Uang Berserakan di Mana-mana!

Demikian kata Pak Haji A, saat saya bertemu lagi dengannya Rabu 21 Desember 2005 lalu. Dia adalah orang yang saya ceritakan dalam tulisan terdahulu berjudul Silaturahmi Membawa Rejeki.
 
Sebagai seorang pengusaha sukses, dia selama ini menjadi inspirasi dan mentor saya. Garmen dan properti adalah bisnis utamanya. Untuk garmen, bisa dibilang dia termasuk disegani di Indonesia.
 
"Roni, lihat, uang berserakan di mana-mana. Tangan saya cuma dua, tidak sempat mengemasinya" katanya. Saya mengangguk-angguk meng-iyakan, dengan sedikit bingung. Maklum, dunia garmen sudah jadi makanan sehari-harinya. Ibarat orang ingin melihat isi rumah, dia bisa melihat melalui pintunya, sedangkan saya baru bisa mengintip melalui lubang kunci.
 
"Sekarang kamu mau bisnis apa? Busana pria, wanita, anak, sprey, sepatu, apa pun bisa kita lakukan. Mau impor dari Cina, Thailand, Korea, boleh juga. Pasar kita terbuka luas. Uang berserakan di mana-mana. Saya gregetan, begitu banyak peluang di depan mata dilewatkan oleh anak-anak muda seusia kamu. Usia saya sudah di atas 50, tangan saya cuma dua, kemampuan saya tebatas sekarang. Kamulah yang harus maju melanjutkannya," katanya dengan antusiasme yang tinggi. Antusiasme itu menular. Saya pun jadi antusias.
 
Benar, dunia ini tergantung cara kita memandangnya. Bagi seorang entrepreneur yang optimis seperti dia, dunia ini penuh dengan peluang. Uang berserakan di mana-mana. Bagi orang yang pesimis, dunia ini tidak berpihak kepadanya. Baru mulai usaha, sudah dihadang kenaikan BBM, inflasi, UMR naik, persaingan ketat, dan sebagainya.
 
Anda pilih yang mana? Kalau saya pilih dekat-dekat dengan Pak Haji A. Biar kecipratan kayanya. He..he..he..

59 Comentários:

hanum mengatakan...

"uang berserakan di mana-mana. Tergantung usaha kita untuk mengunpulkannya"" << setuju pak...kalo ada usaha dan memaksimal potensi insya Allah akan bisa. Mau donk diajari tentang SOHO.
Oya, tak lupa saya ucapkan : selamat bergabung di IMB. Jgn segan2 bagi2 ilmu Pak Roni ke kami ya...

Badroni Yuzirman mengatakan...

Mbak Hanum,
Terima kasih atas kunjungannya. Kalau bermanfaat, jangan bosen-bosen berkunjung ya.. Mau belajar SOHO? Insya Allah saya bisa bagi ilmu sedikit-sedikit. Tapi saya bukan pakarnya lho.

Wassalam,
Roni

Anonim mengatakan...

Saya sudah mampir di blogspotnya bung Roni. EH, mbok jangan panggil saya
bu. Kayaknya jadi tua banget...heheh...
Wah, Anda ini seorang pembaca yang maniak. Saya yang dosen aja kayaknya
kalah deh.
Betul, kadang-kadang seorang akademisi itu malah terbatas dan terkukung
oleh daya imajinasinya yang kurang. Mungkin IQ boleh tinggi tapi nyatanya
common sensenya malah nggak jalan. Jadi, saya sangat senang seorang
'non-praktisi-akademisi' seperti Anda seperti membuka mata saya. Semoga
Anda bersedia membantu kalangan akademisi untuk dibuka wawasan dan
imajinasinya. Agar mereka lebih 'melek'.

Salam,
Meta

Badroni Yuzirman mengatakan...

Mbak Meta aja ya. Habis saya bingung, soalnya anda di Makassar, tidak
terbiasa dengan panggilan mbak.

Tuhan itu adil mbak. Ada yang pintar, diberi rizki dari pekerjaan yang
membutuhkan pemikiran. Ada yang kurang pintar seperti saya, dikasih rizki
dari bisnis dan dibantu oleh orang pintar.

Waktu kuliah dulu, saya pernah ikut seminarnya Bob Sadino, pengusaha sukses
pemilik Kemchick. Katanya, kalau anda lulus nanti, jangan anggap diri anda
sebagai gelas yang sudah penuh dan tidak bisa diisi. Anggap diri anda gelas
yang setengah penuh, jadi masih bisa diisi. Dengan demikian kita bisa
menyerap ilmu dunia non akademik dengan segala realita dan kompleksitasnya.

Salam,

Roni

Anonim mengatakan...

pak , ternyata temen bpk temen saya 1 ktr :)
namanya mei suaminya hendra.. dulunya mereka di sukabumi sekarang mereka udh
pindah ke medan.
taunya sih pas saya nawarin mei kalo mo ambil baju ntuk jualan baju muslim
di mdn (sejak pindah usaha sampingan nya jualan baju di ktr..) nyari aja di
tk pk roni.. ya udh akhirnya...... temen bpk juga ! ; )

faisaldln

Badroni Yuzirman mengatakan...

Betul Pak Faisal,
Mey juga cerita.Kami kawan dekat waktu mereka masih di Jakarta dulu. Dunia ini sempit ya
pak.

Salam,

Roni

kangmas anom mengatakan...

Uang beserakan diamana mana...? ok juga postingan ini

Anonim mengatakan...

Hallo Mas ROni ! saya tertarik dengan cerita2 mas Roni. Boleh minta kontak person Mas Roni ngak. Mungkin Mas Roni bisa sama2 mewujutkan impian kita

Dhany

Anonim mengatakan...

Pak Roni...
Boleh dong ditularin prospeknya, kasih dong kesempatan buat kita, biar saya bisa kaya Pak Roni & Pak Haji A walo cuma dikit...

Ina Sutan

Anonim mengatakan...

Saya hanya member non-EU yang sering memperhatikan postingan dari Anda yang sangat menarik dan mengundang banyak rasa penasaran. Kelihatannya Anda orangnya asyik dan penuh semangat menantang masa depan. Apakah saya bisa ngobrol-ngobrol untuk sekedar sharing tentang 'seputar bisnis' ? Saya sendiri sebenarnya, saat ini, sedang menekuni bisnis konsultan pajak dan akuntansi, tetapi jiwa entrepreneurship tetap saya pelihara sampai saya menemukan format yang tepat kapan untuk berekspansi ke bisnis lain.

Kebetulan rumah saya di Bekasi dan saya sering main ke daerah Narogong, kapan saya boleh mampir, tepatnya dimana rumah Anda?

Wassalam,


Fahmi

Anonim mengatakan...

Baru mulai usaha, sudah dihadang kenaikan BBM, inflasi, UMR naik, persaingan ketat, dan sebagainya.

ITU BAGIAN DARI SUATU PROSES PAK...KALAU BAPAK MAU MENGIKUTI PROSES TERSEBUT MAKA DI MASA DATANG BAPAK AKAN SEPERTI PAK HAJI A...
KATA KAKEK...CARI KERJA ITU SUSAH TAPI CARI DUIT ITU MUDAH..CUMA KEBANYAKAN ORANG LEBIH SUKA CARI KERJA DARIPADA CARI DUIT.

SUHERMAN

Anonim mengatakan...

Wah beruntung sekali pak Roni bisa dapet pak Haji A, bisa ada temen ngobrol
dsb.

Saya sekarang ini sedang mencari "orang tua" atau "orang yang ditua-kan",
yang bisa kasih nasihat atau wejangan bagaimana menjalani hidup yang singkat
ini ... Dulu biasanya saya berguru sama Pak De saya yang selalu memberikan
wejangan soal hidup hanya saja setelah beliau wafat saya kehilangan orang
yang bisa saya ajak bertukar pikiran paling tidak memberikan makanan rohani
... Sekaligus memberikan ilmu, mungkin agak beda dengan bung Roni yang
memberikan ilmu bisnis yang saya cari adalah ilmu untuk hidup agar bisa
lebih berguna untuk orang-orang disekeliling saya. Seperti ujar-ujar ulama
"Sebaik-baiknya orang adalah orang yang banyak gunanya untuk orang lain"
saya ingin jadi orang yang seperti ini bukan nobody yang matipun orang tidak
perduli ...

Mungkin ada yang bisa bantu ...

[sea]

Anonim mengatakan...

Saya sering memperhatikan postingan dari Anda yang sangat menarik dan mengundang banyak rasa penasaran. Kelihatannya Anda orangnya asyik dan penuh semangat menantang masa depan. Apakah saya bisa ngobrol-ngobrol untuk sekedar sharing tentang 'seputar bisnis' ? Saya sendiri sebenarnya, saat ini, sedang menekuni bisnis konsultan pajak dan akuntansi, tetapi jiwa entrepreneurship tetap saya pelihara sampai saya menemukan format yang tepat kapan untuk berekspansi ke bisnis lain.

Kebetulan rumah saya di Bekasi dan saya sering main ke daerah Narogong, kapan saya boleh mampir, tepatnya dimana rumah Anda?

Wassalam,


Fahmi

Anonim mengatakan...

Boleh nimbrung?

Kalo menurut saya kalo udah ketemu "why"-nya biasanya mudah
mendapatkan "how"-nya, kok pak Sea...mungkin bahasanya RDPD, kl udah
ktm tujuan akhirnya, kita bisa menjadi apa saja yg kita inginkan...

seperti kenapa berbisnis? kl udah ktm jawabnya, tinggal nyari gimananya...

Sedikit memodifikasi topik ini, "Peluang Menuju Kebaikan Berserakan di mana2..."

Mengenai siapa yg bisa ngasih wejangan saya cuma berpegang pada prinsip:
"biar keluar dari (maaf) pantat ayam, kalo itu telor (kebaikan), harus
kita ambil..."

Jadi gak usah nunggu orangtua...

Kalo boleh berbagi, 3 bulan terakhir ini sy mendapat beberapa why yang
sangat paten berkenaan dg kebiasaan hidup dan spiritual, bukan dr
orangtua atau guru tp dr internet...

Kan ada Simbah Google....

reborn,
Muflih Agus Ahmadi

Anonim mengatakan...

Sdr Ina,
Boleh.. Bukankah dengan baca sharing di blog saya ini juga bisa membuka kesempatan. Minimal ada inspirasi yang didapat.

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Fahmi,
Saya senang sekali kalau ada yang memperoleh manfaat dari tulisan saya. Itu memang tujuan saya. Kalau anda berkesempatan bersilaturahmi di tempat saya, saya tunggu di hari kerja di tempat saya. Alamat saya bisa dilihat di www.manetvision.com/info.htm.

Terima kasih. Sampai ketemu,

Wassalam,

Roni

Anonim mengatakan...

pagi pak roni, kalau boleh tahu nama dan alamat pak haji yang bapak ceritakan itu

terima kasih

eko

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Eko,
Maaf, mengenai data pribadi beliau tidak bisa saya beritahukan karena
menyangkut privasi beliau.

Salam

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Betul, Pak Suherman,
Intinya, kita mau fokuskan perhatian di mana? Fokus pada masalah atau
peluang. Tadi malam saya ketemu lagi dengan Haji A. Tak satu pun saya dengar
keluhan dari beliau mengenai keadaan sulit saat ini. Yang ada adalah
peluang, peluang dan peluang. Luar biasa.

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Sea,
Keberuntungan itu diperoleh karena usaha. Saya selama ini memang membina
hubungan baik dengan beliau.

Beliau ini bukan hanya guru bisnis buat saya. Sebenarnya nuansa agamis
beliau lebih tinggi daripada bisnis. Tadi malam, saya jalan-jalan dengan
beliau di Mal Taman Anggrek. Waktu mencari tempat makan, hampir setengah jam
kami mutar-mutar untuk mencari tempat makan yang halal. Saya ajak ke food
court yang ada masakan Padangnya pun beliau masih ragu dengan kehalalannya.
Akhirnya diputuskan untuk makan di McD yang sudah jelas kehalalannya.
Mungkin seperti itulah contoh manusia yang benar-benar menjaga diri dan
Tuhan pun memberi rizki yang banyak kepada orang yang seperti ini.

Anda bisa temukan orang seperti ini di mana-mana. Di milis, internet, banyak
orang-orang seperti ini bertebaran. Kemudian, minta mereka menjadi guru atau
pembimbing anda. Saya pernah melakukannya. Dengan pede, saya minta Pak Tung
DW menjadi pembimbing saya dan tanpa disangka, beliau bersedia. Ask, then
you will receive.

Salam,

Anonim mengatakan...

Wah boleh dong Pak Roni, ajak2 kita nih...
saya ngintip pun belum bisa...

salam sukses.

Cheers/Agung

Badroni Yuzirman mengatakan...

Diajak ke mana pak? Saya kan belum ke mana-mana. He..he..he..

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Setuju Pak Muflih,
Kalau bisa judulnya begini: "Penebar Kebaikan Berserakan di Mana-mana".
Tergantung bagaimana mengidentifikasi dan mau memetiknya. Boleh tahu guru
spiritual anda di internet itu pak?

Terima kasih.

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Sdr Ina,
Boleh.. Bukankah dengan baca sharing di blog saya ini juga bisa membuka kesempatan. Minimal ada inspirasi yang didapat.

Salam,

Roni

Anonim mengatakan...

Yth. Mr. Roni
Dengan mengunjungi blogspot pribadi anda, banyak inspirasi dan
pencerahan yang saya pribadi dapatkan (dan tentunya dari teman yang lain
juga). Mulai "jebaj\kan biaya tetap, silaturahmi rejeki dll)
saat ini aktifitas bisnis saya adalah mendistribusikan produk edam burger
untuk wilayah bandung raya. Namun terus terang, saya tidak merasa aman
dengan passive income yang saya dapatkan dari bisnis tersebut, dikarenakan
banyak faktor, salah satunya karena sistem bisnis (franchise ?) yang
diterapkannya. karena besaar kemungkinan kita sebagai pemegang hak
distribusi akan digantikan oleh yg lain apabila tiba waktu berakhirnya hak
distributor tadi (3 tahun)a, padahal kita yang sudah membangun pasar dari
nol sampai sekarang omset rata-rata hampir 6000 roti per hari.
Saat ini, saya ingin mempunyai bisnis sendiri (business owner), namun
masih bingung bidang apa yang cocok, tadinya saya berpikir mungkin bisnis
makanan adalah bidang yang tepat, namun ternyata setelah saya perhatikan
lebih lanjut ternyata yang tepat bukan makanannya, namun justru bidang
DISTRIBUSI.
Untuk itu, sebagai tanda awal perkenalan kita. mohon bpk. Roni bersedia
untuk meluangkan waktu berbagi informasi, kiranya bisnis apa yang bisa
saya jalankan di Bandung Raya ini, atau apabila memungkinkan kiranya Bpk.
Roni bisa membuka peluang untuk berbisnis dengan saya.
Mengenai Kejujuran, keuletan dll, Insya Allah itu sudah menjadi komitmen
saya.
Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya yang baik.
Wassalam
Erman Suryanegara (SURYA)

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Surya,
Menurut saya anda sudah berada di bisnis yang tepat. Makanan. Saya sendiri,
kalau ada kesempatan berminat membuka usaha makanan. Anda sudah berada di
jalur yang tepat menurut saya.

Mengenai masalah aturan main dengan pemegang merek, saya kurang tahu bentuk
perjanjian awalnya seperti apa. Kalau ada perjanjian yang jelas, terutama
mengenai pengembangan ke depan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak,
tentunya anda tidak perlu risaukan. Kalau tidak jelas, mungkin nanti ada
permasalahan di kedua belah pihak, termasuk mengenai etika bisnisnya.
Karena, kedua belah pihak ingin lebih maju dan maju lagi. Pada titik
tertentu akan terjadi masalah, tentunya.

Seorang teman saya yang konsultan bisnis pernah memberi saran kepada saya
ketika saya menyatakan minat untuk mengambil salah satu usaha franchise
kecil-kecilan. Menurut dia, kalau saya ambil, maka saya akan jadi 'tuyul'nya
franchisor, alias anak buah atau sub ordinat. Kenapa tidak bikin sendiri
saja? Jadi kita bisa memelihara banyak 'tuyul', katanya. Mungkin
perkataannya sekedar gurau saja. Tapi, saya pikir ada benarnya. Anda paham
maksud saya?

Mengenai kerja sama, pada dasarnya saya terbuka dengan siapa saja. Insya
Allah, kalau Tuhan mengijinkan kita bisa bekerja sama. Tapi dalam bidang
apa?

Wassalam,

Roni

Hantiar mengatakan...

Lama mengamati Blog-nya sahabat saya Pak Roni membuat semakin tak tertahankan rasa gatal untuk mengomentarinya. Bisnis menurut saya adalah sense. Sense diasah dengan mind, social, culture dan habit. Pak Roni menurut saya benar2 piawai dalam menggabungkan itu semua dan mentransformasikannya menjadi bentuk bisnis yang konkret, efisien dan berdaya serap tinggi. Mungkin dibekali dengan culture-nya beliau yang berasal dari salah satu suku di Indonesia yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam berdagang, Padang, menambah khazanah ketajaman sense of businessnya. Tapi ah tidak juga ya pak, pandangan primordial kultur kesukuan seperti ini sering membuat sempit pikiran kita yang akhirnya menggiring kita untuk menjadi pesimistis (mediocre). Saya ber-khuznudzon kepada Allah bahwa Dia menciptakan manusia dengan berbagai keunggulan dan kelebihan.

Berkaitan dengan cerita tentang jatuh bangunnya membangun sebuah pondasi bisnis, saya punya pengalaman yang kurang lebihnya sama. Bisnis saya seperti matahari, kadang terang benderang dan kadang gelap gulita ketika sudah masuk keperaduannya. Tiap tahunnya selalu ada senandung suka dan duka. 2004 kemarin adalah puncak prestasi saya. Dengan membukukan total omset sebesar 1.8 miliar setahun bagi saya itu adalah pemasukan yang besar sekali untuk sebuah perusahaan jasa konsultan yang saya miliki dengan rata2 keuntungan bersih sebesar 30% perkontrak. Masuk ke tahun 2005, mulai terdengar kidung duka dalam bisnis saya. Diawali dengan tergiurnya saya untuk bergabung kedalam perdagangan mata uang asing dunia atau forex mebuat kondisi keuangan saya terjun bebas. Hanya dalam waktu 3 bulan total uang yang saya habiskan sebesar 100jt hanya untuk bermain forex. Diikuti dengan dibatalkannya 2 kontrak proyek saya disebuah Instansi Pemerintah membuat bisnis saya benar2 terkapar di titik nadir.

Tapi benar kata Bung K. Ihsan, Jatuh dan bangun dalam bisnis itu biasa, tapi bangkit lagi dan berhasil itu baru luar biasaa. walaupun dengan energi yang juga luar biasa besarnya. Tapi alhamdulillah, energi itu selalu saja ada yang memberi dorongan, dan Bung Roni adalah salah satu kontributornya.

Wassalam,
Abdul Rahman Hantiar

Badroni Yuzirman mengatakan...

Sahabatku Hantiar,
Gagal, bangkit lagi. Gagal lagi, bangkit lagi. Itu baru luar biasa. Gagal kalau sebabnya berbeda, sih oke-oke aja. Tapi kalau gagal karena alasan yang sama, itu baru masalah. Nggak belajar dari kesalahan namanya. Sebenarnya tidak ada istilah gagal, yang ada adalah belajar.

Terima kasih,
Wassalam,

Roni

Anonim mengatakan...

Terima kasih-terima kasih, jadi bukan usianya yang tua
tapi pengalamannya lah yang mencirikan bahwa orang-orang ini sudah "tua"
Sekali lagi terima kasih ... Alhamdulillah do'a saya ada sedikit dijawab ...
Jadi untuk sekarang saya tarik nafas agak panjang dulu ... Amin.

[sea]

Anonim mengatakan...

Kunci utk menebar kebaikan salah satunya adalah jika kita sdh tdk disibukkan
dengan "mencari uang" (uang/sistem yg menghasilkan uang bekerja untuk kita)
atau ada yg mengatakan bebas finansial, pada saat itulah kita bebas untuk
berbuat kebajikan (membuka banyak lapangan kerja, membangun panti yatim,
membangun yayasan sosial, dll), 70-80 % sahabat yg dijamin masuk masuk surga
adalah para konglomerat dijamannya, shg cita-cita/imagine/gol kita adalah
agar kelak bisa menjadi orang kaya yg mampu memberikan manfaat bagi orang
lain sebanyak-banyaknya. Semoga Alloh membimbing Power of our think.

Agus

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Sea, Pak Agus, senang sekali saya mendapat respon dari anda.

Pak Sea, siapa yang anda maksud "orang tua" di sini? Saya? Wah, masih jauh
tuh.
Menurut saya, "orang tua" di sini adalah yang levelnya sudah "wise",
sehari-harinya dia sibuk membagi, tidak lagi menambah dan mengalikan. Saya
masih sibuk menambah dan mengalikan, dan belum wise... Makanya saya banyak
"menempel" kepada orang-orang yang berkualitas seperti ini. Jadi, minimal
saya punya visi ke depan, kalau kaya nanti modelnya seperti ini yang patut
saya tiru.

Teringat lagi saya kata-kata Pak Haji A lusa malam. Dia mengutip doa dari
Ali bin Abi Thalib ra,"Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku,
tapi jangan di hatiku". Menurut beliau, dunia ini harus kita kuasai. Kita
harus kaya. Tapi, jangan sampai dunia ini mendominasi hati kita. Hanya Tuhan
yang pantas mendominasi hidup kita.

Wassalam,

Roni

Anonim mengatakan...

Thanks U Mas Roni atas balasannya. Mungkin kapan2 nanti kita bisa share of experience somehow ! segera nanti ane kontak ente.

NB. Ane Lelaki tulen loh MAs

Dhany Cahya

Hantiar mengatakan...

Wah saya suka sekali tuh pak dengan istilah membagikan. Mungkin benar juga, kalo kita sudah "tua" dalam arti lahir dan batin, keinginan yang ada hanya untuk membagi. Kepada orang2 yg membutuhkan, insha allah. Tapi banyak juga lho pak orang2 "tua" yang gak tau diri. Tambah tua penambahan dan pengaliannya tambah njlimet sampe2 pake kuadrat. Sehingga lupa untuk melakukan pembagian, karena terlalu sibuk ngitung yang kuadrat2. Semoga kita termasuk golongan yang selalu ingat rumus pembagian

wassalam
Hantiar

Anonim mengatakan...

saya rasa yg dimaksud pak muflih adalah, apa betul,
harus memakai atau memiliki guru atau pembimbing dalam
berbisnis? sebab, saya mendapat kesan dari posting2
terakhir yg saya baca seolah2, memiliki mentor atau
pembimbing bisnis merupakan faktor yg krusial dalam
menentukan kesuksesan berbisnis. saya agak tergelitik
ikut memikirkannya.

Belajar dalam arti luas, tentunya bisa dari siapa
saja, bahkan dari apa saja. Dari orang tua,
competitor, temen, pengalaman, buku, internet, dst.
Dalam pandangan spt itu, tentunya semua orang sepakat
berguru itu wajib. Tapi belajar secara khusus dari
seseorang untuk menjadi penasihat bisnis kita, saya
rasa bisa jadi debatable. Dari sudut pandang pertama,
sifatnya dialogis, yg kedua sifatnya paternalistik.
Ini pendapat pribadi lho, sangat mungkin pengalaman
tiap orang akan menunjukkan hal yg berbeda.


wassalam,


bagus arianto

Anonim mengatakan...

semoga temen2 tdk salah memahami berbuat kebajikan.....
"""jalan untuk berbuat kebajikan berserakan dimana-mana""
gak usah nunggu apa2 lagi, gak usah nunggu kaya.....nanti sore kita mati,
who knows?

Guidances nya udah jelas :
Bekerja keraslah utk duniamu seakan engkau akan hidup sepanjang masa
dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan kau akan mati esok hari

Cecep R

Badroni Yuzirman mengatakan...

Sdr. Yoni,
Maaf, saya belum menerima emailnya. Coba ulang lagi email saya di roni@manetvision.com.

Wassalam,

Roni

Anonim mengatakan...

Yach betul pak, berbuat baiklah mulai sekarang dalam kondisi apapun, lapang
atau sempit, it's clear.

Hanya semangat "berwirausaha" (mungkin bisa dibaca semangat menjadi kaya)
hendaknya juga disisipi maksud/tujuan/visi/goal setting agar dengan
kekayaannya bisa banyak yg diperbuat untuk orang lain, di negara "miskin"
ini kita butuh banyak orang kaya/pengusaha kaya/konglomerat jujur yang
dermawan. Kita butuh banyak figur Abu Bakar Sidiq, Umar Ibnul Khattab,
Utsman Ibnu Affan, Thalhah Bin Ubaidillah, Azzubair Ibnul Awwam, dan
Abdurrahman Bin Auf bukannya Tsa'labah, Qorun, para konglomerat hitam,
perampok BLBI, pengusaha kotor, dll.

Ketika goal settingnya jelas maka kita akan hati-hati dalam proses
mencapainya (misal menghindari suap/sogok/risywah dalam usaha), maka Insya
alloh tujuan tercapai (kaya yg barokah yg mampu menuai amal), tapi kalau
prosesnya "gak beres" maka mungkin tujuan kaya tercapai tapi gak barokah
(jadi kikir, kekayaanya utk bermaksiat dll) atau usaha menjadi gagal (sbg
"peringatan/pesan/perlindungan/nasehat" dari Alloh).

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami
berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan
mereka di dunia itu tidak akan dirugikan (bahasa jawanya diujo). Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah
di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa
yang telah mereka kerjakan" (QS. 11:15-16)

So.... PROSES itu PENTING, jangan berharap menghasilkan result yg baik kalau
prosesnya tidak baik.

agus s

Anonim mengatakan...

Yach betul pak, berbuat baiklah mulai sekarang dalam kondisi apapun, lapang
atau sempit, it's clear.

Hanya semangat "berwirausaha" (mungkin bisa dibaca semangat menjadi kaya)
hendaknya juga disisipi maksud/tujuan/visi/goal setting agar dengan
kekayaannya bisa banyak yg diperbuat untuk orang lain, di negara "miskin"
ini kita butuh banyak orang kaya/pengusaha kaya/konglomerat jujur yang
dermawan. Kita butuh banyak figur Abu Bakar Sidiq, Umar Ibnul Khattab,
Utsman Ibnu Affan, Thalhah Bin Ubaidillah, Azzubair Ibnul Awwam, dan
Abdurrahman Bin Auf bukannya Tsa'labah, Qorun, para konglomerat hitam,
perampok BLBI, pengusaha kotor, dll.

Ketika goal settingnya jelas maka kita akan hati-hati dalam proses
mencapainya (misal menghindari suap/sogok/risywah dalam usaha), maka Insya
alloh tujuan tercapai (kaya yg barokah yg mampu menuai amal), tapi kalau
prosesnya "gak beres" maka mungkin tujuan kaya tercapai tapi gak barokah
(jadi kikir, kekayaanya utk bermaksiat dll) atau usaha menjadi gagal (sbg
"peringatan/pesan/perlindungan/nasehat" dari Alloh).

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami
berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan
mereka di dunia itu tidak akan dirugikan (bahasa jawanya diujo). Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah
di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa
yang telah mereka kerjakan" (QS. 11:15-16)

So.... PROSES itu PENTING, jangan berharap menghasilkan result yg baik kalau
prosesnya tidak baik.

agus s

Anonim mengatakan...

Pak Roni,

Saya telah membaca blog bapak mengenai business internet yang bapak lakukan dari rumah dan berhasil.
Bisakah saya mendapat cerita lebih lengkap Pak, supaya saya bisa mencoba model yang sama juga?
Terimakasih sebelumnya Pak.

salam,
~kambang

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Kambang,
Terima kasih atas tanggapannya. Sebenarnya cerita saya sudah saya sharing di blog saya dalam beberapa tulisan terpisah. Sebenarnya bukan ilmu teknis internetnya yang penting. Tapi ilmu bisnisnya. Ini yang saya dapat dari pengalaman jatuh bangun, baca buku, ikut seminar, dibantu mentor dll.

Mungkin cerita yang agak lengkap bisa dibaca di situs majalah pengusaha: http://pengusaha.rad.net.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=75&mode=thread&order=0&thold=0

Terima kasih,

Salam,

Roni

Anonim mengatakan...

pagi pak, bagaimana kalau pak haji yang bapak maksud kita undang saja sebagai pembicara di eu yang waktunya bisa kita atur kemudian, supaya kita bisa belajar dari beliau,

eko s

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Eko,
Saya belum tahu, ya. Dia mau atau tidak. Maklum, dia orang lapangan, orang
pasar. Jadi mungkin kurang pas kalau bicara di depan orang banyak.
Pendidikannya pun hanya setingkat lebih tinggi dari Andrie Wongso. Mungkin
untuk bicara di depan seminar, dia belum pas menurut saya.

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Bagus,
Menggunakan mentor itu menurut saya merupakan strategi bisnis. Dalam memulai
bisnis, lebih baik mana, mulai dari nol atau mencangkok dari yang sudah ada.
Saya lebih senang mencangkok. Jadi mengurangi risiko jatuh bangun dan sakit.
Dengan bantuan mentor, kita seolah-olah mencangkok dalam berbisnis.

Saya pernah mengalami jatuh bangun berbisnis dari sejak kuliah tahun 1992.
Bisnis MLM, buka pabrik roti, komputer, sekolah komputer, kayu, semuanya
nggak pernah berhasil. Apa sebabnya? Sudah pasti saya memang kurang ilmunya.
Tapi satu lagi penyebabnya, saya tidak ada pembimbing.

Belajar dalam arti luas. Tentu saya sudah praktekkan. Alam terkembang jadi
ilmu, demikian falsafah nenek moyang yang masih relevan sampai kini.

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Agus,
Saya teringat cerita Aa Gym mengenai 3 orang yang tersesat di hutan. Tiba2
datang hulubalang kerajaan yang membawa 3 ekor kuda untuk masing-masing
mereka. Kuda itu hadiah dari raja, katanya.
Orang pertama berkata,"Asyiiiik kudanya bagus sekali. Gagah." Dia pun
langsung asyik dengan kudanya.
Orang kedua berkata, "Wah, rajanya baik sekali, tolong bilang sama raja,
terima kasih ya."
Orang ketiga berkata, "Apa maksud raja memberikan kuda ini? Mungkin raja
ingin saya supaya dekat dengannya."

Kesimpulannya: Orang ketiga inilah yang tahu cara bersyukur dan menggunakan
amanah dari raja itu sebagai sarana baginya agar bisa lebih dekat dengan
raja. Jadi, harta, kekayaan, ilmu, dan semua nikmat lainnya itu diberikan
Tuhan kepada kita sebagai sarana untuk mendekat kepadaNya.

Wassalam,

Roni

Anonim mengatakan...

Pak Roni,

Kalau menurut saya justru sebaliknya Pak. Pesona "orang pasar" (street
smart) terkadang jauh lebih diterima publik daripada orang sekolahan..
mereka berbicara dari hati dan pengalamannya sendiri....barangkali Pak
Roni tahu Pak Made, pemilik Edam, juga orang lapangan namun justru
lebih menarik "ceramahnya" sewaktu presentasi bareng Pak Rheinal K...
Barangkali boleh dicoba dulu Pak....kalau memang kurang confortable di
forum resmi spt di kelas EU bisa kumpul2 di restoran mana/tempat lain,
yg datang saweran saja,yg ini justru lebih merasuk...
Bola-nya Pak Roni ini memang "panas", huh...!!

Hasan

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Hasan,
Saya ditodong, nih. Oke, saya akan tanya dulu sama beliau. Kalau beliau
bersedia, akan saya kabari.

Salam,

Roni

Anonim mengatakan...

Salut dengan pemikiran P'Roni, istilah 'mencangkok' nya bapak mungkin bagi saya sering saya ilustrasikan dengan kasus "Reinventing The Wheel".

Memulai bisnis dari nol bukan hal yg jelek koq, hanya saja jika terdapat bisnis yang jalanannya telah dipasangin plang2 penunjuk jalan kan lbh terarah, apalagi jika mempunyai pembimbing yang pengalaman.

Dalam kasus yang sama, (sekedar sharing) saya pribadi adalah trader saham yang berinvestasi di stock market. Pada awalnya sebagai pemula saya hanya asal invest, denger rumor sana sini utk masuk pada stock tertentu yang dibilang bagus. Setelah mengalamin berbagai kerugian, saya berpikir kenapa saya tidak 'mencangkok' cara trader sukses ??, akhirnya saya ikut seminar, pelatihan yg berhubungan, dan tiba2 saja saya berada di jalan yg penuh penunjuk arahnya.

Mari kita pungut bersama-sama uang yg berserakan dimana-mana tsb

Regards


Santo honk

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Santo,
Itu bukan murni pemikiran saya pak, ide itu saya cangkok juga dari guru
saya. Guru saya juga mencangkok dari gurunya juga. Jadi saling mencangkok
alias nyontek. Di sekolah, nyontek itu salah. Kalau dalam bisnis, nyontek
itu bisa bikin kaya.

Satu lagi, dalam hal mencangkok, cangkoklah dari sumber yang terbaik. Selalu
yang terbaik. Soalnya, kalau bukan yang terbaik, biasanya selalu ada
masalah. Habis waktu kita. Dalam berguru, bermitra, dll, selalu cari yang
terbaik, atau tidak sama sekali. Demikian yang diajarkan guru saya.

Salam,

Roni,

Anonim mengatakan...

Kalo kita tidak bisa menjadi pohon besar
yang memberi teduh dan manfaat pada sekitarnya...
Jadilah rumput yang hijau
yang memberi kesenangan bagi yang memandangnya
Atau setidaknya seperti pohon pisang......
yang tidak akan mati sebelum memberi manfaat
bagi sekitarnya...

Dan jangan kuatir rekan2 Q4 juga sudah banyak bermanfaat buat saya,
memotivasi saya, dan memberi banyak hal pada saya dan saya doakan agar hal
ini menjadi kebaikan buat kita semuanya.
Spesial pak Roni thanks atas artikelnya "Instant Cash Flow" dan saya masih
mancari bukunya Roger ttg street smart tapi belum ketemu

Faithfully,
Joko S Gresik

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Joko,
Setuju, pak. Tuhan menciptakan mahluknya tidak sia-sia. Pasti ada maksudnya.
Pasti ada misinya. Cacing tanah saja ada misi dan manfaatnya, menyuburkan
tanah. Masak manusia tidak? Maka, jadilah pohon besar, rumput hijau atau
pohon pisang yang memberi manfaat meskipun dia tidak diberi kemampuan untuk
bergerak.

Cak Nun pernah menulis, sebagai manusia, di mana posisi kita? Dalam istilah
Islam ada yang hukumnya wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram. Jadilah
orang yang posisinya wajib, artinya keberadaannya sangat dibutuhkan bagi
lingkungannya. Atau minimal sunnah. Tapi jangan sampai kita punya posisi di
masyarakat sebagai orang yang haram. Yang keberadaannya merugikan
lingkungan. Yang didoakan oleh orang lain supaya cepat mati!

Keberadaan Q4, anda, saya, dan rekan-rekan lainnya di sini. Mudah-mudahan
bermanfaat. Insya Allah.

PS. Sudah coba cari di situsnya gramedia? Kalau tidak ketemu juga, insya
Allah akan saya carikan di Gramedia dana akan saya kirim ke alamat anda.
Soalnya, saya yang memprovokasi anda untuk membeli.

Wassalam,

Roni,

Anonim mengatakan...

Terima kasih, Pak Roni.

Tapi, tidak sesederhana itu. Bohong kalau semunya tiba-tiba jatuh dari
langit. Ada proses. Jatuh bangun. capai, pusing, sakit, ditipu, ragu.
Ada afirmasi. keinginan. harapan. kesabaran. bersyukur dan doa akses
energi. Ada Iqra. membaca pola dan momentum.

Jika tertarik, kapan2 saya ingin share dengan temen2 Q4 di OmahSendok,
jl taman empu sendok 45.

Semuanya dari Allah, Pak. Dan kita akan kembalikan semua yang kita
dapat dan mempertanggungjawabkannya kepada yang Maha Esa.

Selamat tahun baru 2006,

Wasis

Anonim mengatakan...

Dear P roni dan p Santo,

saya sepakat bahwa belajar dari orang lain bukan hal
yg buruk (bahkan belajar dari kegagalan orang lain pun
termasuk). termasuk mengambil mentor. ibarat sekolah,
adakalanya belajar privat tambahan bisa membantu
prestasi belajar di sekolah (meski adakalanya
menimbulkan ketergantungan). tapi orang memiliki
kondisi yg berbeda2. adakalanya orang memiliki
kesibukan2 lain sehingga tidak sempat mengambil
mentor, atau memiliki pemikiran lain ttg perlunya
mengambil mentor, dst. ada teman yg lebih percaya diri
belajar sendiri daripada memilih privat tambahan,
cukup pelajaran di sekolah dan belajar sendiri.


analogi yg saya pakai barangkali tidak tepat, karena
sangat tergantung sudut pandang yg kita pakai. tapi
intinya adalah, saya tidak sepakat untuk berbisnis
harus memakai mentor. belajar bisa dari siapa saja,
tidak harus orang yg berhasil. dari kegagalan orang
lain pun, banyak pelajaran yg bisa dipetik.


ttg kegagalan yg pernah dialami pak roni, atau pak
santo, saya yakin banyak penjelasan yg bisa dirunut.
bisa jadi bidang yg anda masuki sebelumnya sudah
sangat tinggi tingkat kompetisinya, sehingga untuk
masuk perlu persiapan yg sangat matang. saya liat
bidang yg anda masuki sekarang ini relatif lebih
longgar. tapi saran saya, jangan mudah terlena, profit
yg tingggi selalu akan mengundang kompetitor untuk
masuk, dimana akan mengikis profit.

sekali lagi, point saya adalah, mudah2an tidak ada
pemikiran bahwa untuk berbisnis anda harus punya
mentor terlebih dulu. atau, untuk sukses berbisnis,
harus punya mentor. karena pemikiran spt ini menurut
saya bisa mendiscourage calon2 ntreprenuer baru.
demikian sekelumit pendapat saya, mohon maaf kalau ada
yg tidak berkenan.


wassalam,

bagus

Anonim mengatakan...

Dear,

Saya rasa pendapat pak bagus juga tidak berseberangan ama pendapat P'Roni ataupun pendapat entreprenuer lainnya.

Mentor dalam pembahasan dan keberhasilan pak Roni, kebetulan secara fisik adalah P'Tung DW, namun saya rasa kita tidak membatasi sosok mentor adalah sesuatu berbentuk.

Saya yakin bahwa milis kita ini juga telah menjadi sosok 'mentor' bagi beberapa member, informasi yang terkandung dalam setiap pembahasan, setiap solusi dan permasalahan merupakan akumulasi dari pengalaman para member yang sharing. Dan buat saya hal tersebut jg merupakan mentor bagi yang bisa memanfaatkannya.

Contoh bentuk fisik lainnya adalah, dulu dijaman kuliah 'mentor' saya adalah David J Scwartz dan Dale Carnegie dalam bentuk buku2 mereka.

Tanpa maksud mendiscourage calon entreprenuer, saya yakin dalam prosesnya mereka akan mendapatkan pengalaman jatuh bangun berulang kali, yang mana justru hal tersebut menjadi 'mentor' kita bersama. Ingatlah satu-satunya kegagalan hanyalah pada saat kita berhenti mencoba

Saya jg setuju soal istilah ketergantungan dari P'Bagus, sbg entreprenuer kita kadang underestimate diri sendiri dibandingkan dengan profil sukses lainnya yg lebih besar, sehingga pada saat kita 'down', kepercayaan diri kita terkikis tajam, dan secara tak sadar kebutuhan akan pelarian meningkat. Nah bagaimana jika sosok 'mentor' yang suka memberikan solusi yg kita butuhkan pada kita, pada saat itu not available ??

Semua kembali ke diri masing2, dan jangan takut jatoh bangon, karena seperti kata pak bagus, buanyak sekali pelajaran yg bisa dipetik, dan itu akan menjadi 'private mentor' kita di masa depannya.

Regards dari orang yg masih juga jatoh bangun di jalanan tanjakan penuh lobang hehehehe

Santo honk

Badroni Yuzirman mengatakan...

Pak Santo dan Pak Bagus,
Sebenarnya kita sudah ada titik temu, yaitu sama2 setuju bahwa kita harus
BELAJAR. Itu saja. Mengenai apakah harus pakai mentor, atau trial and error,
adalah pilihan atau strategi. Cuma, saya amati, orang2 yang sukses itu pasti
di belakangnya ada figur yang membimbingnya, baik itu di dunia bisnis, olah
raga, sastra, militer, kepemimpinan, seni, dll. Dalam agama, kalau kita
ingin sukses dunia akhirat, kita harus mencontoh mentor kita, yaitu nabi.

Soal ketergantungan? Dengan mentor, saya pastikan tidak. Banyak murid bahkan
lebih sukses daripada mentornya.

Salam,

Roni

Badroni Yuzirman mengatakan...

Boleh, Pak Wasis. Saya tertarik. Mungkin kita bisa saling belajar dan
sharing. Bagaimana dengan teman-teman yang lain?

Salam,

Roni

Anonim mengatakan...

Rekans,
Menurut saya pribadi...... keinginan belajar itu datangnya dari diri
sendiri...... mentor, buku, seminar, workshop, reality show di TV, bahkan
perilaku hewan.... bisa menjadi inspirasi...... bisa menjadi sarana untuk
belajar...... tapi kemauan belajar ada dari diri sendiri..... bukan dari
orang lain...... saya kenal banyak orang yang bisnisnya berjalan baik
dibawah bimbingan mentor....... tapi saya juga kenal banyak orang berbisnis
baik yang tidak pakai mentor...... ada yang belajar dari alam, ada yang
belajar lewat berbagai buku..... ada yang belajar dengan menonton berbagai
acara reality show (dan bisa menghubung-hubungkan lesson-nya dengan
kehidupan)......
Dalam dunia pendidikan, kita mengenal berbagai tipe kecerdasan
anak/manusia...... yang terbentuk melalui sebuah proses belajar yang
panjang.... kebutuhan sarana belajar yang seperti apa, sangat terkait dengan
tipe kecerdasan bagaimana yang dominan pada diri anda..... ada orang yang
merasa nyaman ketika belajar dengan bimbingan/diskusi dengan orang lain.....
tapi ada orang yang justru lebih nyaman belajar sendiri...... ada orang yang
sangat naturalist, belajar dari alam, mampu menerjemahkan pelajaran alam
dalam kehidupannya.... ada orang yang sangat menghayati kata-kata tertulis
(bukan verbal), sehingga lebih mudah belajar lewat buku daripada diskusi
dengan mentor....... Tuhan memberikan begitu banyak keragaman pada manusia
dan alam..... sesuatu yang berhasil pada diri seseorang, belum tentu akan
berhasil juga pada diri orang lain...... namun belum tentu juga tidak
berhasil........

yang penting adalah "mengenali diri sendiri", mampu mengetahui apa yang
sebenarnya anda ingin lakukan di dunia ini....... that is the most important
thing..... sesudah itu anda akan bisa memikirkan, bagaimana anda melakukan
yang anda inginkan, dengan cara yang paling nyaman bagi diri anda.......
(dengan mentor, tanpa mentor, melalui buku-buku, pengamatan di alam,
mengikuti seminar, workshop, reality show di TV dll dll dll.....)

just a thought
don

Anonim mengatakan...

Setuju pak Roni, btw jika emang ada jodoh dan waktu, aku berniat belajar dari P'Roni nih.. kira-kira kapan saya bisa hubungi P'Roni untuk berdiskusi lbh jauh ? (nodong neh hehehhe)

Regards

Santo Vibby

Karl Hiunzm mengatakan...

Hai, Di antara banyak blog yang saya lawati hari ini, blog anda antara yang hebat. Saya akan bookmark blog anda!

Saya ada tips cara malas jadi kaya. Peluang dan tips cara malas jadi kaya di sini.

Lawatilah bila ada masa lapang :-)

Anonim mengatakan...

This is very interesting site... Feline acyclovir video cards using adderall for weightloss land rover warranty Construction recruiters network Bondage estremo 2 radios im auto lesbo immagini Interracial dating between black men and white women Field hockey stick bags maduras lesbianas Testing your graphic cards online acyclovir ointment lesbian + first time

Poskan Komentar

Business and Beyond by Badroni Yuzirman ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO