Seminar Strategi Sukses UKM Menghadapi Perekonomian dengan Teknologi Informasi


Usaha kecil menengah (UKM) telah terbukti mampu hidup dan berkembang di dalam badai krisis bertahun-tahun, kontribusi UKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Keberadaannya telah dapat memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar hampir 60%, penyerapan tenaga kerja sebesar 88,7% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia dan kontribusi UKM terhadap ekspor tahun 1997 sebesar 7,5% (BPS tahun 2000). Karena itu UKM memegang peranan penting dalam perekonomian nasional.

Namun untuk menghadapi krisis global dan perdagangan bebas multilateral (WTO), regional (AFTA), kerjasama informal APEC, dan bahkan ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2020 UKM harus mengupayakan segala cara agar dapat terus berjalan dan berkembang. Salah satunya dengan cara menggunakan teknologi server.

Pada jaman dengan teknologi yang sudah maju, penggunaan komputer dan sistemnya sudah merupakan keharusan, baik untuk bisnis menengah sampai bisnis kecil, karena dengan menggunakan komputer kita akan lebih cepat mengambil keputusan berdasarkan data yang dimasukan setiap hari. Selain itu
akan memudahkan berkomunikasi dengan perusahaan atau personal di dunia melalui jaringan internet.

Beberapa tahun yang lalu, komputer yang kelasnya masih main frame hanya dipakai di perusahaan besar, untuk jumlah omzet yang besar, dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, harga perangkat komputer semakin terjangkau dan kemampuannya juga tidak kalah dengan komputer kelas main
frame. Bahkan komputer kelas main frame sudah mulai memudar ketenarannya, digantikan dengan komputer kelas rumahan dengan kemampuan yang bahkan lebih tinggi dari main frame.

Banyak sekali pengusaha kelas menengah yang tidak memandang penting pemakaian komputer. Dengan berkembangnya dunia komputer dan elektronika, pemanfaatan komputer bukan lagi hanya untuk menghitung-hitung saja, tetapi sudah merambah ke segala bidang, termasuk pemanfaatan untuk mendapatkan informasi dengan secepat mungkin. Internet merupakan salah satu kebutuhan utama untuk bisa bersaing dalam era globalisasi, karena di dalamnya kita bisa mendapatkan informasi dan saling berkomunikasi dengan mudah dan murah.

Dalam seminar ini Anda akan mendapatkan informasi, ilmu, pengalaman dan strategi sukses bagaimana menghadapi perekonomian global dengan menggunakan teknologi informasi sebagai leverage bisnis Anda, langsung oleh pakar dan praktisi sukses dibidangnya.

Tempat & Waktu Pelaksanaan :
1. Hari/Tanggal : Rabu/15 April 2009
2. Waktu : 09.00-15.00 WIB
3. Tempat : Aula Timur Institut Teknologi Bandung (Jl.Ganesha No.10, Bandung)

Moderator : Budi Rahardjo

Pembicara :
1. Dwi Larso (Ketua Center For Innovation, Entrepreneurship, and Leaderdship (CIEL) ITB)
2. Badroni Yuzirman (Founder Komunitas Tangan Diatas (TDA), Owner manetvision.com
3. Gita Suryawijaya (Intel Indonesia)

Sambutan Oleh :
1. Menteri Perdagangan RI
2. Rektor ITB
3. Presiden Direktur Intel Indonesia

Investasi Seminar :
1. Rp 30.000,- untuk UKM & Umum
2. Rp 25.000,- spesial untuk anggota komunitas TDA
3. Rp 20.000,- untuk Mahasiswa

Peserta :
1. Perwakilan UKM
2. Mahasiswa
3. Umum

Prosedur Pendaftaran
1. Mendaftar di Front Office ComLabs atau Mendaftar secara Online di : http://www.comlabs.itb.ac.id/ocs/registration.php?cf=22
2. Melakukan Pembayaran melalui Rekening BNI ITB : 0028215608 a.n Arief Bahtiar 3. Melakukan Konfirmasi Pembayaran melalui sms/tlp ke Sobari (02292321960)

Pendaftaran akan ditutup setelah 300 Pendaftar
Informasi Lebih Lanjut Hubungi :
ComLabs USDI ITB
Jalan Ganesha No.10 Bandung 40132
Telp/Fax : 022-2516760
http://comlabs.itb.ac.id/seminar/


Mobil Anda Bagus, Bagaimana Cara Mendapatkannya?

Hari Minggu sore, saya tidur-tiduran di kamar karena kelelahan. Seharian aktivitas saya cukup padat termasuk menerima kedatangan tamu-tamu yang ingin menengok Vino, putra kedua kami yang baru lahir.

Tiba-tiba istri saya datang dan membangunkan. "Da, Da, itu ada tamu yang datang. Pake mobil gede banget. Siapa itu Da?"


Hmmm... siapa ya. Setahu saya, tidak ada teman dekat atau saudara yang punya mobil seperti itu.


Tapi saya langsung punya feeling.


"Paling itu Maetek (paman) Al", jawab saya. Mobil gede putih itu pastilah Hummer. Mobil ala militer Amerika yang replikanya banyak saya lihat di rumahnya. Hanya orang tertentu yang punya mobil seperti itu. Sudah pasti harganya miliaran.


Dugaan saya betul. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Krisis-krisis gini, ternyata tidak berpengaruh kepada Alfi Hendri, paman yang seumuran dengan saya ini.


Seperti kata Pak Tung, kalau ada orang sukses, kita harus bertanya; "Bagaimana caranya?". Itu pertanyaan yang diajukan oleh Chris Gardner di film The Pursuit of Happyness.


Awalnya saya mengira bahwa pengusaha outdoor dan safety equipment ini pastilah memboroskan uangnya demi hobi atau pride.


Ternyata, ini tidak terjadi dengan pengusaha sukses yang tidak sempat menamatkan kuliah ini. Koleksi mobil importnya tidak dibiayai dengan cara seperti itu. Caranya jauh lebih smart, aman dan terukur.


Bagaimana caranya?


Ternyata mobil itu bukan dibeli dari penghasilannya. Tapi dari bonus yang diberikan oleh perusahaan prinsipal di mana dia menjadi agen tunggal produk tersebut di Indonesia. Really, really smart.


Tahun lalu ia berhasil menaikkan penjualan produk tersebut sampai ribuan kali lipat. "Wajar dong, kalau Maetek minta bonus 5%", ujar orang yang pernah hadir di talkshow pertama yang melahirkan Komunitas TDA ini.


Setahu saya, selama ini bonus itu berupa alat-alat elektronik seperti televisi, HP, kulkas dan sebagainya. Lha ini, bonusnya aja mobil Hummer, berapa omzet dan profitnya ya?


Hikmah dari cerita ini adalah, jika ada teman atau saudara anda yang sukses, jangan iri atau berkomentar negatif seperti, "Ah, paling-paling hasil korupsi", atau, "Dia kan bisnisnya miring-miring gitu deh...". Kita tidak akan mendapatkan apa-apa dengan komentar sinis seperti itu.


Ajukan pertanyaan yang paling powerfull ini: "Bagaimana caranya?". Insya Allah, hasilnya akan berbeda bumi dan langit.


Salam FUUUUNtastic!
Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim

Welcome to The World, Vino Alghifari

Waduh, sudah lama juga ya saya nggak update blog ini.

Hmm...waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa.


Begitu banyak yang terjadi. Begitu banyak yang ingin diceritakan. Karena selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa.


Dua pekan terakhir ini perhatian dan energi saya begitu tersita dengan kehadiran "prime customer" saya yang kedua.


Tepatnya, tanggal 16 Maret 2009 lalu, telah lahir putra kedua kami di RS Asri, Jakarta Selatan.


Syukur tak terhingga kami panjatkan kehadirat Sang Maha Pengasih Maha Penyayang. Amanah baru ini begitu membahagiakan kami. Kehadirannya menggenapi kebahagiaan kami sekeluarga.


Vino Alghifari adalah nama yang kami berikan untuknya. Karena ia mirip sekali dengan kakaknya, Vito. Maka namanya pun kami buat hampir serupa.


Nama belakang Alghifari memang telah sejak lama saya siapkan. Saya terinspirasi dari sahabat nabi ini. Ia adalah termasuk orang pertama yang menyatakan keimanannya.


Selain itu ia adalah seorang punya jiwa sosial tinggi kepada masyarakatnya. Semoga Vino dapat mengikuti jejaknya. Itu harapannya.


Ucapan selamat dan doa dari para rekan, sahabat dan handai taulan terus berdatangan. Semoga ini menjadi energi positif yang akan membekali langkah Vino ke depan. Semoga.


Wassalam,


Roni

Maaf, Buku Saya Belum Bisa Terbit Sampai Batas Waktu yang Tidak Ditentukan

Maaf, buku saya belum bisa terbit sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Alasannya?


Macam-macam. Rasanya tidak layak saya sebutkan.


Manusia punya rencana, Tuhan yang menentukan. Itu sih kata-kata klise. Tapi yang sebenarnya adalah, manusianya belum berusaha secara maksimal.

Pengumuman ini saya sampaikan mengingat banyak teman yang menanyakan kapan buku saya terbit dan selalu saya jawab "menggantung" tanpa ada kepastian.


Mohon maaf juga kepada teman-teman yang sudah mencari-cari buku saya di toko buku tapi tidak ditemukan, karena memang bukunya belum dicetak.


Lho, kan bulan September 2008 bukunya sudah di-soft launching? Iya, tapi soft launching kan bukan berarti sudah terbit.

Meski begitu, saya masih berharap buku itu tetap bisa terbit, entah kapan.


Kenapa?

Karena saya menganggap buku yang merupakan kumpulan tulisan di blog www.roniyuzirman.com itu penting bagi tumbuh kembangnya semangat kewirausahaan di Indonesia.


Dari blog itulah lahir Komunitas TDA yang merupakan fenomena tersendiri di kancah kewirausahaan terkini di Indonesia.

Tanpa blog itu, TDA tidak ada. Di situlah peranan pentingnya.


Saya ingin buku itu menjadi "penyambung lidah" blog untuk khalayak yang belum bisa mengakses internet.

Adalah tidak adil, jika "pencerahan" mengenai TDA ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas yang bisa mengakses internet saja. Bagaimana dengan mereka para offliner? Mereka juga punya hak untuk mengakses TDA melalui buku itu.


Lantas, rencana kelanjutan penerbitannya bagaimana?

Saya ada beberapa ide pemikiran untuk kelanjutannya.


Pertama, saya tetap membuka kesempatan kerja sama dengan penerbit lain.

Kedua, saya akan menerbitkan sendiri buku itu dalam jumlah terbatas dan akan mendistribusikannya secara gratis atau komersil dan sebagian hasilnya untuk kas TDA.


Ketiga, saya akan menerbitkan buku itu dengan menggandeng sponsor untuk didistribusikan secara gratis atau komersil. Sebagian hasilnya untuk kas TDA.

Alternatif mana menurut anda yang lebih baik?


Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Leverage Game bersama ActionCOACH dan TDA


"Untuk mengembangkan bisnis tidak harus buka cabang sebanyak-banyaknya, melainkan mencari leads sebanyak-banyaknya. Thanks to Action International dengan buku-buku dan Leverage Game-nya." (Roni Yuzirman, Manet Vision, TDA Founder).

"Leverage Game sangat bermanfaat dan applicable untuk bisnis kita dan banyak hal yang baru kita sadari setelah menjalankan game ini untuk meningkatkan bisnis kita. Seperti digame itu, sebagai pemilik bisnis seharusnya kita memiliki helicopter view yang bisa memantau bisnis kita setelah kita membuat semua sistem. Smart work..sehingga akhirnya kita bisa stop work in di area operational dan akhirnya kita mendapatkan Quality of LIFE" ( Iim Rusyamsi , Owner Of Dokterkomputer.com, Presiden TDA)


****
PERHATIAN bagi BUSINESS OWNERS !

Bagaimana Anda menciptakan RESOLUSI BISNIS 2009 dengan CARA yang FUN
dalam waktu 3 jam !!!!

Melalui sebuah papan permainan yang FUN, Leverage Game mempertajam prinsip-prinsip "memperoleh lebih dengan upaya minimum" dan Anda akan bisa memahami 343 cara mendongkrak profit bisnis Anda sampai dengan 61 % dalam jangka waktu 6 bulan. Prinsip-prinsip ini dapat anda serap serta bawa pulang dan menjadi pijakan seumur hidup anda tentang kesuksesan bisnis.

Such a BUSINESS GAME you will not forget!!
" the LEVERAGE"

Sabtu, 21 Maret 2009 ; 09.30 - 14.00
Tempat: RM Pandan Hijau (ex Wong Solo) Jl Pemuda Rawamangun
Telpon: 021 - 4758486

INVESTASI Rp. 175.000,-/orang

Tempat terbatas hanya 30 orang!!!

ActionCOACHBusiness Coaching, theWorld's #1 Business Coaching Firm, saat ini mengajak Anda untuk bermain permainan bisnis terkenal :"Leverage Game", yang diciptakan oleh founder ActionCOACH, Bradley J. Sugars.

Daftarkanlah diri anda hari ini!!

**** Biaya Sudah termasuk Paket Makan Siang ****

Cara Mendaftar:
1. Lakukan tranfer pembayaran ditambah 3 nomor terakhir telpon / HP anda ke salah satu rekening dibawah:

- BCA Cabang Pondok Lestari Ciledug, No-rek : 345-1528643 an. Dwi Wahyono
- Bank Mandiri Cabang RS Jakarta, No-rek : 122-0004057751 an. Dwi Wahyono

2. Lakukan konfirmasi pembayaran dengan mengirim email ke TDA EO melalui tda_eo@yahoo.com dengan menyebutkan nama, nomor Telpon/HP, besarnya transfer, waktu transfer, melalui Bank apa, ke rekening bank apa.

Info lebih lanjut , hubungi TDA EO:
- Dwi Wahyono : 021-70449090
- Rery Indra K : 08128026943
- Goriv Setiawan : 0811841267

Terima kasih,

Wassalam,
TDA EO


Ikuti Workshop Business Start-Up: Rahasia Memulai dan Mengembangkan Bisnis dengan Smart

Apakah anda ingin berbisnis tapi tidak tahu cara memulainya?

Ikuti Workshop Business StartUp yang mengungkap rahasia strategi dan taktik memulai dan mengembangkan bisnis secara smart yang terbukti sukses"

Workshop intensif Selama 2 hari yang membedah intisari dan pengalaman bisnis yang telah teruji dan terbukti "sukses" bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran bisnis yang berorentasi "process dan result oriented"

Anda akan belajar:

- Cara merubah mindset

- Cara mengatasi takut memulai usaha

- Cara menentukan jenis usaha & merancang business plan

- Cara menetapkan strategy marketing yang tepat

- Cara buka usaha modal dengkul

- Cara mendapatkan modal usaha dengan cepat

- Cara melakukan action cepat

Mentor:

- Badroni Yuzirman (Founder TDA, Owner manetvision.com)

- James Sastrowijoyo (Pebisnis Property Sukses , James Property Investor(JPI))

- Mohamad Rosihan (Raja Ritel Garment, Owner Saqina.com)

-Yusef J Hilmi (Inspiration Person, Smart Spiritual Motivator)

-Try Atmojo (Raja Distro, Owner Raxzel.com)

Waktu :

- Hari : Sabtu - Minggu

- Tanggal : 28-29 Maret 09

Tempat : Hotel Ciputra

Jl. S. Parman Kav. 78, Jakarta Barat

Investasi:


Rp. 2.500.000



Dapatkan Bonus:

1. Kaos LTA ( Early bird)

2. CD Kumpulan e-book

3. Rahasia mendapatkan

bisnis secara GRATIS ala James

Pendaftaran :

Contact : Astrid/Sofi : 021-3142725 Email : Info@learntoaction.com

Alamat : Gedung BPPT lt. 15 Jl. MH. Thamrin No. XX

Yuswohady Tentang TDA: The Power of Conversations. The Power of Sharing

Tulisan ini saya copy dari Facebooknya Mas Yuswohady dan bisa dibaca juga di sini.

Terima kasih Mas Siwo, atas apresiasinya yang luar biasa terhadap TDA.

Wassalam,

Roni, Founder TDA

---------------------------

Berikut ini adalah verbatim chat saya di Facebook Chat dengan mas Hadityo seorang mahasiswa UGM Yogya. Pada saat chatting ini kebetulan saya lagi suntuk menunggu pesawat ke Jakarta di Bandara Hasanudin Makasar. Saya perlukan mem-posting chat ini bukan untuk mempromote TDA (walaupun mempromote pun sesungguhnya nggak papa krn mmg bagus) tapi lebih karena saya yakin banyak pelajaran yang bisa kita petik dari situ.

4:5pm Hadityo
sore mas, sayang sekali saya tidak dapat hadir di Milad TDA kemaren, pasti kehadiran mas Yuswo bisa menjadi inspirasi bagi rekan2 TDA yg dasyat

4:10pm Yuswo
Wah sayang lho, seru banget...

4:12pm Hadityo
iya mas sayang lagi ada meeting di kantor, saya kenal TDA agustus 2007 dan banyak meng-inspirasi saya

4:13pm Yuswo
inspirasi yang Anda dapat apa mas?

4:14pm Hadityo
ehmmm...saya jadi mempunyai jiwa dan pandangan wirausaha so akhirnya saya bikin usaha sembari kuliah di yogya bikin usaha laundry kiloan bersama bibi dan ponakan yg sedang kuliah di yogya juga dari situ bikin komunitas wirausaha muda dari situ jadi kenal dengan sesama anak muda yg merintis usaha

4:17pm Yuswo
kalau selain inspirasi ada hal lain lagi yang didapat dari TDA berkaitan dengan membangun jiwa wirausaha?

4:21pm Hadityo
mungkin bagi sebagaian orang adalah JARINGAN atau NETWORKING

4:23pm Hadityo
yang saya rasakan saat awal kenal dengan TDA adalah satu kekuatan yang sangat dasyat dalam diri saya, bahwa usaha bisa kita mulai kapan saja dan dari cara sekecil apapun jadi kita enggak usah muluk2 dulu tentang konsep usaha yang terpenting adalah mulai dulu kebetulan sejak awal kuliah di Yogya saya sudah sangat tertarik dengan bacaan semacam majalah MARKETING, MIX dan buku2 pak Hermawan

4:24pm Yuswo
Timbulnya kekuatan itu dari orang2 TDA yang sudah sukses atau gmn?

4:24pm Hadityo
impian saya adalah...next time saya pengen bekerja di perusahaan besar dan menerapkan ilmu yg saya baca tersebut bukan tapi justru dari posting dan sharing rekan-rekan TDA di Jakarta misalnya posting pak hadi kuntoro yang pada saat itu masih bekerja di Toyota dia cerita di blog-nya ttg pengalaman mengikuti bazaar di kantornya dia malu sekali berjualan tapi istri dan anak-anaknya bersemangat mengiktu bazaar tersebut sampai akhirnya dagangan dia ludes dia juga ceritakan tentang strateginya berjualan so simple thing but inspiring me dan masih banyak lagi saya baca psoting rekan2 TDA yang lambat laun menimbulkan kekuatan diri saya untuk TAKE ACTION saya kenal awal Juli 2007 dan berani buka usaha awal Septmebr 2007 jadi dalam hitungan bulan sudah berani TAKE ACTION

4:28pmYuswo
it's the power of sharing mas n the power of conversation ya mas...

Dari chat ngalor-ngidul itu saya mendapatkan insight bukan main, betapa sharing dan conversation di dalam komunitas seperti TDA bisa menginspirasi begitu banyak orang, salah satunya mas Hadityo.

Sebuah inspirasi untuk berbuat sesuatu yang berguna;
untuk “MAKE DIFFERENCE”;
untuk “CHANGE THE WORLD”.

Ini semakin meyakinkan saya bahwa, melalui CURHAT, NGOBROL, BERBAGI PENGETAHUAN dengan sesama, sesuatu yang BIASA bisa menjadi LUAR BIASA.

Saya makin yakin, dengan CURHAT kita bisa MERUBAH DUNIA.

Dengan CURHAT barangkali akan lahir perusahaan hebat macam Facebook, Google, or Wikipedia hasil karya anak bangsa.

Semoga… :)

Saya Tidak Tahu!

Ada fenomena menarik dari dua orang bintang tamu di Festival Entrepreneur Indonesia atau Milad III TDA lalu. Mereka adalah Bob Sadino dan Ustadz Lihan.

Bob Sadino sejak dulu mengkampanyekan "bisnis dengan cara goblo" alias bisnis dengan modal otak di dengkul alias bisnis dengan bermodal "ketidaktahuan".



Berbagai "logika dari dengkul" ia ungkapkan dan membuat shocking sekitar 1.200 member TDA yang hadir dari seluruh Indonesia. Meski nyeleneh, tapi logikanya itu masuk akal juga. Maksudnya masuk akal yang di dengkul. Hehe...



Dia tidak pernah punya tujuan atau target. Dia tidak mengerti apa itu manajemen bisnis. "Pokoknya, kalau anda mau bisnis, ya melangkah aja", katanya.



Lain lagi dengan Ustadz Lihan, miliarder dari Martapura, Kalimantan ini. Dia juga punya logika yang kurang lebih sama.



Berlatar belakang guru pesantren, ia memulai bisnis semata-mata karena kepepet butuh uang dan tidak tahu apa-apa tentang bisnis.



"Saya itu nggak ngerti bagaimana mengelola bisnis", ujarnya.



Ketika saya (moderator) tanyakan berapa omset masing-masing perusahaann yang berjumlah 13 itu ia jawab "Tidak tahu".



Pun ketika mendirikan dan memulai bisnis baru, semua ia serahkan kepada ahlinya. "Saya nggak ngerti soal ngurus bisnis".



Ketika mendengarkan presentasi peluang investasi di bidang penerbangan oleh Merpati, ia sama sekali tidak mengerti dengan slide-slide yang dipaparkan itu.



Ternyata, logika bisnis serba "tidak tahu" ini ada pembelaan akademisnya.



Kemarin saya baca resensi buku The Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb di Kompas. Penulis adalah mahaguru di bidang ilmu ketidakpastian (uncertainty), teori kemungkinan (probability) dan kemujuran (luck).



Menurutnya, apa yang tidak diketahui jauh lebih relevan dibandingkan dengan apa yang sudah diketahui.



Ia memaparkan sejumlah fakta yang terjadi di dunia yang luput dari "ramalan" para pakar. Runtuhnya menara kembar WTC, Tsunami di Samudera Hindia, krisis finansial global yang kabarnya menyusutkan kekayaan Aburizal Bakrie hingga tersisa 10% dari semula, terpilihnya Barack Obama, larisnya novel Harry Potter...



Teori Black Swan atau Angsa Hitam yang dijualnya ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena tak terduga yang masif namun luput dari ramalan atau perkiraan para pakar futuristik.



Menurutnya, banyak variabel baru yang dapat menjungkirbalikkan asumsi-asumsi dari berbagai prediksi itu.



Contohnya, siapa mengira harga minyak dunia bisa gonjang-ganjing seperti sekarang ini?



Yang menarik adalah, ia membagi dua kelompok manusia dalam aktivitas pergumulan kehidupannya. Pertama, adalah wilayah Mediocristan, wilayah yang mayoritas, yaitu tempat di mana sebagian besar kehidupan berjalan rutin, biasa, jelas, dan lebih mudah diperkirakan.



Misalnya adalah profesi orang kantoran, dosen, peneliti dan sebagainya. Kepastian memperoleh gaji bulanan adalah wilayah aman bagi orang-orang dalam wilayah ini.



Kedua, adalah wilayah Extremistan, dimana segalah hal tak terduga bisa terjadi, peristiwa-peristiwa kebetulan baik yang menyenangkan atau sebaliknya.



Di wilayah ini bermukim para entrepreneur atau TDA, seniman, artis, penulis buku, olahragawan, trader dan sebagainya. Ketidakpastian dan variabel pengubahnya yang selalu berubah menjadi makanan sehari-hari penghuni wilayah ini.



Menurut Nassim, idealnya seseorang bisa hidup di dua wilayah itu, kepastian dan ketidakpastian.



Buku ini sangat menarik menurut saya. Dari resensi ini saja saya dapat menemukan jawaban kenapa Bob Sadino, Ustadz Lihan dan banyak entrepreneur lainnya bersikap seperti itu.



Bukun ini juga menyindir para pakar dan akademisi yang selalu meramal masa depan merujuk kepada kekayaan pengetahuan mereka dan data historis.



Menurutnya, yang terjadi di dunia saat ini tidak lagi linier. Ilmu-ilmu masa lalu tidak lagi relevan untuk menjelaskan dan meramalkan masa depan.



Ini persis yang disampaikan oleh Bob Sadino. Kenapa banyak lulusan universitas banyak yang gagal? Karena mereka menilai masa depan dengan ilmunya yang sebenarnya sudah ketinggalan. Begitu ia lulus, serta merta ilmunya menjadi kuno di dunia nyata.



Kenapa banyak orang pintar gagal berbisnis? Karena ia terlalu banyak tahu dan itu membebaninya ketika melangkah.



So, mau pilih mana? Kalau saya, berusaha hidup di dua wilayah itu, Mediocristan sekaligus Extremistan.



Namun, berdasarkan pengalaman, memasuki wilayah Extremistan di mana saya "tidak tahu", wilayah yang penuh ketidakpastian dan selalu berubah lebih mengasyikan ketimbang wilayah Mediocristan yang aman dan terkendali.



Antusiasme dan adrenalin selalu terpompa setiap kali saya menemukan sesuatu yang baru dan mengagetkan. Asyik...Coba deh...



Bagaimana dengan anda?



Salam FUUUNtastic!
Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim

Foto: Su'ud Ahmad

Mau Jadi Master? Selesaikan Dulu 10.000 Jam Anda

Coba perhatikan gambar di sebelah ini. Itu adalah fotonya Harvey Mason, drummer senior yang saya ambil dari ajang Java Jazz 2009 tadi malam.

Lihat ekspresinya. Dia memukul drum seperti orang yang menangis. Entah mengapa. Itu ciri khasnya. Mungkin dia begitu menghayati, larut atau trance.



Yang saya suka dari drummer Fourplay ini adalah sentuhannya stik drumnya itu. Ada semacam feeling tertentu yang berbeda dengan drummer lain. Dia memukul drum tidak dengan power dan energi yang kuat. Bahkan kadang-kadang seperti tidak disentuh, saking lembutnya.



Dia tidak lagi pamer teknik yang canggih dan rumit. Dia levelnya sudah beda. Dia sudah master. Kalau master, tidak lagi mencari tepukan penonton karena kecanggihan teknik. Dia levelnya sudah di atas itu. Levelnya sudah "feel".



Pertanyaan yang mengusik saya adalah, bagaimana dia bisa sampai ke level itu?



Yang pasti, rekam jejaknya sudah panjang sekali. Mungkin dia sudah puluhan tahun menabuh drum. Dia telah menjadi master di bidang tabuh menabuh drum. Jelas, dia tidak tiba-tiba bisa seperti itu dengan seketika.



Dia menjadi master dengan menyelesaikan 10.000 jamnya.



Maksudnya?



Pak Tung cerita soal ini ketika bertemu menjelang Milad TDA lalu. Menurutnya, orang-orang yang telah menjadi master di bidang apa pun pasti telah melewati 1.000 jam latihan atau praktek.



Ia bercerita mengenai Efek Hamburg. Anggota The Beatles sebelum ngetop dan mendunia selalu latihan bertahun-tahun di Hamburg. John Lennon atau Paul Mc Cartney itu setiap hari menghabiskan waktu latihan 8 jam sehari selama bertahun-tahun.



Setelah mereka ngetop, banyak orang melihat puncak gunung es kesuksesan saja, tanpa melihat ke dalam, atau prosesnya. Mereka telah menyelesaikan 10.000 jamnya.



Pak Tung sering ditanya, kok seminarnya begitu hebat dan memukau sih? Jawabnya, "karena saya telah menyelesaikan 10.000 jam saya. Dalam sebulan saya bisa seminar 52 kali".



Dalam sebuah tayangan infotainment saya melihat perayaan ulang tahun ke 7 band Nidji. Ketujuh? Padahal saya baru tahu band ini sekitar 2 tahunan. Ya, mereka ngetop baru 2 tahun, tapi perjalanan keseluruhannya adalah 7 tahun. Mereka membayar 10.000 jamnya selama 5 tahun.



Dalam sesi seminar Pak Nukman Luthfie di Milad TDA, tiga orang pebisnis online dipanggil ke depan. Masing-masing disuruh bercerita tentang omset dan waktu yang mereka kerahkan untuk mengurus bisnis onlinenya.



Ternyata, yang hasilnya paling besar adalah dia yang mengurusi bisnis onlinenya minimal 8 jam sehari. Di susul oleh yang 5 jam sehari dan 3 jam sehari. Ada korelasi positif antara waktu yang dikerahkan dan hasil yang dicapai.



Jika anda punya bisnis, sudahkah anda membayar 10.000 jam pertamanya? Jangan sampai anda bertanya-tanya, kenapa bisnis saya kok nggak maju-maju, padahal anda belum mendedikasikan waktu dan energi anda untuk 10.000 jam pertama untuk menjadi master itu.



Salam FUUUNtastic!
Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim

Ayo, Kita Dirikan 500 Mastermind di TDA

"Im, lu gue kasih target bikin 1.000 mastermind TDA sampai akhir kepengurusan", demikian bunyi SMS saya kemarin kepada Pak Presiden TDA yang juga adalah teman akrab saya sejak kecil.


Melalui chatting di Facebook, Pak Iim melakukan penawaran. "500 deh Ron", pintanya.

"Oke. Deal", jawab saya sambil tersenyum. Padahal target saya sebenarnya adalah 500. Tapi kalau saya bilang segitu, nanti Pak Iim nawar lebih kecil lagi. Makanya saya minta 1.000. Hehe...Sorry bro...

Lima ratus mastermind itu kira-kira melibatkan 2.500 member, kalau satu kelompok beranggotakan rata-rata 5 orang.

Mastermind adalah program andalan TDA. Seminar, workshop dan sebagainya itu sudah biasa dan efektivitasnya lebih kecil dibandingkan mastermind.

"Waktu belum ikut mastermind, cabang salon saya baru 2. Setelah ikut mastermind, sekarang sudah 10 cabang", demikian testimoni Bu Yulia Astuti.

Testimoni ini mewakili ratusan member TDA lain yang telah merasakan manisnya kebersamaan dan saling sinergi di kelompok mastermind.

Masihkah anda meragukannya?

Anda masih mencari bukti atau memilih untuk menjadi bukti itu sendiri?

Ke depan "brand" TDA akan selalu dikaitkan dengan mastermind. TDA adalah mastermind dan mastermind adalah TDA. TDA akan dikenal luas karena kuat di mastermind. Bukan karena kemampuannya membuat seminar yang dihadiri ribuan orang atau kegiatan-kegiatan heboh lainnya. TDA mainnya underground, down to earth, di lapangan. TDA mainnya di unit-unit yang kecil, mastermind.

Saya meyakini hal ini setelah membaca Global Paradoxnya John Naisbitt ketika kuliah dulu. Makin kuat suatu negara, ditentukan oleh kuatnya unsur-unsur terkecil dari negara itu. Aa Gym juga mengatakan hal yang sama, dari sisi keluarga. Mochtar Riyadi juga berpendapat serupa di buku Nanotechnology Management.

Pertanyaan yang sulit dijawab sekaligus menantang adalah: bagaimana caranya supaya 6.000 member TDA sekarang ini bisa sukses? Apakah dengan seminar? Pelatihan? Saya kok kurang yakin dengan efektivitasnya.

Tapi dengan yakin dengan mastermind.

Saya sering mendapat pertanyaan dari member TDA. Pertanyaannya macam-macam dan berat dijawab. Tapi saya dengan ringan bisa menjawab, "Anda sudah ikut mastermind belum? Kalau belum, segera bergabunglah. Insya Allah masalah-masalah itu akan terjawab di mastermind". Hehe... Tapi itu betul. Saya tidak mengada-ada.

So, mari kita semua bergandengan tangan untuk mewujudkan cita-cita dan visi TDA itu. Menciptakan pengusaha sukses dan tangguh yang bermanfaat bagi peradaban. Salah satu kuncinya adalah melalui mastermind.

Mari, kita bantu Pak Iim dan TDA Management mewujudkan 500 kelompok mastermind di TDA. Mastermind adalah KPInya kepemimpinan Pak Iim. Mastermind adalah untuk kesuksesan kita semua.

Insya Allah. Semoga Allah meridhoi ikhtiar kita ini.

Salam FUUUNtastic TDA!
Bersama TDA Menebar Rahmat



Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Akhirnya Kesampaian Juga, Nonton Ivan Lins Meskipun...

Hari Sabtu ini, nulisnya yang enteng-enteng aja ya. Intermezzo.

Tadi malam adalah pengalaman luar biasa buat saya. Saya berhasil menonton konsernya Ivan Lins dan sukses dapat duduk di baris ketiga dari depan.



Ivan Lins adalah salah satu musisi favorit saya sejak lama. Apa yang menjadi daya tariknya? Suaranya itu lho. Unik, eksotis. Brazil banget. Saya memang suka jazz bergaya Brazil. Selain Ivan Lins, saya menggemari Djavan, Astrud Gilberto atau Sergio Mendes.



Tapi Ivan Lins punya daya magis lain. Mendengar suaranya, saya seperti merasakan "sesuatu" yang beda. Bahasa Brazil memang indah didengar dan dilagukan.



Saya memang suka mengapresiasi budaya-budaya di luar mainstream Amerika atau Hollywood. Budaya Brazil adalah salah satunya.



Sebagai seorang "maestro" di bidangnya, saya memperhatikan betul gerak-gerik, penampilan dan sikapnya. Saya meyakini sukses itu meninggalkan jejak.



Ini terlihat ketika terjadi gangguan sound system di awal permainannya. Bunyi dengung selalu mengganggu earphonenya. Di dua lagu pertama tidak diindahkannya. Menjelang lagu ketiga ia berhenti dan bercerita bahwa penting sekali buatnya untuk konsentrasi dalam bermusik. Suara itu begitu mengganggunya.



Tapi ia tidak marah dan emosi. Ia tetap tenang, meskipun terlihat jelas raut wajah kecewanya. Bayangkan, ia datang jauh-jauh dari Rio de Janeiro tapi gagal main dengan performa terbaik. Ia menyadari bahwa menjadi panitia event Java Jazz ini tidaklah mudah.



Mengelola 19 pangggung yang main secara bersamaan bukanlah pekerjaan gampang. Mengganti-ganti alat dengan cepat di sela-sela jeda antara musisi satu dan yang lainnya adalah pekerjaan yang njlimet dan butuh konsentrasi tinggi.



Akhirnya di lagu ketiga, soundnya sudah baik dan dia pun main dengan asyik sampai akhir. Applaus penonton tidak berhenti setiap ia menampilkan improvisasi khasnya.



Ivan Lins adalah maestro di bidangnya. Seperti para maestro lainnya. Ada kualitas yang membedakan antara para maestro dengan yang rata-rata. Bukan soal teknis. Bukan soal kecanggihannya bermain. Tapi sikap dan dedikasinya.



Mau tahu dengar permainan Ivan Lins? Silakan cari di Youtube.



Salam FUUUNtastic!
Selamat berakhir pekan dengan orang-orang yang anda sayangi



Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim

University of Malaya akan Meneliti TDA, Kita Tawarkan Mindset TDA

Action Members,


Sebuah fenomena menarik terjadi di TDA. Kemarin saya ditelepon oleh Pak Hantiar yang mengajak saya untuk bertemu dengan tim peneliti dari University of Malaya, Malaysia. Mereka ingin menjadikan TDA sebagai objek penelitian. Apanya yang mau diteliti ya? Tapi saya senang sekaligus bangga. Orang luar memberi apresiasi terhadap TDA.

Insya Allah pagi ini TDA Management yang diwakili Pak Iim dan Pak Hantiar akan bertemu dengan mereka di Hotel Grand Hyatt.

Beberapa waktu lalu, saya kedatangan pembeli dari Malaysia. Ia juga memperhatikan sepak terjang saya dan TDA melalui blog. Menurutnya, apa yang dilakukan TDA ini adalah "barang langka" di sana. Di sana tidak ada mindset saling berbagi untuk maju bersama seperti ini.

Saya juga heran, kenapa sering menerima komentar positif dan email dari pembaca blog dari Malaysia. Menurut tamu itu, memang di sana tidak ada blog yang isinya berbagi ilmu dan pengalaman seperti yang banyak dilakukan member TDA di Indonesia ini. Di sana, mindsetnya adalah kebalikannya. Ilmu bisnis itu tidak untuk dibagikan.

Saya memahaminya. Di Indonesia pun sebagian besar masih seperti itu. Masih banyak yang senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang seperti sering diucapkan Aa Gym dalam ceramahnya.

Ketika saya nyaris bangkrut di Tanah Abang, tidak ada satu pun yang membantu. Saya jatuh, berdarah-darah dan bangkit sendirian. Tentu, semuanya berkat bantuan "tangan yang di atas sana". Tapi faktanya memang demikian. Justru tetangga sebelah toko yang menjadi sutradara pengusiran kami dari toko itu. Pak Iim dan Pak Tung adalah teman curhat dan mendukung saya ketika itu (thank you for being my friend, saya tidak akan pernah lupakan itu).

Mindset sebagian besar kita adalah "scarcity", kelangkaan. Makanya banyak orang yang saling sikut, saling menjtuhkan, saling berebut kedudukan. Saling berebut ketika antri. Pak Haji Ali pernah bercerita bahwa kunci tokonya pernah diludahi oleh pesaingnya.

Kita di TDA punya mindset berbeda. Mindset kita adalah "abundance", keberlimpahan. Kalau kita berbagi, tidak akan dikurangi jatah atau bagian kita. Justru ditambah. Ini semua telah dibuktikan oleh kami semua para pegiat di TDA. The more you give, the more you get. Givers are takers kata Robert G. Allen.

Insya Allah, sudut pandang atau angle itu yang akan kita tawarkan kepada saudara jiran kita ini. Bukan tidak mungkin nanti TDA akan hadir secara utuh untuk rakyat Malaysia, bahkan dunia. Karena nilai-nilai yang kita wartakan adalah nilai-nilai universal. Lintas agama dan budaya.

Semoga.



Salam FUUUNtastic!
Bersama TDA Menebar Rahmat



Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Setelah Pesta TDA, What Next?

Dear Action Member,


Sejak awal Milad III TDA dirancang saya selaku founder selalu berpesan kepada Pak Iim agar selalu memperhatikan substansi di balik kemeriahan acara itu. Teman-teman yang datang dari jauh, dengan pengorbanan dan biaya tidak sedikit haruslah pulang membawa sesuatu yang konkrit.

Itu semua sudah diupayakan secara maksimal oleh Panitia, meskipun banyak catatan di sana sini.

Satu pertanyaan, adalah apa yang kita lakukan setelah 'pesta' itu. Tidak sedikit yang terinpirasi dan termotivasi. Then, what next?

Take Double Action!

Go Triple!

Kemarin saya bertemu dengan Mas Fico Maulana tanpa sengaja di daerah Sabang. Dia lagi berencana untuk membuat satu bisnis baru lagi. "Saya harus bikin bisnis baru Pak. Kan mau Go Triple!", jawabnya beralasan.

Great!

Seingat saya, ada yang namanya teori Parkinson atau teori kepepet. Kalau kita kepepet atau dipaksa kepepet, misalnya dengan tantangan Go Triple, otomatis otak kita menjadi kreatif, action kita bisa lebih dahsyat lagi dibanding sebelumnya.

Saya sendiri lagi mikir-mikir, gimana caranya supaya Go Triple dan maju lagi naik panggung tahun depan. Bu Yulia, katanya pusing dan merinding, gara-gara pencanangan Go Triple oleh Pak Tung itu.

Saya orangnya gampang bosan. Makanya, saya bisa bertahan dan tetap antusias dengan TDA sampai 3 tahun ini adalah sebuah prestasi. Kenapa? Karena di TDA selalu ada yang baru, selalu ada yang lebih menantang dan membangkitkan antusiasme.

Salah satunya adalah tantangan Go Triple dan 90 Day Challenge ini. Nanti setelah 90 hari kita akan evaluasi, sudah sampai di mana masing-masing member mencapainya.

Salam FUUUNtastic TDA!
Bersama TDA Menebar Rahmat


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Bukan Mindset, Bukan Positive Thinking. Tapi Action yang Tepat

Sebuah pemikiran yang cukup 'shocking' ditawarkan oleh Pak Tung ketika saya dan teman-teman TDA bersilaturahim dengan beliau sebelum Milad TDA.

"Akhir tahun lalu, selama dua bulan saya jalan-jalan ke Amerika. Ngapain di sana? Saya cuma lolak-lolok saja di sana alias bengong. Makan, tidur, jalan-jalan, memperhatikan orang-orang...", kata Pak Tung, seperti biasa dengan semangat dan intonasi suara yang tinggi. Matanya berbinar-binar selalu.



"Dalam proses bengong itu, saya berpikir tentang ilmu-ilmu sukses yang telah saya pelajari dan saya ajarkan selama ini".



"Saya pikir dalam-dalam dan akhirnya saya berkesimpulan bahwa sukses itu tidak tergantung kepada mindset atau positif thinking yang selama ini diajarkan. Sukses itu ternyata hanya dapat diraih dengan action yang tepat".



Saya terbiasa open mind. Sebagai murid, saya terima dulu pendapat guru saya ini. Saya proses dulu logikanya.



Dan memang benar. Masuk akal juga.



Di banyak buku yang saya baca jarang sekali diajarkan dan ditekankan tentang ini. Sebagian besar buku itu bercerita tentang mindset dan positive thinking.



Action yang tepat adalah kuncinya.



Biar pun sudah punya mindset yang tepat dan positive thinking yang melimpah ruah, tapi tanpa action yang tepat, apa jadinya? Nothing...



Saya teringat cerita Ustadz Lihan saat hadir di Milad III TDA kemarin. Awalnya actionnya adalah jadi guru madrasah, nyambi sebagai tukang ojek. Setelah itu ia diajak jadi makelar intan permata.



Suatu ketika majikannya kabur membawa lari uang kepercayaan para pembeli. Ia pun terimbas. Hilang pekerjaan.



Tidak lama, para pembeli menghubunginya untuk dimintai tolong mencarikan intan dengan imbal jasa berupa bagi hasil. Di situlah tipping pointnya. Dalam setahun, ia bisa mengumpulkan setengah miliar rupiah dari uang jasanya saja.



Saya kira selain karena kejujuran, rahasianya bukanlah di mindset atau positive thinking. Saya yakin kuncinya adalah karena action yang tepat. Coba bayangkan seandainya ia tidak bekerja di bisnis intan itu. Coba bayangkan seandainya ia menolak tawaran itu.



Kuncinya adalah action yang tepat.



Ini topik menarik. Saya akan angkat sebagai bahan diskusi di pertemuan mastermind nanti.



Salam FUUUNtastic!
Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim

Lagu Mars TDA

Tantangan 90 Hari Setelah Milad TDA


Action Members,
Mumpung momentumnya lagi di puncak paska Milad. Kita harus jaga terus momentumnya dengan membuat Tantangan 90 Hari atau 90 Day Challenge.



Kenapa 90 hari? Karena berdasarkan penelitian, 90 hari itu adalah waktu rata2 yang cocok utk seseorang melakukan perubahan dalam bisnis atau kehidupannya.

Apa saja yang mungkin dilakukan dengan program Tantangan 90 Hari ini?

1. Bagi yang belum memulai bisnis, hendaklah bikin 90 day challenge utk Take Action, harus punya bisnis dalam waktu 90 hari ke depan.

2. Bagi yang ingin meningkatkan kinerja bisnisnya, ikut program Go Triple. Jadikan 90 day challenge sebagai tolok ukur awal progress kemajuannya

3. Bagi yang belum ikut mastermind, percayalah ini program terbaik satu-satunya di TDA, bukan yang lain. Segeralah bergabung dalam waktu 90 hari ke depan

4. Bagi yang sudah lama gabung di milis ini tapi masih pasif, masih menjadi pengamat, renungkanlah. Jangan2 anda memang tidak cocok dengan TDA. Unsubscribe saja. Hehe...Ingat TDA bukanlah milis. TDA adalah sebuah gerakan yang action oriented. Milis boleh sepi, tapi action harus jalan terus.

5. Silakan ditambahkan...

Salam FUUUNtastic! Go Triple!
Bersama TDA Menebar Rahmat



Wassalam,



Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA


Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO