Sebuah Kisah Inspiratif Bekal Bagi Para Caleg
Menyambut pesta demokrasi pagi ini, sebuah kisah menarik bagi para caleg dan bagi kita semua saya ambil dari buku Robin Sharma, The Greatness Guide.
-------
Setelah saya berbicara di hadapan para karyawan di sebuah perusahaan yang besar, seorang wanita mendekati saya dengan berurai air mata."Robin, saya sudah membaca semua buku anda dan mencoba semampu saya untuk menjalani kehidupan seperti yang anda tulis.Namun ada seorang pria yang benar-benar hidup sesuai dengan tulisan anda. Ia meninggal beberapa bulan lalu. Ia adalah ayah saya."
Ia berhenti sejenak, tepekur memandangi lantai.
"Lima ribu orang datang pada pemakaman ayah saya", katanya. "Seluruh kota ada di sana. Sya merasa sangat tersanjung melihatnya."
"Apakah ayah anda adalah seorang pebisnis terkenal?" tanya saya. "Bukan", jawabnya. "Seorang politisi yang populer?", tanya saya ingin tahu."Bukan", ia berbisik. "Apakah anda semacam selebritis lokal?" "Bukan, Robin, sama sekali tidak." "Lalu kenapa ada 5.000 orang yang datang saat pemakaman ayah anda?" tanya saya.
Ia terdiam lama. "Mereka datang karena ayah saya adalah seorang pria yang selalu memasang senyum di wajahya. Ia adalah jenis orang yang selalu menjadi orang pertama yang menolong orang yang membutuhkan. Ia selalu memperlakukan orang dengan sangat baik dan selalu sopan. Ia menapaki dunia ini dengan begitu halus. Lima ribu orang datang pada saat pemakaman ayah saya karena ia orang baik."
----
Semoga menjadi inpirasi bagi kita semua. Syukur-syukur ada caleg yang baca tulisan ini. Bahwa untuk menjadi orang baik dan meninggalkan "warisan luhur" untuk dunia ini tidak harus dengan menjadi politikus, menjadi pebisnis, menjadi selebritis. Cukup menjadi orang baik. "Memang baik untuk menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik", kata Ebet Kadarusman.
Sambil menulis ini saya teringat dengan almarhumah nenek saya (ibu dari ayah). Beliau sangat ramah kepada semua orang. Sepeninggal beliau, banyak orang yang kehilangan, karena beliau selalu menegur semua orang yang ditemui. Beliau selalu menawarkan siapa saja yang lewat rumahnya untuk mampir. "Singgahlah..." ajak beliau.
Ada cerita lucu ketika beliau datang ke Jakarta dan tinggal di rumah orang tua saya. Pagi-pagi beliau berdiri di depan pagar, menegur dan meminta orang-orang yang lewat di depan rumah untuk singgah ke rumah kami :-). Di kampung perilaku seperti itu adalah biasa, tapi di Jakarta?
Wassalam,
Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas












Saya sangat tertarik dengan buku tersebut, dan saya berharap caleg-caleg mau membacanya sehingga kalau terpilih, mereka benar-benar akan menjadi wakil-wakil rakyat yang baik, yang mau mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan mereka sendiri
Poskan Komentar