Memang fenomena itu yang sedang terjadi. Hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Yang berlaku di dunia saat ini adalah ekonomi menang - kalah, zero sum game. Lihatlah betapa nelangsanya nasib bangsa kita saat krisis moneter tahun 97-98. Sementara para investor di ujung dunia sana merayakan "kemenangannya", termasuk George Soros.


Krisis yang terjadi di tahun 97-98 dan sekarang ini penyebab dasarnya sama, keserakahan tanpa batas dalam bungkusan canggih. Sistim transaksi keuangan dibuatnya sedemikian canggih sehingga antara ekonomi riil dan keuangan jadi sama sekali tidak ada hubungannya. Keserakahan tanpa batas, itu juga adalah kelemahan lain kapitalisme. Ia tidak bisa membatasi penganutnya untuk tidak serakah.


Sebagai orang bisnis saya diajari bahwa kalau ada masalah, lihat sistimnya. Kalau perlu ubah sistimnya. Orang nomor dua, sistim nomor satu.


Tentu, Pak Haji punya solusinya. Dan itu sudah disampaikannya berulang kali. Anda tentu tahu bukan, sistim apa yang dimaksud?

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Mengubah Lingkaran Pengaruh

Seorang ibu menelpon saya dan menarik perhatian saya untuk betah berlama-lama menerima teleponnya.

"Tulisan bapak itu persis seperti yang saya alami saat ini", katanya, sebut saja namanya Bu Ani.


Kemudian ia bercerita bahwa bisnisnya bertahun-tahun sebagai supplier diperlakukan secara tidak adil dan dimanipulasi. Ia sudah memenuhi kewajibannya sesuai kontrak, sedangkan haknya menerima pembayaran selalu saja dikebiri.


Ada saja alasannya, seperti pembayaran dari pembeli yang tertunda dan sebagainya. Padahal, kewajibannya telah ia tunaikan, sekarang ia berhak menuntut balik pembayaran sesuai yang telah disepakati. Hal ini tidak terjadi di satu-dua perusahaan yang menjadi mitranya saja. Tapi mayoritas semuanya seperti itu.


Masalah ini begitu membebaninya. "Karyawan saya kan harus dibayar gajinya, Pak", ujarnya. "Selama ini saya terpaksa menomboki saja, karena tagihan belum cair-cair".


"Sampai kapan ibu akan begini terus", tanya saya. "Masalah seperti ini harus ada akhirnya." Saya teringat buku Who Moved My Cheese karangan Spencer Johnson yang telah memprovokasi saya untuk keluar dari Tanah Abang beberapa tahun lalu.


"Bu, ada yang namanya lingkararan pengaruh dan lingkarang yang tidak bisa dipengaruhi", kata saya mengutip teorinya Stephen Covey.


"Kita hanya bisa mengubah lingkaran pengaruh dan tidak bisa mengubah lingkaran di luar pengaruh. Kondisi saya saat itu di Tanah Abang kurang lebih seperti ibu. Saya "terperangkap" oleh sistim bisnis yang tidak baik dan tidak bisa saya pengaruhi. Ketimbang mengutuki keadaan yang tidak bisa saya ubah, lebih baik saya mengubah lingkaran pengaruh saya sendiri, yaitu diri saya dan bisnis saya. Saya memutuskan untuk keluar dari Tanah Abang, sebuah keputusan yang saya syukuri sampai hari ini."


"Apakah ibu dapat melihat, sedikit 'cahaya' di ujung terowong gelap masalah ibu? Kalau tidak ada, artinya tidak ada harapan, sudah saatnya ibu berpikir untuk berubah dan melalukan sesuatu yang berbeda." Hanya orang gilalah yang berharap sesuatu yang berbeda dari usaha yang sama, kata Einstein.


"Yang saya lakukan di Tanah Abang ketika itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeda, atau revolusioner. Saya tutup ketiga toko itu dan saya mulai sesuatu yang benar-benar baru dan tidak pasti, yaitu berdagang secara online dari garasi rumah."


Ibu itu bersemangat dan terprovokasi oleh saran saya. "Tapi, ingat, jangan gegabah. Bisnis ibu sudah besar dan banyak karyawannya. Jadi, harus hati-hati dan dengan perencanaan yang matang." saran saya menutup pembicaraan.


Salam FUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Seminar SEO 3.0 : Mengoptimalkan Pemasaran Menggunakan Internet dan Search Engine dengan Teknologi Online Terkini

Maraknya fenomena mencari uang di internet, ternyata telah menarik banyak perhatian masyarakat Indonesia untuk turut serta memanfaatkan internet dalam mencari uang dan membuka pasar baru. Sebagai alternatif memperoleh penghasilan dan meningkatkan keuntungan usaha di masa yang sulit ekonomi ini, kesempatan emas ini tidak begitu saja dilewatkan. Akan tetapi apakah semua orang mengetahui apa dan harus bagaimana aktif di dunia bisnis internet? Kondisi inilah yang mendorong diadakannya.


"SEO 3.0 : Mengoptimalkan Pemasaran Menggunakan Internet dan Search Engine dengan Teknologi Online Terkini"


Cakupan materi:


1. Taktis search engine optimization top ranking dalam 7 hari dan meningkatkan traffik dengan dahsyat! dan mempertahankannya


2. Strategi memperkuat branding online


3. Meningkatkan traffic melalui search engine - search engine utama dunia


4. Meningkatkan penjualan melalui website Anda (mau export bisa!)


5. Update isu-isu terbaru di search engine yang dapat mendukung penjualan produk


Pembicara : Riyeke Ustadiyanto (Pemilik Marketbiz.net dan Seokita.com)


Tempat : Gedung JDC, Ruang Lotus 3, Lt 6,


Jl. Gatot Subroto Kav. 53


Tanggal : Sabtu, 18 April 2009


Pukul : 09.00 -15.00 WIB


Biaya :


- Rp.200.000,-/ orang (Umum)


- Rp.350.000,-/ orang (Dua orang)


Fasilitas :


· Materi Seminar


· Coffee Break


· Launch


Peserta:


· Pemilik bisnis online (organisasi, perusahaan, perorangan).


· General Manager & Direktur Utama bagi pelaku industri, Hotel dan Travel


· Eksekutif penjualan/pemasar.


· Akademisi


· Pemerintah


· Mahasiswa


· Blogger


· Perorangan/siapapun yang ingin/sedang melakukan penjualan produk/jasa secara online.


Pendaftaran :


Formulir : http://www.Marketbiz.net/event


Email : info@learntoaction.com


Tlp : 021-32034136

Bisnis adalah Tentang Menepati Janji

Saya menyimpulkan ini dari pengalaman dan perenungan cukup dalam. Bisnis sebenarnya adalah soal menepati janji. Janji kepada pelanggan, kepada karyawan, kepada investor, kepada mitra/vendor, kepada masyarakat, kepada keluarga dan diri sendiri.

Kemarin saya mendapat "teguran" dari seorang pelanggan. Ia merasa sebagian haknya belum dipenuhi oleh manajemen Manet. Saya diingatkan lagi dengan janji-janji yang telah kami buat itu.


Ketika bertransaksi dengan pelanggan, kita telah berjanji untuk memberikan mereka produk yang dibeli berikut atribut janji lainnya seperti kualitas, waktu pengiriman, retur, garansi dan sebagainya.


Bisnis akan jatuh tersungkur bila tidak mampu lagi menepati janji-janjinya. Bernie Madoff tersungkur dan terbongkar kedoknya ketika ia tidak lagi mampu men-deliver janjinya kepada investor.


Ketika masih di Tanah Abang dulu, saya menyaksikan sendiri fenomena pengusaha-pengusaha yang jatuh karena tidak menepati janji dengan mitra suppliernya.


Umumnya mereka melakukan transaksi dengan supplier secara kredit. Masalahnya, uang yang seharusnya dibayarkan kepada supplier, diputar dulu ke tempat lain yang tidak semestinya, seperti: membuka bisnis baru, beli rumah, beli mobil dan sebagainya.


Mungkin mereka berpikir bahwa "nasib" supplier ada di tangan mereka. Bargaining position mereka sangat lemah sehingga mau saja dibegitukan.


Mungkin mereka berpikir bahwa janji yang harus ditepati hanyalah kepada pelanggan saja. Itu salah besar. Yang berhak ditepati janjinya adalah semua pihak yang terlibat dalam proses bisnis kita, sekecil apa pun perannya.


Menepati janji ini menjadi begitu berat dan pahit ketika dalam kondisi sulit. Saya ingat sekali tahun 2003 lalu. Tahun yang paling berat dalam perjalanan bisnis Manet.


Di bulan puasa, sehari menjelang keberangkatan saya dan istri untuk merayakan Idul Fitri di tempat mertua di Palembang, saya menongkrongi ATM BCA di Blok F Tanah Abang dengan harap-harap cemas.


Saya sedang menunggu transferan pembayaran dari pelanggan. Ya, saat itu sebagian besar transaksi dengan pelanggan adalah secara piutang.


"Pak, tolong ditransfer berapa pun adanya", demikian pinta saya dengan memelas kepada siapa pun pelanggan yang berutang. Saya harus melunasi utang kepada para supplier di Pekalongan. Kalau uang itu tidak ditransfer, para karyawan mereka tidak dapat berhari raya bersama keluarganya. Pembayaran dari saya adalah "penyambung nyawa" buat mereka.


Masalahnya, kondisi keuangan bisnis kami pun sedang parah sekali. Sama sekali tidak ada uang di rekening kami. Betul. Hanya ada tersisa ongkos untuk naik bis Lorena.


Meski begitu kami tetap menunaikan janji. Gaji karyawan telah dibayarkan berikut THRnya. Utang kepada supplier pun telah dilunasi. Lantas, buat kami sendiri sebagai pemilik bisnis apa yang tersisa? Nothing.


Uangnya memang ada, tapi di tangan pelanggan yang entah kapan akan dibayar. Itu sebuah kesalahan manajemen, saya akui.


Tapi, di balik semua itu, janji telah ditunaikan. Saya berprinsip, menjaga nama baik dan menepati janji itu lebih penting ketimbang keuntungan di tangan dengan mengebiri hak orang lain. Ketika bisnis rugi, pemiliklah yang menanggung risikonya. Jangan dilimpahkan kepada pelanggan, karyawan atau mitra kita.


Bagaimana pendapat anda?


Salam FUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Forum Jumat TDA 17 April 2009: Membangun & Mengawal Brand

Assalamualaikum wr.wb...

Jangan lewatkan!

Forum Jumat TDA Minggu ini:

Hari/tanggal : Jumat 17 April 2009
Pukul: 18.30 - 21.00
Tempat : Wisata Makanan JaCC lantai dasar - belakang Plaza Indonesia
Peserta : Hanya 100 orang
Biaya : Rp. 35.000,- (langsung bayar ditempat)

Tema : "Membangun & Mengawal Brand / Merk"
Oleh : Ibu Jackie Ambadar

*Trainer, Coach, Writer

*Managing Director
PT. Lembanindo Tirta Anugrah - Jakartaa
A cordinated Baby Products, Manufacterer of Le monde, Exporter and Retailer: Le monde Baby's World

*Director
SURINDO UTAMA - Jakarta
Marketing & Market Research, Social Research & Community Development . And Management Consultant

Semua member boleh hadir baik yang lama maupun baru. Calon member pun dipersilahkan hadir.

Contact Person:
Dwi Wahyono, telpon : 08161166005
Siska Tri Hapsari, telpon: 081318114437
Rery IK, telpon : 08128026943
Nur Alam, telpon : 08159804831

Catatan:
Kepada seluruh member yang ingin menjadi sponsor atau donatur Acara Forum TDA dipersilahkan menghubungi TDA EO. Dipersilahkan pula bagi anggota yang ingin memberikan doorprize.
Have a FUNTASTIC Business and Life !!!

Wassalam,
TDA EO

Blog Anak Bangsa yang Sering Saya Kunjungi

Membaca postingan sesama blogger itu penting. Selain sebagai pembelajaran dan menambah pengetahuan, saya sering mendapatkan insight atau ide untuk menulis di blog sendiri.


Tulisan ini sebagai lanjutan dari postingan saya akhir tahun lalu mengenai blog-blog yang sering saya kunjungi dari blogger luar negeri. Saya pernah berjanji akan menuliskan versi blog lokalnya.


Terus-terang, saya rada kesulitan menyusun list ini. Sebab, begitu sedikit blogger lokal yang saya sukai blognya. Bukan berarti blogger Indonesia tidak bermutu, tapi masih jarang yang blognya sesuai dengan minat saya. Jarang saya temukan blog yang "gue banget" dari blogger lokal.


Blog seperti apa yang saya minati? Tentu saja tentang bisnis dan entrepreneurship, tentang gaya hidup (slow and simple living), personal development, dan sedikit tentang seni (jazz atau sastra). Nah itu jarang sekali saya temukan di kalangan blogger Indonesia.


Meski begitu, tentu ada beberapa blogger Indonesia yang saya sukai. Di antaranya:


1. Blogger TDA. Of course. Mereka semua adalah teman-teman saya. Teman yang saling menginspirasi dan mengingatkan. Dari blog-blog mereka saya sering menemukan "sesuatu". Ada kekhasan dari blogger member TDA ini. Ceritanya "real people, real story". Saat ini ada lebih dari 500 blogger yang berafiliasi ke TDA (biasanya mereka menampilkan logo TDA di blognya).


Saya sering membacanya dengan berlangganan melalui Google Reader. Jadi, saya tahu siapa saja yang terakhir mengupdate blognya. Belakangan saya merasakan terjadinya penurunan kuantitas postingan di blogger TDA. Entah kenapa. Mungkin mereka sibuk, atau telah lagi keasyikan dengan media lain seperti Facebook.


Saya pun sempat begitu, jarang posting gara-gara keasyikan di Facebook atau micro blogging di Twitter. Belakangan saya sadar bahwa tulisan-tulisan singkat itu tidak dalam dan lama-lama bisa memandulkan pikiran kita. Apalagi setelah diingatkan oleh teman saya ini.


Beberapa blogger TDA yang sering saya sambangi di antaranya: Iim Rusyamsi, Fauzi Rachmanto, Mohamad Rosihan, Evi Indrawanto, Yulia Astuti, Ines Handayani, Hadi Kuntoro, Doris Nasution, Teguh Atmajaya, Adzan Wahyu dan beberapa lainnya.


2. Jamil Azzaini. Beliau adalah pelantun Sukses Mulia, trainer, inspirator dan penulis buku laris. Bukunya yang terakhir, "Tuhan, Inilah Proposal Hidupku", ternyata ditulis setelah berinteraksi dengan TDA, terutama setelah Halal Bihalal TDA tahun lalu. Pak Jamil sendiri adalah salah satu penasehat TDA.


Terakhir saya mendengar talkshow beliau di radio mobil tentang 7 Kedahsyatan Menulis. Sayang, saya harus parkir dan meninggalkan mobil dan ketinggalan beberapa point. Akhirnya saya mengirim SMS meminta agar Pak Jamil menuliskannya di blog. Alhamdulillah diiyakan dan sudah bisa dibaca di blognya.


3. Nukman Luthfie, seorang online businessman. Dikenal sebagai online business strategist. Sekarang sering "beredar" sebagai pembicara di mana-mana. Tulisannya sering saya baca untuk menambah wawasan dan informasi mengenai apa yang tengah terjadi di dunia bisnis online saat ini. Penasehat TDA ini juga yang telah membantu lahirnya portal Komunitas TDA.


Pak Nukman adalah seorang pemikir strategis dan jago di bidang PR. Saya pernah chatting dengannya dan berkonsultasi tentang personal branding. Beberapa rekomendasinya sedang saya terapkan saat ini.


4.Yodhia Antariksa. Blognya, Strategi Manajemen punya banyak penggemar, termasuk saya. Tulisan yang renyah namun berisi itu begitu ditunggu setiap hari Senin. Penyandang gelar master di bidang Human Resource dari Texas AM University ini begitu kaya dengan insight menarik di bidang manajemen. Menurut saya, harusnya lebih banyak pakar di bidang spesifik seperti ini yang menulis blog.


Saya juga sering bertukar pikiran dengan Pak Yodhia, walau pun kami jarang bertemu. Saya sering mendapat rekomendasi buku bermutu darinya. Satu hal yang membuat saya senang dan bangga, bahwa ternyata blog saya juga sering dikunjunginya. Hehe...


5. Wah, saya sudah kehabisan referensi nih...Saya cukupkan sampai di sini saja ya. Kalau pembaca ada informasi blog menarik yang belum saya ketahui, mohon beritahukan saya ya. Saya akan berterima kasih sekali.


Salam FUUUNtastic!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Sebuah Kisah Inspiratif Bekal Bagi Para Caleg

Menyambut pesta demokrasi pagi ini, sebuah kisah menarik bagi para caleg dan bagi kita semua saya ambil dari buku Robin Sharma, The Greatness Guide.


-------


Setelah saya berbicara di hadapan para karyawan di sebuah perusahaan yang besar, seorang wanita mendekati saya dengan berurai air mata."Robin, saya sudah membaca semua buku anda dan mencoba semampu saya untuk menjalani kehidupan seperti yang anda tulis.Namun ada seorang pria yang benar-benar hidup sesuai dengan tulisan anda. Ia meninggal beberapa bulan lalu. Ia adalah ayah saya."


Ia berhenti sejenak, tepekur memandangi lantai.


"Lima ribu orang datang pada pemakaman ayah saya", katanya. "Seluruh kota ada di sana. Sya merasa sangat tersanjung melihatnya."


"Apakah ayah anda adalah seorang pebisnis terkenal?" tanya saya. "Bukan", jawabnya. "Seorang politisi yang populer?", tanya saya ingin tahu."Bukan", ia berbisik. "Apakah anda semacam selebritis lokal?" "Bukan, Robin, sama sekali tidak." "Lalu kenapa ada 5.000 orang yang datang saat pemakaman ayah anda?" tanya saya.


Ia terdiam lama. "Mereka datang karena ayah saya adalah seorang pria yang selalu memasang senyum di wajahya. Ia adalah jenis orang yang selalu menjadi orang pertama yang menolong orang yang membutuhkan. Ia selalu memperlakukan orang dengan sangat baik dan selalu sopan. Ia menapaki dunia ini dengan begitu halus. Lima ribu orang datang pada saat pemakaman ayah saya karena ia orang baik."


----


Semoga menjadi inpirasi bagi kita semua. Syukur-syukur ada caleg yang baca tulisan ini. Bahwa untuk menjadi orang baik dan meninggalkan "warisan luhur" untuk dunia ini tidak harus dengan menjadi politikus, menjadi pebisnis, menjadi selebritis. Cukup menjadi orang baik. "Memang baik untuk menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik", kata Ebet Kadarusman.


Sambil menulis ini saya teringat dengan almarhumah nenek saya (ibu dari ayah). Beliau sangat ramah kepada semua orang. Sepeninggal beliau, banyak orang yang kehilangan, karena beliau selalu menegur semua orang yang ditemui. Beliau selalu menawarkan siapa saja yang lewat rumahnya untuk mampir. "Singgahlah..." ajak beliau.


Ada cerita lucu ketika beliau datang ke Jakarta dan tinggal di rumah orang tua saya. Pagi-pagi beliau berdiri di depan pagar, menegur dan meminta orang-orang yang lewat di depan rumah untuk singgah ke rumah kami :-). Di kampung perilaku seperti itu adalah biasa, tapi di Jakarta?


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas

Buku Apa yang Anda Baca Saat Ini?

Sebuah pertanyaan iseng saya ajukan di status saya di Facebook kemarin. Saya ingin tahu, apakah teman-teman saya ini sudah melupakan membaca buku di tengah-tengah hiruk pikuk Facebook dan kehidupan online yang menyita waktu dan perhatian.


Beberapa waktu lalu, saya pernah 'mengeluhkan' berkurangnya waktu saya untuk membaca karena perhatian dan waktu saya telah direbut oleh media online.


Ternyata, jawaban teman-teman tidak mengecewakan. Lebih dari 40 orang menjawab bahwa mereka saat ini sedang membaca buku seperti: The Secret, Quantum Ikhlas, Outlier, New Wave Marketing, Crowd, Marketing Revolution, Tan Malaka, Hypnotic Writing, Zona Ikhlas, Leaving Microsoft to Change The World, Miracle of Giving, dan sebagainya.


"Pak Roni sendiri sedang baca apa?", tanya salah satu di antara mereka.


The Zahir dari Paulo Coelho dan The Greatness Guide dari Robin Sharma, jawab saya.


Saya senang, ternyata teman-teman saya banyak pembaca buku. Jadi terpikir ide untuk membentuk klub pembaca nih (haloooo, TDA Book Club mana nih kegiatannya?)


Katanya, masyarakat Indonesia belumlah menjadi masyarakat pembaca. Salah satu ciri masyarakat pembaca adalah, ketika berkenalan dan berbasa-basi, yang ditanyakan adalah, "Buku apa yang anda baca saat ini?".


Di Indonesia, sangat jarang saya mendapatkan pertanyaan seperti ini. Paling jauh pertanyaannya berkisar kejadian terkini seperti bencana, tentang sepakbola (saya bukan penggemar bola), menyindir pemerintah, gadget, harga-harga atau gosip selebritis.


Jarang sekali saya bertemu orang membicarakan serius tentang buku. Jadi, kalau diminta mengingat, gampang sekali saya mengingat namanya lantaran sedikit, Tung Desem Waringin, Fauzi Rachmanto, Yusef Hilmi, Yulia Astuti dan Yodhia Antariksa. Mereka adalah teman-teman yang saya kenal adalah pembaca kelas berat.


Tantangan sekarang adalah, perhatian kita yang banyak di sita oleh media non buku seperti TV, laptop atau mobile gadget. "Lho, saya tetap membaca kok, tapi secara online", salah seorang mendebat.


Ya, saya setuju. Membaca tidak harus dari buku.


Tapi membaca buku berbeda dengan membaca secara digital. Membaca secara digital atau online, sulit mencari kedalaman. Kita dapat "banyak" tapi tidak "dalam dan luas". Semua itu hanya didapat dari membaca buku secara fisik.


Membaca buku secara fisik itu ada kenikmatan dan ritualnya tersendiri. Saya harus mencari tempat yang nyaman di rumah, misalnya di gazebo atau teras belakang sambil mendengar gemericik air di kolam ditemani secangkir kopi krim atau makanan kecil.


Membalik-balik halaman buku itu adalah kenikmatan tersendiri. Bahkan saya suka dengan bau kertas yang khas itu. Dari bau kertasnya saja, saya bisa tahu itu buku berkualitas atau tidak.


Saya suka membaca dua atau tiga buku secara berbarengan. Topik yang dipilih harus berbeda. Misalnya, novel, bisnis dan memoar. Bahkan saya ada buku yang khusus di baca saat merenung di kloset. Hehe. "Kasihan ya, bukunya dibaca di kloset", komentar istri saya.


Ketika kuliah dulu, saya pernah menghitung bahwa saya membaca buku rata-rata 9 halaman per hari atau 3.285 halaman per tahun. Sekarang, saya tidak pernah lagi menghitungnya. Rasanya sih turun.


Membaca buku memperkaya pikiran dan jiwa saya. You are what you read, kata sebuah ungkapan. Saya setuju. Saya bisa seperti sekarang ini (alhamdulillah) adalah karena pengaruh apa yang saya baca sejak kecil. Pola pikir saya terutama dipengaruhi oleh buku.


Saya membaca, maka saya ada. Membaca buku adalah untuk eksistensi diri saya. Kalau itu saya tinggalkan, maka saya pun "punah".


Wassalam,


Ron, Owner Manet Busana Muslim


NB: Saya ada ide untuk mendiskusikan buku-buku yang menarik. Apakah anda tertarik untuk hadir kalau saya undang?

Apakah Anda Percaya Tanggal dan Hari Baik Terkait dengan Rezeki dan Kesuksesan Hidup?

"Pak Roni aslinya dari mana", tanya Rudi (bukan nama sebenarnya) melalui chatting di Facebook.


"Dari Bukittinggi", jawab saya.


"Apakah waktu menikah dulu, Pak Roni menghitung tanggal dan hari baik sesuai dengan hari lahir bapak dan istri?", lanjutnya.


Saya kaget juga dengan pertanyaan seperti ini. Saya jawab, "Tidak. Saya malah tidak tahu hari lahir istri saya. Hehe".


"Jadi, bagaimana caranya menentukan tanggal pernikahan?"


"Kami menikah tanggal 29 April 2001, karena dapat gedung resepsinya tanggal segitu. Kalau dapat gedungnya tanggal 5, ya kami menikah tanggal 5", jawab saya.


Teman ini rupanya sedang bermasalah dengan rencana pernikahannya yang terancam batal lantaran tanggal lahirnya dan calon istrinya tidak cocok menurut kepercayaan.


"Hmm... ini soal belief", kata saya.


Soal ini, berbeda tempat bisa berbeda keyakinan. Di tanah kelahiran saya, tidak dikenal perhitungan tanggal dan hari baik, tapi di tempat lain justru itu adalah segalanya. Mau nikah tanggal berapa saja menurut kepercayaan di kampung saya, silakan. Semua hari adalah baik. Dan itu semua tidak terkait dengan rezeki dan kehidupannya di masa mendatang.


Kalau dikaitkan dengan tanggal dan hari baik, saya yakin 90% orang di kampung saya menikah di tanggal yang salah. Tapi kenyataannya banyak rumah tangganya yang langgeng dan mereka kaya raya.


Saya tidak akan mempertentangkan belief mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik. Saya hanya memberikan faktanya saja. Bahwa di suatu daerah bisa berlaku belief yang totally different dan terbukti tidak berakibat apa-apa.


Makanya, saya tidak peduli dengan tanggal berapa mau buka bisnis atau tinggal di rumah nomor berapa. Tahun 2004 saya pindah ke rumah kontrakan nomor 13. Saya mulai lagi membangun Manet dari garasi rumah tanggal 4 Maret 2004, sehari setelah diusir dari Tanah Abang. Padahal angka-angka itu dihindari oleh komunitas tertentu. Kenyataannya, justru tahun itulah tahun kebangkitan Manet dengan berbisnis secara online dan menutup 3 toko di Tanah Abang.


Meski begitu, saya tidak berani mendebat soal belief ini. Menurut saya itu adalah hak masing-masing orang. Saya tidak berani mengatakan ini benar dan itu salah. Yang jadi masalah adalah, apakah belief itu membuat kita menjadi maju atau mundur? Apakah kepercayaan ini membawa kita kepada syirik atau tidak?


Saya hanya percaya dengan logika dan prinsip-prinsip universal alias sunnatullah, seperti prinsip tanam - tuai. Kita akan menuai apa yang kita tanam. Kita akan menuai kebaikan kalau kita menanam kebaikan.


Saya percaya dengan prinsip kerja keras, amanah, kejujuran. Saya percaya dengan doa dan dukungan dari orang tua. Ridho Allah mengikuti ridho orang tua. Saya percaya dengan doa orang banyak.


Lucunya, ternyata, saat ini bisnis saya juga sedang terkena masalah belief seperti ini. Seorang karyawan bagian gudang bersikukuh minta cuti satu bulan dengan alasan ingin membangun rumahnya. Menurut kepercayaannya dan keluarganya, inilah tanggal, hari dan bulan baik untuk membangun rumah.


Saya bertanya, kenapa harus sekarang? Kenapa tidak setelah lebaran saja, ketika kantor sedang tidak sibuk? Selain itu, memberikan cuti satu bulan dengan alasan seperti ini akan menjadi preseden buruk bagi karyawan lainnya. Saya memberikan dua pilihan, tetap bekeja di sini atau berhenti karena memaksa minta cuti satu bulan.


Ia tidak bergeming. Ia rela melepaskan pekerjaannya yang notabene bisa menghidupi keluarga dan membangun rumahnya demi sebuah keyakinan yang menurut saya tidak masuk akal sama sekali.


Bagaimana pendapat anda?


Salam FUUUNtastic!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim

Dream Comes True, Hari Ini TDA Akan Bertemu dengan Sandiaga Uno

uno.jpgSiang ini saya dan TDA Board of Director akan bertemu dengan Sandiaga Uno, mantan Ketua HIPMI yang sekarang aktif di KADIN mengurusi UMKM. Cocok sekali dengan TDA. Mudah2an membawa manfaat konkrit buat TDA.

Pertemuan ini berawal dari kehadiran member TDA di acara yang diadakan oleh Modernisator beberapa waktu lalu. Ketika Pak Iim, memperkenalkan diri sebagai Presiden TDA, Pak Sandy langsung 'ngeh dengan TDA. "TDA itu Tangan Di Atas kan? Setiap saya keliling Indonesia, saya selalu bertemu dengan membernya", ujarnya. Alhamdulillah, brand awareness TDA sudah lumayan tinggi.

Ternyata pertemuan ini mengawali pertemuan kami selanjutnya. Alhamdulillah, setelah berkoordinasi dengan asistennya, kami akan bertemu dengan Pak Sandy dan Tim dari KADIN siang ini di Gedung BPPT.

Bagi saya, pertemuan ini adalah sebuah milestone buat TDA. It's a dream comes true. Sudah lama saya mengamati sepak terjang tokoh satu ini. Saya memimpikan suatu saat bisa bertemu dengannya. Saya yakin suatu saat akan menjadi kenyataan. Karena, menurut saya, antara TDA dan Pak Sandy sudah ada "chemistry". Kami punya concern yang sama terhadap UMKM di Indonesia.


Oya, bagi yang belum tahu siapa itu Sandiaga Uno? Silakan baca di bawah ini tulisan yang saya ambil dari Kompas.com di bawah ini:

Wassalam,


Roni, Founder Komunitas TDA

-------------------------

Manis-pahit dunia kerja dikecap Sandiaga Uno pada usia muda. Mengawali karier sebagai karyawan, meraih puncak karier dalam waktu singkat, hingga diberhentikan dari pekerjaan nan mapan, mencipta arus balik hidup Sandiaga untuk menjadi pengusaha. Tahun 2008 ia dinobatkan menjadi "Entrepreneur of The Year" dari Enterprise Asia untuk predikat pengusaha terbaik.

Pencapaian itu adalah buah dari pergulatan panjang. Namun, pria yang akrab disapa Sandi itu menyebut dirinya sebagai "pengusaha kecelakaan". Itu karena kiprahnya di dunia usaha dimulai tatkala kondisi karier dan keuangannya sedang terpuruk pada 1998.


Pria lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cumlaude itu mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Tahun 1991 ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00.


Kariernya terus melesat. Pada tahun 1994 ia bergabung dengan MP Holding Limited Group sebagai investment manager. Pada 1995 ia hijrah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan.


Namun, kariernya itu tak berlangsung lama. Krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Semua tabungan hasil jerih payahnya yang diinvestasikan ke pasar modal juga turut kandas akibat ambruknya bursa saham global.


Kembali ke Indonesia


Sandi kembali ke Indonesia dan menumpang di rumah orangtuanya, Henk Uno dan Mien R Uno, karena tidak mampu membayar sewa rumah. Situasi sulit ini sempat membuat ayah dua anak itu hampir putus asa.


Pergulatan batin dalam keterpurukan membuat Sandi berkeyakinan, menjadi karyawan membuat ia sulit memiliki kemandirian secara finansial. Pemikiran itu melandasi langkahnya untuk "banting setir" dan menapaki dunia bisnis.


"Sebagai karyawan perusahaan, banyak hal dapat terjadi di luar kontrol kita. Apabila keadaan ekonomi memburuk, ada kemungkinan kita di-PHK (pemutusan hubungan kerja) meskipun kita memiliki prestasi di perusahaan itu," tutur bungsu dari dua bersaudara itu.


Pada tahun 1997 ia mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Ia mempelajari seluk-beluk bisnis, antara lain dari William Soeryadjaya.


Pada 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usaha yang digarap meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.


Berbekal jejaring relasi dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi menjalankan bisnis itu. Usahanya menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu lantas dibenahi dan dikembangkan. Setelah pulih, aset perusahaan dijual dengan nilai tinggi.


Ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih. Beberapa perusahaan telah dijual, antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.


Pada tahun 2007 Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS. Pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS.


Sandi mengibaratkan dunia usaha seperti naik sepeda, yakni kerap jatuh-bangun. Hanya keberanian, optimisme dalam memandang masa depan yang membuka jalan untuk mendulang kesuksesan.


Baginya, jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan. Dengan semangat itu, usaha yang digelutinya kini memiliki total karyawan 10.000 orang.


"Hidup harus punya target. Tanpa target, pencapaian akan sulit," tutur pria yang menjabat Ketua Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu.


Dorong UMKM


Di bidang keorganisasian, pria penggemar olahraga basket ini pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2005-2008. Selama masa kepemimpinannya, jumlah pengusaha yang tergabung di Hipmi meningkat dari 25.000 orang menjadi 35.000 orang.


Di mata koleganya, Sandi merupakan sosok inspirator bagi pengusaha muda yang minim pengalaman. Ketua Umum BPP Hipmi 2008-2011 Erwin Aksa menuturkan, Sandi gigih menanamkan prinsip bahwa pengusaha harus punya mimpi dan bekerja sepenuh hati.


Sandi juga sibuk sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Ia mempunyai obsesi meningkatkan jumlah pengusaha Indonesia dari 0,18 persen menjadi 5 persen dari total penduduk pada 2025.


Menurut ia, ada tiga masalah besar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM), akses pasar, dan pendanaan. Keprihatinan terbesarnya adalah nasib pengusaha kaki lima yang sering mengalami penggusuran hingga sulit meningkatkan kualitas SDM.


UMKM selama ini dibiarkan tumbuh sendiri oleh pemerintah tanpa kebijakan yang berpihak. Namun, sektor itu mampu bertahan pada saat krisis dan menopang perekonomian negara selama sekitar 10 tahun. Belakangan, sektor UMKM menjadi pilar penciptaan lapangan kerja dengan kemampuan menyerap karyawan rata-rata 5-10 orang per unit usaha.


"Kebijakan yang diperlukan adalah memberi ruang bagi UMKM. Upaya menolong mereka bukan dengan menggusur, melainkan membuat pasar baru untuk berusaha dan membuka akses pasar," kata Sandi.


Meski senang berkecimpung dalam organisasi, ia mengaku belum tertarik untuk menduduki jabatan politik. Sandi menolak anggapan bahwa kesuksesannya saat ini merupakan jalan meretas karier politik.


"Yang diperlukan bangsa saat ini adalah pengusaha," katanya.

Bank Budi


Saya itu sering berpikir, merenung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:


Mengapa saya bisa sampai pada kondisi seperti sekarang ini?


Mengapa saya bisa punya bisnis seperti sekarang ini?


Mengapa saya bisa ditemani istri dan dua orang putra yang sehat dan membahagiakan, tinggal di rumah impian, punya teman-teman dan sahabat yang baik dan mendukung?


Mengapa saya bisa menjalani kehidupan seperti sekarang ini?


Itu adalah takdir saya, secara gampang bisa dijawab.


Tapi, kita menemukan takdir itu tentu ada sebabnya. Tentu ada "jalan tertentu" yang kita tempuh sehingga bisa sampai kepada takdir kita hari ini.


Sepertinya, saya menemukan jawabannya dari sebuah bacaan yang sedang saya genggam dan kunyah isinya saat ini.


The Zahir, sebuah novel besutan Paulo Coelho. Siapa yang tak kenal dia.


Itu semua karena Bank Budi.


Apa yang dimaksud dengan Bank Budi?


Bank Budi adalah bank yang paling kuat di dunia, dan ia bisa memenuhi kebutuhan segala aspek kehidupan kita.


Ini contohnya:


Saya bertemu dengan seorang pengusaha senior yang sukses. Ia melihat saya punya potensi yang besar untuk bisa sukses seperti dia. Ia kemudian mengenalkan saya dengan seorang temannya, mungkin itu adalah seorang vendor yang kemudian membantu saya membesarkan bisnis saya.


Saya pun berutang budi kepadanya.


Suatu hari pengusaha senior itu, mengalami kesulitan dalam bisnisnya. Tentu, karena saya merasa berutang budi, saya pun akan membantunya.


Pengusaha senior itu telah menyimpan tabungan di rekening Bank Budi saya dalam bentuk kontak-kontak penting.


Dunia ini, kata Coelho, hanya terdiri atas kontak, tidak ada yang lain lagi. "Mereka pada suatu hari akan meminta bantuan, kepadamu, dan kau akan menghormati, dan, pada saatnya jaringanmu akan melebar ke seluruh penjuru dunia, kau akan kenal semua orang yang perlu kau kenal, dan pengaruhmu akan tumbuh semakin besar".


"Bank Budi adalah investasi berisiko, seperti bank-bank lain. Kau bisa menolak permintaan bantuanku. Tidak apa-apa, aku tetap mengucapkan terima kasih dan meminta tolong kepada orang lain yang juga berutang budi padaku; tapi mulai saat itu, semua orang tahu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahwa kau tidak bisa dipercaya".


Menarik untuk kita renungkan bersama.


Oke deh. Saya lanjut dulu membacanya...


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim

Kolaborasi Member TDA dengan Om Saya di Duri (Riau)


Ini adalah satu bukti lagi bahwa slogan "Bersama TDA Menebar Rahmat" bukanlah slogan kosong.


Kemarin saya ditelepon oleh Pak Eko Rakhmat, member yang tinggal di Duri, Riau. Ia mengabari bahwa baru saja membuka warung bakso bakar.


Yang menarik adalah, bisnis ini adalah kolaborasi antara Pak Eko dengan Om Erman, paman dari istri saya yang tinggal di sana.


Saya senang dan turut mendoakan kolaborasi bisnis ini akan sukses.


Awalnya, saya memperkenalkan Pak Eko dengan Om Erman. Saya katakan bahwa Pak Eko adalah member TDA yang cukup aktif. Saya ingat dulu, Pak Eko kerap hadir di acara-acara TDA di Jakarta, meski pun tinggal dan bekerja di seberang pulau. Bahkan pernah bergabung di TDA Sepatu, Metro Tanah Abang.


Om Erman sendiri adalah seorang karyawan yang punya mindset TDA. Sejak lama ia telah menyadari bahwa penghasilan dari karyawan tidak bisa menjamin sepenuhnya. Kami banyak berdiskusi dan bertukar pikiran soal bisnis. Om Erman sering bertelepon dengan saya meminta pendapat saya tentang bisnis-bisnis yang akan beliau dirikan, termasuk saat akan bekerja sama dengan Pak Eko ini.


Beberapa buku yang saya rekomendasikan seperti seri Rich Dad Poor Dad dan Who Moved My Cheese, telah mempengaruhi beliau.


Ide passive income dari Robert Kiyosaki telah dipraktekkannya dengan mantap dan sukses. Tiga orang anak beliau yang kuliah di Trisakti dan Binus, semuanya dibiayai dari hasil passive income dari perkebunan kelapa sawit miliknya.


Beberapa bisnis pun telah dicoba, seperti membuka restoran ikan bakar di Bukittinggi, rumah makan Padang di Jakarta, sampai dengan "mengimpor" hasil bumi dari kampung seperti beras, ikan dan sayuran untuk dijual di Duri. Itu semua beliau lakukan dengan mengambil sendiri produk tersebut di Magek, Bukitttinggi dan membawanya dengan mobil ke Duri. Jatuh bangun dalam membangun bisnis, tidak membuat beliau kapok dan patah arah.


Sekali lagi selamat buat Pak Eko dan Om Erman. Semoga sukses dan menebar manfaat bagi orang banyak.


Ini adalah satu dari sekian bukti bahwa TDA telah sukses mempertemukan member-membernya untuk saling berkolaborasi. Tentu, semuanya diawali dari silaturahim, saling kenal dulu sehingga timbul saling percaya. High trust commmunity, itulah yang tengah kita bangun saat ini.


Salam FUUUNtastic!


Bersama TDA Menebar Rahmat


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Seminar dan Workshop: The Most Important Steps to Start Your Own Business...Successfully!!!

Takut melangkah jadi pengusaha itu wajar dan anda harus punya rasa takut itu, tapi dalam perspektif yang benar. Seminar dan workshop ini mengenai bagaimana memulai langkah anda untuk memiliki bisnis sendiri... dan meraih sukses.


Langkah-langkah dari para praktisi yang menjadi pembicara di sini mungkin tidak ditemui di bangku kuliah. Bagaimana seorang manajer profesional banting stir menjadi pengusaha...dan sukses! Bagaimana seorang mahasiswa mempersiapkan diri untuk memulai bisnis sendiri...dan sukses! Bagaimana menyikapi pengalaman kegagalan untuk meraih sukses. Bagaimana memulai bisnis di internet...dan sukses!


Seminar ini mengajak anda untuk:


- Memiliki perspektif yang benarr mengenai perasaan takut gagal


- Menggali peluang-peluang bisnis di sekitar anda


- Meminimalkan risiko kegagalan


- Menghindari kegagalan berulang-ulang


- Mempersiapkan diri dan melangkah untuk memulai bisnis anda


- Menggali cara-cara meningkatkan kinerja bisnis anda


"Stop dreaming to be an Entrepreneur. Make your dream comes true..."


One Day Seminar & Workshop, 16 April 2009, 09.00 - 17.00


Indonesia Room Shangri-La Hotel


Pembicara:


- Utomo Njoto, FT Consulting


- Gideon Hartono - Apotek K-24


- Paul B. Nio - Kedai Tiga Njonja


- Badroni Yuzirman, www.manetvision.com


Kontribusi Peserta Rp. 1.000.000 per orang


Pendaftaran: Hubungi Cinta atau Angie di (021) 2314330, 3451250, 3503857, Fax (021) 3503595, Email: promoswa@yahoo.com. Website: www.swanetwork.com


Lucky Prizes:


- 1 (satu) pemenang sepeda Polygon


- 5 (lima) pemenang voucher @Rp. 200.000 by deboliva.com

TDA Akan "Mewarnai" Wajah Ekonomi Indonesia 10-20 Tahun ke Depan

Ini bukan kata-kata saya. Ini adalah kata-kata dari Pak Haji Alay (sesepuh dan inspirator TDA) berulang kali, sejak awal berdirinya TDA.


Itu adalah visi TDA dari kaca mata beliau, seorang entrepreneur tulen yang hanya lulusan SMP.


Saat itu, saya terperangah dengan pernyataan ini. Tidak percaya. Terlalu tinggi. Terlalu hebat, batin saya.


Belakangan saya meralat pendapat ini. Belakangan saya melihat keraguan saya itu tidak beralasan. Saya melihat sendiri bibit-bibit ke arah itu mulai tumbuh.


Pak Haji Alay, sungguh adalah seorang visioner. Tidak dibutuhkan kepintaran ke gelar akademis untuk memiliki visi dan imajinasi yang kuat seperti itu.


Sekarang, visi itu telah menulari saya. Visi itu telah menulari para founder dan pegiat TDA.


Melihat fenomena yang terjadi, sangat dimungkinkan hal itu terjadi.


TDA akan memberi warna tersendiri wajah ekonomi bangsa 10 - 20 tahun ke depan.


Warna apa yang akan diberikan oleh TDA? Apa yang membedakannya dengan warna lainnya?


Tangan Di Atas adalah sebuah sikap mental yang berkelimpahan (abundance), lawannya adalah sikap mental kekurangan (scarcity). Itulah yang membedakan "kita" dan "mereka".


Lho, sikap mental seperti itu toh juga dimiliki oleh mereka-mereka yang bukan TDA. Betul. Tepat sekali. TDA sebenarnya adalah sebuah sikap mental, bukan merujuk kepada organisasi atau komunitas seperti ini.


Siapa pun yang punya sikap mental seperti itu, ya dia adalah TDA.


Member TDA sekarang ini tercatat 6.000an di portal. Tapi jumlahnya bisa jutaan bila digabungkan dengan mereka yang sudah "TDA" secara sikap mental. Mereka adalah TDA meski pun belum bergabung dengan TDA. Mereka satu barisan dengan kita.


"Ayo, kita putihkan Jakarta", ajak salah satu partai peserta Pemilu. Saya suka ajakan ini dan juga mengajak anda semua dengan ajakan, "Ayo, kita warnai ekonomi Indonesia".


Salam FUUUNtastic!


Bersama TDA Menebar Rahmat


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Kuartal Pertama Sudah Lewat, Bagaimana Bisnis Anda?

Kuartal pertama tahun ini sudah lewat. Alhamdulillah, bisa dilewati dengan aman, selamat dan menggembirakan.


Tadinya sempat khawatir. Di mana-mana orang pada teriak krisis global. Dampaknya katanya mulai terasa di negeri kita. Pemutusan hubungan kerja mulai mewabah. Para pekerja yang mengharapkan lembur sekarang bertopang pada gaji pokok tok. Memprihatinkan. Tapi selalu ada solusi. Selalu ada jalan keluar.


Kita sebagai entrepreneur atau TDA, dibekali seribu satu akal dan solusi. Istilah "saudagar" itu, kata Haji Alay (sesepuh TDA) artinya adalh "seribu akal". "Panjang aka", kata orang Minang, makanya di Padang plat mobilnya BA alias "Banyak Akal". Hehe. Becanda.


Back, to the topic. Bagaimana kondisi bisnis anda selepas kuartal pertama ini?


Bisnis saya, alhamdulillah telah melewatinya dengan selamat sejahtera. Artinya, selain selamat juga terjadi peningkatan. Cukup signifikan, malah.


Di awal tahun, saya waspada, pasang kuda-kuda. Warning dari berbagai pihak saya perhatikan. Tapi saya punya belief, keyakinan yang berbeda. Di balik krisis selalu ada peluang. Di balik masalah selalu ada solusi.


Ini saya sampaikan kepada tim saya. Oke, ini masa-masa berat, kata saya. Ekonomi kita diprediksi hanya tumbuh 4,5 %. Tapi itu kan angka rata-rata. Artinya, ada bisnis yang pertumbuhannya minus, ada yang stagnan, tapi tentu ada juga yang tetap tumbuh di atas angkat itu.


Bisnis kita harus tumbuh di atas angka itu, kata saya bersemangat.


Ibarat nilai rata-rata di kelas, misalnya 7. Pasti ada murid yang nilainya 5, 6, 7, 8 atau 9. Kita harus menjadi yang nilainya 9!


Caranya?


Nah, caranya itulah yang menantang. Kita harus bekerja ekstra keras, ekstra smart. Kita harus do more, do something different. Hanya orang gila yang mengharapkan hasil berbeda dengan cara yang sama, kata Einstein.


Salah satu tools berguna yang saya praktekkan, saya dapatkan dari seminar Hermawan Kartajaya akhir tahun lalu. Saya percaya saja dengan nasihatnya. Saya praktekkan dan terbukti ampuh.


Anda juga tentu punya kiat-kiat tersendiri yang bisa membuat bisnis anda tetap bertahan dan bertumbuh.


Meski begitu, radar dan alarm kewaspadaan tetap harus di jaga. Seperti orang mengenndarai mobil, jangan terlalu banyak nge-gas. Harus lebih sering ngerem dan melihat kaca spion. Kalau sudah aman, tancap gas lagi.


Kuartal kedua, berbekal sukses di kuartal pertama, tentunya lebih optimis lagi.


Sekarang, saya mau praktekkan nasihat HK untuk kuartal kedua.


Bismillah.


Salam FUUUNtastic!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim

Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO