Spiga

Keberadaan Komunitas Tangan Di Atas

Teman-teman TDA sekalian,
Sejalan dengan berlalunya waktu dengan cepat, sudah banyak langkah yang kita tempuh sejak awal pertemuan kita pada talkshow 22 Januari 2006 lalu. Mulai dari talkshow, terbentuknya milis, pembukaan kios, rencana tour dll. Yang jelas, ibarat bertani, kita masih dalam tahap menanam, belum memanen. Tahapan ini harus kita lalui dengan kerja keras dan berkeringat. Tahapan ini sangat krusial bagi langkah kita selanjutnya. Jadi, dengan dibukanya sekian toko secara berbarengan itu, bukanlah sebagai tolok ukur kesuksesan kita. Melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang yang harus kita lalui nanti. Mungkin ada sebagian kita yang diberi kemudahan dalam usahanya, mungkin juga ada yang harus melangkah tertatih-tatih dengan beban berat di pundak. Ini adalah proses yang alami, sunnatullah.
 
Adanya publikasi mengenai komunitas ini di milis-milis, koran dan sebagainya adalah sebagai pendorong sekaligus pemicu kita untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi. Kenapa? Karena publik mempunyai penilaian tersendiri mengenai komunitas ini. Ada yang menganggap bahwa komunitas ini adalah sarana instan menuju sukses dan ada juga yang menganggap bahwa ada semacam pembagian fasilitas di sini. Itu sama sekali tidak benar. Ada ungkapan: there's no free lunch, tidak ada makan siang gratis. Jadi tetap saja harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu. Sebagian kita sudah merasakannya. Ada yang berhenti dari pekerjaannya, ada yang harus menempuh perjalanan jauh ke lokasi, ada yang mendapat penolakan dari pihak keluarga, ada yang mengorbankan waktunya dengan keluarga dan sebagainya. Itu semua adalah harga yang harus kita bayar.
 
Besarnya perhatian terhadap komunitas ini saya rasakan dengan banyaknya minat dan pertanyaan mengenai kegiatan kita selanjutnya. Pertanyaan tersebut sering saya jawab secara diplomatis saja. Maksud saya, saya tidak ingin adanya harapan yang kelewat tinggi dengan komunitas ini. Padahal kita ini masih nol, belum apa-apa. Usaha kita pun masih tertatih-tatih.
 
Saya pribadi menginginkan rombongan pertama talkshow ini berhasil dulu. Minimal sudah ada yang menarik napas lega. Itu target saya. Yang jelas, tidak mungkin semuanya akan sukses berbarengan. Mesti ada yang lebih dulu dan ada yang tertinggal. Sesuai usaha dan kepiawaiannya. Tapi, dengan mekanisme yang ada di komunitas ini, diupayakan agar kesuksesan itu dapat kita raih bersama dengan kebersamaan dan semangat saling berbagi di antara kita.
 
Kalau sudah ada yang berhasil dan merasakan sukses, barulah kita bisa mengklaim, ini lho ada anggota kita yang sudah berhasil. Jadi, komunitas ini bukanlah omong kosong dan tidak ada isinya. So, kesimpulannya, marilah kita berjalan saja dulu dengan segala keterbatasan dan kemampuan kita. Kita nikmati proses belajar ini. Kita hadapi segala kendala yang menghadang dengan optimis dan semangat juang yang tinggi. Insya Allah kita akan menjadi pemenang.
 
See you all at the top!
 
Salam,
Roni

1 komentar:

civa.muslim.garage mengatakan...
Posting ini telah dihapus oleh administrator blog.

Poskan Komentar