Sekali Lagi, Antara Fokus dan Diversifikasi
"Selain Manet, bisnis Pak Roni yang lain apa saja?", tanya seorang teman saat chatting di Facebook.
"Hanya Manet", jawab saya mantap. Ya, bisnis saya hanya Manet.
Jawaban saya mungkin mengagetkannya. Pasti ia mengira bisnis saya banyak dan tersebar di mana-mana. Ternyata ia salah. Bisnis saya "hanya" Manet saja.
Kadang saya merasa jengah juga karena suka disindir oleh teman: "Dari awal berdiri TDA kok bisnisnya nggak nambah-nambah selain Manet?"
Sebenarnya saya sempat coba juga beberapa bisnis lain. Namun akhirnya saya lepaskan dan kembali fokus.
Perdebatan antara fokus dan diversifikasi selalu menarik. Fokus itu kadang membosankan, sedangkan diversifikasi selalu menarik dan penuh tantangan, serta peluang.
Soal ini saya kembalikan ke pribadi masing-masing. Mana yang cocok, silakan saja dijalani. Tidak ada yang salah dan yang benar. Yang ada adalah mana yang menghasilkan dan mana yang tidak. Kalau ternyata fokus lebih menghasilkan, ya monggo. Kalau diversifikasi lebih menjanjikan, ya silakan.
Saat menghadiri TDA Forum pekan lalu, saya mendapat pencerahan soal diversifikasi ini dari Pak Fauzi Rachmanto yg membedah buku Breakthrough Company karya Keith McFarland. Buku ini adalah Good To Great versi UKMnya.
McFarland meneliti 7.000 perusahaan dan mendapatkan 9 perusahaan terbaik yang masuk kategori melakukan breakhtrough.
Salah satu ciri dari perusahaan yang hebat itu adalah menghindari diversifikasi terlalu dini. Kalau pun harus melakukannya, pastikan itu adalah karena dinamika pasar atau atas permintaan pelanggan.
Saya setuju 100% dengan pendapat ini. Saya banyak menyaksikan teman-teman melakukan diversifikasi terlalu dini akhirnya malah tidak ke mana-mana. Diversifikasi itu malah menjadi beban ketimbang hasil.
Buku itu mencontohkan bahwa orang-orang terkaya di dunia adalah para pemilik bisnis yang fokus. Coba perhatikan Bill Gates dengan Microsoftnya, Sam Walton dengan Wal Martnya, Michael Dell dengan Dell Computernya, Lhaksmi Mittal dengan perusahaan bajanya, Warren Buffet dengan Beckhsire Hattawaynya. Daftarnya bisa panjang sekali.
"Tapi, di Indonesia kok banyak konglomerat yang bisnisnya banyak dan tidak fokus?", tanya seorang peserta yang hadir kepada nara sumber.
"Ya, mereka itu rata-rata bermental pedagang", jawab PakFauzi mantap. Pedagang itu bergerak berdasarkan permintaan, peluang pasar. Ia tidak meng-create demand, tapi mengikuti dan mengendarai demand itu.
Kembali lagi, saya tidak melakukan pembenaran bahwa fokus lebih baik ketimbang diversifikasi. Sangat terbuka peluang saya untuk melakukan itu. Hanya saja, pastikan hal itu dilakukan tidak terlalu dini atau gegabah. Harus dengan perhitungan matang.
Yang jadi masalah adalah seperti cerita monyet rakus yang sering saya dengar dari ceramah Ust. Zainuddin MZ dulu. Monyet itu tabiatnya selalu meraih pisang yang ada digenggaman temannya. Padahal yang digenggamannya pun sudah banyak dan belum sempat di makan. Itu namanya serakah dan tidak menghitung kapasitas. Besar keinginan daripada kemampuan.
Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,
Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas












Setuju banget dengan pak roni. Sejak gabung di TDA yang dinamis ini saya sempat tidak fokus di bisnis obatamandel.com. Banyak sekali tawaran yang menantang dan menggiurkan. Tapi karena keterbatasan, akhirnya memilih back ke core. Sekarang setiap memperkenalkan diri selalu saya bilang bisnis saya banyak, tapi saat ini fokus ke herbal lamandel. Dan alhamdulillah berkat ucapan itu selalu menyadarkan untuk fokus dan komit.
nicely said pak rony.
focus on what we have and not greedy
Poskan Komentar