Apakah Anda Percaya Tanggal dan Hari Baik Terkait dengan Rezeki dan Kesuksesan Hidup?

"Pak Roni aslinya dari mana", tanya Rudi (bukan nama sebenarnya) melalui chatting di Facebook.


"Dari Bukittinggi", jawab saya.


"Apakah waktu menikah dulu, Pak Roni menghitung tanggal dan hari baik sesuai dengan hari lahir bapak dan istri?", lanjutnya.


Saya kaget juga dengan pertanyaan seperti ini. Saya jawab, "Tidak. Saya malah tidak tahu hari lahir istri saya. Hehe".


"Jadi, bagaimana caranya menentukan tanggal pernikahan?"


"Kami menikah tanggal 29 April 2001, karena dapat gedung resepsinya tanggal segitu. Kalau dapat gedungnya tanggal 5, ya kami menikah tanggal 5", jawab saya.


Teman ini rupanya sedang bermasalah dengan rencana pernikahannya yang terancam batal lantaran tanggal lahirnya dan calon istrinya tidak cocok menurut kepercayaan.


"Hmm... ini soal belief", kata saya.


Soal ini, berbeda tempat bisa berbeda keyakinan. Di tanah kelahiran saya, tidak dikenal perhitungan tanggal dan hari baik, tapi di tempat lain justru itu adalah segalanya. Mau nikah tanggal berapa saja menurut kepercayaan di kampung saya, silakan. Semua hari adalah baik. Dan itu semua tidak terkait dengan rezeki dan kehidupannya di masa mendatang.


Kalau dikaitkan dengan tanggal dan hari baik, saya yakin 90% orang di kampung saya menikah di tanggal yang salah. Tapi kenyataannya banyak rumah tangganya yang langgeng dan mereka kaya raya.


Saya tidak akan mempertentangkan belief mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik. Saya hanya memberikan faktanya saja. Bahwa di suatu daerah bisa berlaku belief yang totally different dan terbukti tidak berakibat apa-apa.


Makanya, saya tidak peduli dengan tanggal berapa mau buka bisnis atau tinggal di rumah nomor berapa. Tahun 2004 saya pindah ke rumah kontrakan nomor 13. Saya mulai lagi membangun Manet dari garasi rumah tanggal 4 Maret 2004, sehari setelah diusir dari Tanah Abang. Padahal angka-angka itu dihindari oleh komunitas tertentu. Kenyataannya, justru tahun itulah tahun kebangkitan Manet dengan berbisnis secara online dan menutup 3 toko di Tanah Abang.


Meski begitu, saya tidak berani mendebat soal belief ini. Menurut saya itu adalah hak masing-masing orang. Saya tidak berani mengatakan ini benar dan itu salah. Yang jadi masalah adalah, apakah belief itu membuat kita menjadi maju atau mundur? Apakah kepercayaan ini membawa kita kepada syirik atau tidak?


Saya hanya percaya dengan logika dan prinsip-prinsip universal alias sunnatullah, seperti prinsip tanam - tuai. Kita akan menuai apa yang kita tanam. Kita akan menuai kebaikan kalau kita menanam kebaikan.


Saya percaya dengan prinsip kerja keras, amanah, kejujuran. Saya percaya dengan doa dan dukungan dari orang tua. Ridho Allah mengikuti ridho orang tua. Saya percaya dengan doa orang banyak.


Lucunya, ternyata, saat ini bisnis saya juga sedang terkena masalah belief seperti ini. Seorang karyawan bagian gudang bersikukuh minta cuti satu bulan dengan alasan ingin membangun rumahnya. Menurut kepercayaannya dan keluarganya, inilah tanggal, hari dan bulan baik untuk membangun rumah.


Saya bertanya, kenapa harus sekarang? Kenapa tidak setelah lebaran saja, ketika kantor sedang tidak sibuk? Selain itu, memberikan cuti satu bulan dengan alasan seperti ini akan menjadi preseden buruk bagi karyawan lainnya. Saya memberikan dua pilihan, tetap bekeja di sini atau berhenti karena memaksa minta cuti satu bulan.


Ia tidak bergeming. Ia rela melepaskan pekerjaannya yang notabene bisa menghidupi keluarga dan membangun rumahnya demi sebuah keyakinan yang menurut saya tidak masuk akal sama sekali.


Bagaimana pendapat anda?


Salam FUUUNtastic!


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim

4 Comentários:

Pras mengatakan...

menurut saya...
pilih tanggal untuk resepsi menikah itu PENTING sekali!
hindari menikah pada :

1. tanggal "tua"
2. masa2 pendaftaran anak masuk sekolah.

Dijamin 'ga balik modal'...karena pasti amplop dan sumbangan dikit :D

hindari pula menikah bareng artis atau pejabat.....alamat tamunya ga banyak.

hahaha.. just kidding.

Iya, saya ga percaya pemilihan tanggal yang dikaitkan dengan supranatural.

tapi pemilihan tanggal secara tknis-taktis diatas harus dilakukan. hehe...

sonie mengatakan...

Teman pak rony yang bertanya itu pasti dari jawa. soalnya yang paling percaya soal yang begitu orang jawa.
Untung orang tua saya dulu nggak percaya sama yang begituan soalnya menurut perhitungan jawa orang tua saya tidak cocok dan nggak boleh menikah. Coba kalau mereka percaya khan nggak ada saya di dunia ini.

Widi Sudjatmika mengatakan...

betul pak , temen pak roni itu pasti dari jawa, saya sendiri orang jawa, orang tua saya kuat sekali beliefnya, saya dibuat cukup pusing, ada cerita dikit waktu lamaran, waktu itu sudah ditentukan hari dan jamnya ee tiba tiba pas mendekati jam J ibu saya nggak mau pergi katanya waktunya nggak tepat. waktu itu saya belom punya hp jadi gak bisa menghubungi pacar saya. nah dikiranya lamarannya nggak jadi tho

Hening mengatakan...

@ pak Pras: Sungguh, menyelenggarakan resepsi pernikahan dengan harapan menerima amplop yang banyak dari tamu kita bukanlah hal yang baik. Inilah salahnya cara hidup orang kota yang lupa pada hakikat pernikahan: menambah keluarga. Orang-ornag lain kita undang tentunya dengan harapan banyak yang mendoakan sekaligus menguatkan tali silaturrahim.

@ Pak Roni: Saya sepakat sekali dengan Anda. Setiap hari adalah hari baik. Setiap saat haruslah berbuat yang baik-baik. Pengalaman pak Roni juga saya dapati. Saya menulisnya di sini.

Poskan Komentar

Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO