Cerita saya kemarin mungkin membuat anda berpikir, apakah diri saya sudah bisa menjadi wealth attractor? Diri anda sendiri yang bisa menjawab. Mungkin dari beberapa peristiwa yang anda alami, anda bisa menilai sendiri.
Apakah anda bisa mendapatkan sesuatu yang anda inginkan dengan mudah? Apakah orang percaya dengan anda? Pernahkah anda mengajukan sesuatu yang berkaitan dengan bisnis atau uang dan diberikan oleh pihak lain dengan mudah?
Paman saya adalah seorang yang sederhana dan jujur. Beliau berdagang di Tanah Abang, sebelum akhirnya 'pensiun' karena kiosnya terbakar beberapa tahun lalu.
Saat ini kios tersebut dikelola oleh anaknya dengan modal hanya dari kepercayaan saja.
Ya, kebakaran itu menghabiskan seluruh isi kios hingga tak ada yang tersisa.
Paman saya selama berbisnis sangat menjaga hubungan dengan mitra suppliernya. Meski pun hutangnya belum jatuh tempo, beliau selalu melunasi hutangnya jika sudah ada uang di tangan.
Padahal, sebagian besar pedagang lain selalu menunda pembayaran hutang selama mungkin. Selalu ada sisa uang yang 'digantung' dan tidak pernah lunas.
Ini berbeda sekali dengan prinsip paman saya.
Nah, hal inilah yang menjadi nilai tambahnya. Sehingga ketika akan memulai berdagang lagi, beberapa mitra supplier dengan suka rela memberikan barang tanpa membayar dulu.
Nama baik yang telah dipupuknya selama ini telah terbukti menjadi wealth attractor. Hal ini kemudian bisa diwariskannya kepada anak-anaknya.
Saya sendiri ketika nyaris bangkrut di Tanah Abang dulu, juga mengalami hal serupa.
Meskipun kondisinya prihatin, namun hutang kami kepada pihak lain tidak ada yang macet. Semuanya kami lunasi meski pun dengan terengah-engah.
Alhamdulillah, ketika kami merintis lagi dari bawah, mereka pun ikut mendukung. Mereka tidak ragu dengan reputasi masa lalu kami meskipun saat itu sedang terpuruk.
Bahkan, di Pekalongan - di mana kami punya beberapa mitra di sana - kabarnya giro Manet itu laku keras. Di sana memang giro itu diperjual belikan untuk mendapatkan dana cash. Setiap ditawari giro Manet, para pembeli pun tidak ragu membelinya.
Pak Tung punya kawan pemilik 8 cabang fitness center yang bangkrut. Hartanya nyaris tak tersisa. Tapi kemudian ia bisa bangkit kembali dengan bantuan teman-temannya. Ya, meski pun ia bangkrut tapi nama baik, reputasi dan kredibilitasnya tidak ikut hancur. Itulah yang menjadi wealth attractor-nya. Wealth attractor itu melekat pada dirinya.
Seorang teman baru saja membeli rumah impiannya. Kabarnya, saat kekurangan uang untuk membeli rumah tersebut, ia meminta bantuan dari teman-temannya. Dan semua itu ia dapatkan. Kenapa? Karena mungkin reputasi baik yang telah dipupuknya selama ini.
Ya, pada intinya wealth attractor itu dapat diraih tidak dalam waktu semalam. Semua yang saya contohkan di atas memperoleh wealth attractor dalam waktu yang lama. Wealth attractor terkait dengan sikap baik dan kejujuran (integritas).
Salam FUUUNtastic!
Dirgahayu Indonesiaku....
Wassalam,
Roni,
Owner, Manet Busana Muslim
NB - Pak Syam cerita mengenai Tan Malaka di blognya. Saya jadi 'gatal' juga nih ingin cerita mengenai tokoh idola saya, Bung Hatta. Mumpung dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Indonesia.


0 komentar:
Poskan Komentar